
Dimas sadar Bela bangun.
"Saya membangun kan kamu? Saya akan mematikan musik nya."
"Enggak kok, musik nya Bagus. Aku jadi keinget masa-masa kecil dulu pak." ucap Bela sambil tersenyum.
Cukup lama Dimas duduk di sana setelah itu dia menyimpan nya kembali dan langsung tidur.
"Saya akan tidur di sofa." ucap Bela dengan suara yang sangat lemas, namun kenyataannya dia tidak pindah melainkan naik ke kasur memeluk bantal guling dan tidur.
Keesokan harinya Bela bangun dan melihat jam ternyata sudah jam sepuluh pagi.
"Ya ampun kenapa aku bangun siang?" tanya Bela kaget.
Bela melihat ke samping nya ternyata Dimas juga masih tidur membuat perasaan nya lega.
"Kenapa aku bisa tidur di sini? Perasaan tadi malam aku tidur di sofa." ucap Bela.
"Kamu sudah bangun?" tanya Dimas yang baru saja bangun. Bela menatap wajah Dimas.
"Terimakasih tadi malam kamu sudah membuat saya bahagia, dan malam itu tidak bisa saya lupakan," ucap Dimas.
Dimas membuka mata nya menatap Kania.
"Apa kamu masih ingat dengan pertanyaan saya tadi malam?" tanya Dimas.
"Pertanyaan apa Pak?"
"Apakah kamu mau menjadi pacar saya?" tanya Dimas. Bela terdiam sejenak.
"Saya tidak menerima penolakan!" ucap Dimas langsung.
"Iyah aku mau."
Dimas tersenyum dia memeluk Bela cukup erat sambil mengelus kepala Bela dan mencium nya.
"Sekarang kamu sudah resmi menjadi pasangan saya jadi jangan mencoba untuk dekat-dekat dengan pria lain."
"Apa aku juga bisa melarang Bapak untuk dekat dengan wanita lain?" tanya Bela.
"Tentu! Saya akan menjaga jarak dengan wanita yang mencoba mendekati saya."
"Humm bagaimana dengan anak magang itu."
"Fani?" tanya Dimas.
Bela mengangguk.
"Dia adalah anak magang, kenapa saya harus menjaga jarak dengan dia? dia hanya karyawan dan saya bos nya tidak ada hubungan khusus di antara kami."
"Itu hanya perasaan bapak saja, aku tau kalau anak magang itu memiliki perasaan sama bapak."
Dimas tersenyum. "Saya senang ketika kamu cemburu seperti ini."
"Aku tidak cemburu! aku hanya tidak suka saja."
"Baiklah saya akan menjaga jarak dengan dia agar kamu tidak cemburu lagi."
__ADS_1
"Apakah kamu bisa melakukan sesuatu untuk saya?" tanya Dimas.
"Apa pak?"
"Kamu belum pernah mencium saya, sekarang cium saya untuk pertama kalinya."
"Humm."
Bela langsung mencium pipi Dimas.
Kedua nya jadi sama-sama malu.
Waktu nya Dimas berangkat ke kantor, walaupun di hari ulang tahun nya dia tetap harus bekerja seperti biasa.
"Ekhem-ekhem!!!" tiba-tiba saja Serli masuk ke ruangan Dimas.
Dimas melihat ke arah Serli.
"Ada apa? Apa kamu sakit setelah membohongi saya dan mencoba membuat saya pulang malam demi semua rencana Bela berhasil? Apa kamu juga sakit tenggorokan setelah memberi tau semua nya kepada Bela?" tanya Dimas.
Serli menghela nafas panjang.
"Bisa gak sih pak di hari spesial itu bapak juga bertingkah spesial?" ucap Serli.
"Langsung saja ada apa?" tanya Dimas.
"Dari mulai masuk ke perusahaan saya melihat bapak seperti nya sangat bahagia, apa ada hal baik yang terjadi?" tanya Serli.
"Kamu sangat kepo! Sebaik nya kamu kembali bekerja!"
"Bapak sudah jadian yah sama Bela?" tanya Serli.
"Tenang saja pak, aku bisa menjaga rahasia dengan baik."
