
"Apa harus pergi menghabiskan waktu berdua dengan nya?" tanya Dimas.
"Apa kakak tidak pernah memiliki teman? Kami pergi nonton karena kami memiliki Flim kesukaan yang sama."
"Kamu selalu pandai membuat alasan!"
Bela menghela nafas panjang. "Baiklah aku minta maaf, aku rasa Kakak cemburu karena aku terus terang mengucapkan tanda terimakasih kepada Kevin, kalau kakak ingin hal yang sama aku akan melakukan hal yang sama, kita bisa pergi menonton sekarang."
Dimas menghentikan permainan nya, dia menoleh ke arah Bela. "Apa ini cara mu untuk membujuk ku? Percuma saja aku tidak akan mau di samakan dengan anak itu."
Bela duduk dia menunggu Dimas meredakan emosi nya terlebih dahulu, melihat nya memukul samsak sudah membuat nya merinding.
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan agar kakak berhenti marah," ucap Bela.
"Pikir kan saja sendiri," ucap Dimas.
"Aku akan memasak makanan kesukaan kakak, keluar lah dari sana," ucap Bela.
Dimas menggeleng kan kepala nya dan bodoh amat.
Bela tidak tahan menunggu lama, dia harus menyelesaikan semua nya dengan cepat akhirnya dia masuk ke dalam ring area latihan itu.
Dimas tidak menyadari nya dia melakukan tinjuan sangat keras sehingga samsak menabrak Bela sehingga Bela terjatuh ke lantai.
"Bela," ucap Dimas sangat panik dan kaget, dia membuka sarung tangan nya.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa masuk ke sini?" tanya Dimas.
"Auh... kepala ku sangat sakit sekali, pemandangan ku jadi tidak jelas," ucap Bela.
"Kalau begitu kita harus ke rumah sakit."
"Tidak perlu," bela menahan Dimas yang mau menggendong nya.
"Kita harus memeriksa nya, bagaimana kalau terjadi apa?" tanya Dimas wajah nya sangat khawatir sekali.
"Aku minta maaf, aku minta maaf karena tidak menyadari kamu di balik."
"Aku tidak harus ke rumah sakit, aku tidak apa-apa, tidak perlu sedih," ucap Bela sambil duduk tersenyum kepada Dimas.
"Itu tidak terlalu kuat mengenai aku," ucap Bela.
Dimas menatap Bela. "Apa-apaan ini? Apa kamu membohongiku?" tanya Dimas.
"Bukan seperti itu, itu juga sebenernya sakit hanya saja aku tidak merasakan nya, karena yang Kakak rasakan jauh lebih sakit."
Dimas menghela nafas panjang dia duduk sambil bersandar menatap Bela dengan tatapan dingin.
Bela melihat Dimas sangat berkeringat, dia menghapus nya dengan lengan baju nya yang panjang.
Dimas menatap wajah Bela dengan sangat dalam sekali.
"Aku sudah mencari tau latar belakang anak itu."
__ADS_1
Bela menatap Dimas.
"Siapa?"
"Pria yang pergi kencan pada hari itu."
"Huff berapa kali aku sudah bilang, kami tidak pergi kencan melainkan hanya ingin menonton saja."
"Dia lebih tua satu tahun dari kamu, dia juga anak dari orang kaya, dia adalah anak kedua, selain itu dia memiliki banyak kelebihan dia tanpan di sukai banyak orang termasuk kamu."
Bela tau alasan Dimas sangat marah dan cemburu. Dia merasa kalau Kevin bisa mengganti kan posisi nya.
Dimas selalu saja insecure dengan perbedaan usia nya dengan Bela. Di tambah lagi dia tau kalau Bela sangat suka pria yang pintar, baik, lembut dan juga perhatian.
Dimas sudah melakukan itu semua namun dia merasa masih kurang sempurna untuk Bela.
Bela langsung memeluk Dimas.
"Aku minta maaf sudah membuat kakak marah dan cemburu, tapi tidak ada satu pun orang yang bisa merusak hubungan kita dan aku hanya mencintai kakak."
Dimas melepaskan pelukan Bela. "Apa kamu memiliki pasangan seperti ku?"
