Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 50


__ADS_3

"Apa lagi yang kamu pusing kan Fahri? Kamu adalah tangan kanan pak Dimas, kamu juga di lakukan dengan layak di sini, kenapa kamu masih memasang wajah sedih seperti itu?" tanya Mereka.


"Bukan tentang pekerjaan."


"Apa tentang perempuan?"


Fahri mengangguk.


"Katakan siapa yang berani menyia-nyiakan anak kesayangan pak Dimas? Perempuan itu harus di kasih paham!" ucap teman-teman nya.


"Sudah lah tidak ada gunanya aku bercerita di sini, aku hanya memikirkan satu perempuan yang tidak mungkin aku miliki karena saingan nya sangat berat." ucap Fahri.


"Saingan nya siapa?" tanya Mereka semakin kepo.


"Kalian yakin mau tau?" tanya Fahri.


Mereka mengangguk sangat penasaran sekali.


"Tidak perlu kalian tau." ucap Fahri.


Semua nya menghela nafas panjang.


"Aku pikir laki-laki dingin seperti kamu tidak akan tertarik kepada perempuan."


"Lalu menurut kamu aku suka laki-laki?" tanya Fahri.


"Ya gak gitu juga, hanya saja tidak mungkin wanita tidak mau sama kamu."


Fahri menghela nafas panjang dia tidak tau harus bagaimana.


Dua hari sebelum hari ulang tahun Dimas. Bela melihat Dimas dua hari ini sedikit cuek dan juga sering pula terlalu larut malam.


"Ada apa sih dengan pak Dimas? Kenapa tiba-tiba pak Dimas sangat cuek?" tanya Bela kepada Bibik.


"Tidak apa-apa, mungkin tuan Dimas sedang lelah."


Bela menghela nafas panjang.


Karena sudah malam dia pun masuk ke dalam kamar nya karena Dimas juga sudah tidur di kamar.


Berbaring di sofa sambil memerhatikan Dimas yang memunggungi dia.


Keesokan harinya Bela mengantar makan siang untuk Dimas hari ini. Bukan karena tidak ada supir namun karena ingin bertemu dengan Dimas saja.


"Bela hari ini kamu ke sini? Baru saja saya mau ke rumah."


"Humm aku juga ke sini mau menemui mbak sambil mengantarkan ini." ucap Bela.


"Ya sudah kalau begitu kamu antar saja dulu, saya menunggu kamu di kantin."


Bela mengangguk dan langsung berjalan ke lantai tiga.


"Permisi Pak." Bela masuk ke ruangan Dimas yang ternyata tidak di kunci, dia melihat Dimas tidak sendirian di rumah melainkan bersama dengan Fani si anak magang baru itu.


"Saya mau mengantar kan makan siang bapak."


Dimas menoleh ke arah Fani.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak."


Fani tidak bekerja di sana melainkan hanya main handphone saja membuat Bela bingung, kenapa Anak magang sangat akrab dengan Dimas.

__ADS_1


"Kenapa kamu datang ke kantor? Supir kemana?" tanya Dimas.


"Saya ke sini karena saya ada urusan penting dengan mbak Serli pak."


"Oohh begitu, ya sudah kalau begitu bawa sini makanan saya."


Dimas tidak mengatakan apapun lagi dia langsung makan membuat Bela jadi sangat kesal melihat nya.


"Cih bisa-bisa nya dia tidak mengatakan terimakasih setelah aku datang capek-capek ke sini!"


Bela merasa sangat kesal sekali karena perlakuan Dimas akhir-akhir ini.


"Bapak kenapa sih dari kemarin mengabaikan aku? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Bela.


Dimas tidak menjawab nya.


"Bapak marah kepada saya karena apa?" tanya Bela.


Dimas terus melanjutkan makan tanpa menghiraukan Bela.


"Oke baiklah kalau ini yang Bapak mau, aku tidak mempermasalahkan nya." Bela langsung pergi meninggalkan Dimas.


Dimas menghela nafas panjang. Dia berhenti makan seperti memiliki banyak masalah.


Bela menyusul Serli ke kantin.