Dimas menghela nafas panjang.
"Saya minta maaf karena memberi tau semua nya kepada Bela, namun saya ingin membantu Bela yang ingin menyiapkan nya dengan baik karena saya tau Bela sangat lah tulus."
"Malam tadi saya cukup terkejut dan tidak terbiasa dan banyak hal yang membuat saya mengingat masa-masa dulu namun saya cukup berterima kasih kepada kamu, akhirnya saya bisa merayakan ulang tahun saya bersama orang yang saya cintai."
"Tuh kan benar apa tembakan ku, bapak mencintai Bela kan?" tanya Serli.
"Dari mana kamu tau?"
"Bapak Jangan salah paham, Bela tidak mengatakan apapun tentang Bapak, saya sadar dari sifat dan perlakuan Bapak seperti apa."
"Oh iya ini hadiah ulang tahun saya untuk Bapak, jangan di tolak pak karena saya sudah susah payah mendapatkan ini."
"Tiket nonton VIP?" tanya Dimas heran.
"Iyahh pak, bapak tau kan kalau Bela sangat suka Nonton dan Flim ini baru saja keluar, Bapak juga pasti suka, sebaiknya Bapak mengajak nya jalan untuk pertama kalinya setelah pacaran."
"Bagaimana kalau dia tidak mau? pagi tadi saja..."
Dimas mengingat tadi pagi Bela banyakan diam, bahkan tidak berbicara di saat dia pergi ke kantor.
"Itu hal biasa pak namanya juga awal-awal, di pasti sangat malu."
__ADS_1
"Oohh begitu."
"Oh iya selain itu Bapak juga harus bersikap romantis kepada Bela, jangan samakan seperti pacar bapak sebelum nya yang senang dengan kemewahan dan uang."
"Jadi saya harus melakukan apa?"
"Belikan dia bunga dan juga perlakuan baik sudah membuat nya cukup nyaman, oh iya satu lagi kalau sedang berdua bapak jangan kaku dan bersifat dingin." ucap Serli.
Dimas mengangguk. "Terimakasih bantu an nya."
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu pak."
"Tunggu dulu,"
"Iyah pak?"
"Kemana kamu membuat semua pelayan, security dan pengawal saya?"
"Oohhhh itu sudah saya kembalikan lagi pak."
"Lain kali kalau kamu mau melakukan hal seperti ini katakan ke pada saya!"
"baiklah pak."
Serli keluar dari ruangan Dimas, Dimas melihat tiket yang ada di tangan nya.
"Serli tidak perlu sebelum nya seperti ini, dan aku juga biasa nya tidak bingung harus bagaimana kepada pacar ku sendiri."
"Tapi ya sudah lah, sekarang perasaan ku sudah tenang, aku hanya mencari cara agar bisa menikahi nya dan. memiliki anak dari nya."
Sementara di rumah Bela di paksa duduk di ruang tamu dan di depan nya semua teman-teman nya termasuk Bibik.
"Ada apa sih? kenapa kalian semua menatap ku seperti itu?" tanya Bela.
"Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan."
Bela terdiam.
"Baiklah kami akan bertanya kepada kamu."
"Katakan dengan jujur kenapa kamu tadi malam tidak ikut dengan kami? Apa yang kamu lakukan di sini bersama Tuan Dimas?" tanya pelayan yang lebih muda.
"Humm tentang itu, aku tidak bisa meninggalkan rumah ini karena sudah tugas ku menemani pak Dimas."
"Oke tidak masalah, pertanyaan selanjutnya apa kamu merayakan ulang tahun pak Dimas sendiri?" tanya mereka.
Bela mengangguk.
"Kenapa kamu melakukan itu Bela? Apa pak Dimas marah kepada kamu?"
"Semua nya tidak perlu khawatir semua nya baik-baik saja."
"Tidak mungkin Bela."
Bela menghela nafas panjang.
"Percaya lah kepada ku, pak Dimas baik-baik saja."
__ADS_1
"Ini sangat mustahil, bisa-bisa nya aku baru tau kalau tuan Dimas ulang tahun dan kita di usir dari rumah." ucap teman Bela lagi.