"Pertanyaan semacam apa itu? Aku tidak pernah malu."
Dimas diam. Bela tidak tau cara menenangkan Dimas akhirnya dia mencium bibir Dimas.
Bibir keduanya kini bersentuhan.
Namun Bela melanjutkan nya.
Dimas tidak bisa menahan diri dia membalas nya.
Kayla, Fahri dan juga Vira melihat nya, dengan cepat Kayla menutup mata Vira begitu juga dengan Fahri menutup mata Kayla.
Mereka langsung pergi dari depan pintu.
"Bibik mau kemana?" tanya Fahri.
"Ke dalam, mau memanggil Non Bela mencoba makanan yang baru saja selesai masak."
"Sebaiknya nanti saja bik, jangan ganggu mereka."
Fahri menarik tangan Bibik untuk kembali.
Bela menatap wajah Dimas dengan sangat dalam.
"Membuktikan cinta ku, aku mau menikah dengan kakak," ucap Bela.
Dimas menatap Bela kaget. "Kamu serius? kamu tidak bercanda kan?"
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Tapi ada syaratnya."
__ADS_1
"Katakan! Katakan apapun itu akan aku lakukan."
"Aku ingin kakak minta ijin kepada ayah ku, dan juga ibu ku. Kalau mereka setuju kita menikah, tapi kalau tidak kakak harus berusaha menyakinkan mereka."
"Kenapa? Bukan kah mereka sudah sangat Jahat kepada kamu? Kenapa harus minta ijin?"
"Mau bagaimana pun mereka adalah orang tua ku Kak."
Dimas terdiam sejenak. "Kalau kakak tidak mau, tidak apa-apa. Aku tidak bisa memaksa nya."
"Baiklah sebagai pria yang bertanggung jawab dan juga calon suami yang baik, aku akan ke sana minta ijin kepada mereka." ucap Dimas.
Melihat ketegasan Dimas, Bela sangat senang dan membuat nya yakin kalau Dimas pantas untuk menikah.
"Tapi di sebelum itu kamu harus memegang kata-kata mu."
Bela mengangguk. "Aku akan menikah dengan kakak setelah ayah dan ibu setuju."
Dimas terlihat sangat bersemangat sekali. "Jadi aku sudah di maafin kan?" tanya Bela.
Dimas Menatap Bela. "Untuk kali ini aku lagi bahagia, aku akan memaafkan kamu, tapi untuk lain kali jangan sampai melakukan nya lagi."
Bela mengangguk. Dimas memegang lengan Bela mau mencium nya namun tiba-tiba Bela mengernyit kesakitan.
"Ada apa?"
Dimas langsung penasaran dia menggulung baju Kania dan melihat bagian tangan Bela biru lebam bekas tangan.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Dimas seperti siap mau memberikan hukuman kepada orang yang melakukan nya.
"Humm ini.. Ini..."
"Katakan Bela! Apa anak itu yang melakukan nya?" tanya Dimas. Bela menggeleng kan kepala nya dia sangat tidak enak mau jujur karena mereka baru saja akur.
Dimas terdiam sejenak, dia mengingat wajah Bela yang kemarin dia bentak habis-habisan dan juga menekan lengan nya sangat kuat karena sangat emosi.
Dimas langsung menunduk kan kepala nya dia memukul tubuh nya sendiri.
Bela mencoba menghentikan nya.
"Aku sangat jahat, aku sangat jahat tidak bisa mengontrol emosi ku, aku melukai wanita ku," ucap nya sendiri.
"Ini tidak apa-apa, ini sudah sembuh, ini sudah tidak sakit."
"Hikss... Hiks.. Hiks... Dimas menangis sambil mengelus lengan Bela.
Bela kaget kenapa Dimas menangis tersedu-sedu seperti itu.
"Aku sudah tidak apa-apa kak," ucap Bela mengelus kepala Dimas.
Bela memeluk Dimas menepuk-nepuk punggung nya.
"Aku minta maaf, aku tidak akan melakukan nya lagi, sekarang kamu harus membalas nya," ucap Dimas.
__ADS_1