"Apa yang kamu lakukan kenapa sangat lama sekali?" tanya Serli.


"Maaf mbak, aku sangat kesal kepada pak Dimas."


"Loh kenapa?" tanya Serli sambil memberikan minuman.


Serli terdiam sejenak.


"Apa mbak Serli tau kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun." ucap Dimas.


Serli menggeleng kan kepala nya. "Aku juga tidak tau kenapa."


Bela terlihat sangat murung sekali.


"Sudah lah, pak Dimas emang selalu seperti itu, kamu tidak perlu sedih seperti itu."


"Huff bagaimana kalau nanti pak Dimas tidak senang kalau kita berikan kejutan ulang tahun?" tanya Bela sangat khawatir kalau kebaikan nya ditolak.


"Kita tidak perlu merayakan nya."


Serli mencoba menjelaskan apa yang harus bdi lakukan oleh Bela.


Sedikit demi sedikit Bela mulai paham.


Bela keluar dari kantin dan tidak sengaja bertemu dengan Dimas.


Dimas berhenti sejenak sambil melihat Bela namun Bela langsung melewati Dimas begitu saja.


Dimas kaget kenapa Bela langsung melewatinya.


"Huff emang nya bapak saja yang bisa bersikap cuek? aku juga bisa!" ucap Bela dalam hati.


"Pak! Pak!" panggil staf karena Dimas tiba-tiba diam sambil melihat Bela pergi.


"Iyah!"

__ADS_1


"Ayo kita pergi sebelum telat!" ucap Staf nya.


Dimas mengangguk mereka masuk ke dalam mobil.


Bela pulang di antar oleh supir seperti biasa.


"Pak apa kita boleh mampir di suatu tempat sebentar?"


"Tidak bisa mbak, karena mobil ini sudah di pasang GPS, kalau nanti kita ke tempat yang lain pak Dimas akan marah."


"Tidak perlu khawatir, bapak ikuti saja apa yang saya katakan." ucap Bela.


Supir mengangguk mereka berjalan ke arah yang lain.


Dimas mendapatkan notifikasi dia membuka aplikasi nya dan memantau mobil yang membawa Bela.


"Kenapa mereka ke sana?"


Dimas terus memantau sampai berhenti di sebuah toko yang tidak jelas toko apa.


Dimas awal nya sudah mau menghubungi supir nya namun setelah dari sana mereka langsung pulang.


Bela seharian di dalam kamar tidak ada yang tau dia ngapain namun pesan Bela agar semua orang tidak mengganggu nya.


"Huff walaupun bela ada di sini namun tidak terdengar suara nya terasa sangat sepi sekali." ucap Teman Bela.


"Sudah lah sebaiknya kita jangan bermalas-malasan, kita harus membersihkan taman belakang." ucap Bibik.


"Bik aku sudah sangat lelah, aku ingin istirahat."


"Pekerjaan di sini tidak Terlalu banyak dan melelahkan kenapa kalian sudah mengeluh saja?" tanya Bibik.


"Huff benar sekali kalau Bela tidak ada rasa nya sangat lesu dan sepi."


Di malam hari nya Dimas pulang.


"Selamat malam Tuan." sapa Bibik.


Dimas mengangguk.


"Di mana Bela?" tanya Dimas karena tidak melihat Bela di sana.


"Hum Bela, Bela di kamar Tuan, seperti nya dia baru mandi."


"Mandi? Kenapa sudah malam baru mandi?" tanya Dimas.


Bibik menggeleng kan kepala nya, Dimas langsung ke atas berjalan menaiki tangga.


"Loh kenapa di kunci?" Dimas mencoba membuka pintu namun pintu di kunci dari dalam.


"Bela apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mengunci pintu."


"Tunggu pak, saya sedang memakai baju."


"Kenapa harus mengunci pintu?" tanya Dimas karena ada ruangan ganti di dalam.


Tidak beberapa lama Bela membuka pintu setelah Dimas menggedor-gedor pintu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas.


"Aku baru saja selesai mandi," ucap Bela sambil menunjuk rambut nya.

__ADS_1


__ADS_2