Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 155


__ADS_3

Roi bangun dari tidur nya dia membuka pintu karena dia tau itu Serli.


Serli melihat Roi berdiri di depan pintu dengan keadaan pucat sekali, berantakan, dan juga memakai baju yang tebal, celana yang tebal serta mata yang lusuh.


"Aku ke sini tidak berniat mengganggu kamu, aku ke sini mengantarkan ini suruhan pak Dimas."


"Kamu masuk dulu," ucap Roi.


"Tidak perlu, aku sebaik nya langsung pergi."


"Aku meminta pak Dimas kamu yang datang kesini bukan hanya untuk mengantarkan surat itu, tapi aku butuh bantuan kamu."


Serli berhenti dan berbalik menatap Roi.


"Aku sakit seperti ini karena air yang kamu siram kemarin. Aku masuk angin dan ini sangat menyiksa ku karena tidak ada yang bisa merawat ku."


"Jadi kamu mau apa?"


"Aku mau kamu merawat ku."


"Tidak bisa! Kenapa kamu tidak meminta dokter saja yang saja Ke sini?" tanya Serli.


Roi menghela nafas panjang. "Apa kamu tega membiarkan aku sakit seperti ini?" tanya Roi.


Serli menghela nafas panjang. "Huff terserah mu saja lah, aku harus kembali ke kantor sekarang."


Serli mengambil tas dan beranjak dari tempat duduk nya.


Dia keluar dari apartemen Roi, namun baru saja menutup pintu dia terdiam sejenak.


"Aarrhhh!!!!" dia kesal dan kembali masuk ke dalam lagi.


"Hufff," dia menghela nafas berdiri di depan pintu Rio.


Rio melihat nya. Rio kebingungan dia melihat Serli pergi dari depan kamar nya.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Roi.


"Kenapa kamu keluar? Bukan nya kamu sakit?" ucap Serli. Roi diam dia duduk di sofa melihat Serli di dapur.


"Aku tidak bisa memasak yang lain, bubur sudah cukup baik untuk orang yang sedang sakit," ucap nya.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Makan ini dulu, aku akan membeli obat sebentar keluar."


Serli meninggalkan tas, Handphone dan juga membuka Blejer nya.


Tidak beberapa lama dia kembali dia melihat Roi masih duduk di tempat yang sama. Serli melihat makanan yang sama sekali tidak berkurang.


"Kenapa tidak makan? bagaimana mau sembuh kalau seperti ini?" tanya Serli.


"Aku tidak berselera," ucap Roi. "Tetap harus makan. Aku tidak ingin lama-lama di sini mengurus orang sakit."


Serli menyuapi Roi makan. Roi mengeluh kalau tidak enak, dia tidak ingin makan, namun Serli terus memaksa nya sehingga Roi muntah.


Serli panik, dia tidak tau harus apa sekarang.


Tidak beberapa lama akhirnya Roi berbaring istirahat di kamar nya setelah selesai minum obat yang di bawa oleh Serli.

__ADS_1


"Aku minta maaf sudah membuat kamu muntah tadi, aku tidak bermaksud apa-apa."


"Tidak apa-apa lupakan saja, sekarang kamu pulang saja, maaf sudah merepotkan kamu."


Serli menghela nafas panjang dia pun kembali.


Bela, Yana dan juga Kevin sedang nongkrong bersama di sebuah tempat nongkrong anak-anak kuliah.


"Bela, kamu yakin gak apa-apa lama di sini? bagaimana dengan adik mu?"


"Tidak perlu mengkhawatirkan dia, sekarang dia sedang bersama Kak Dimas."


"Kamu kenapa bisa santai banget sih? Padahal kamu tau sendiri kan kalau pak Dimas sangat sibuk."


"Sudah lah tidak perlu membahas itu, lagian yang mau membawa Vira dia sendiri."


Di kantor Dimas, Dimas dan Kayla baru saja selesai berbicara di ruangan meeting.


"Vira..." Kayla langsung memeluk Vira yang menunggu di luar bersama Fahri.


"Ante cantik di sini juga? aku sangat merindukan Ante."


"Ante juga sangat rindu kamu, oh iya bagaimana kalau kita jajan dulu sebelum pulang?"


"Aku mau sih Ante, tapi Om Dimas."


"Boleh yah Dimas, kalau kamu ada kerjaan lain percayakan Vira pada Tante, nanti kami anterin pulang."


Dimas mengangguk. "Baiklah," ucap Dimas. Setelah itu mereka pun langsung berangkat meninggalkan kantor Dimas.


Dia tersenyum tipis.


Di malam hari nya Dimas Berhenti di depan rumah yang begitu mewah dan juga besar.


"Sampai jumpa hari Senin Bela," ucap Yana. Ternyata Dimas menjemput Bela di rumah orang tua Yana.


Bela mendekati Dimas yang berdiri di samping mobil.


"Maafin aku yah kak, karena aku kakak jadi capek-capek ke sini."


"Tidak apa-apa, ayo masuk ke dalam mobil."


Bela mengangguk. Dia masuk namun heran kenapa tidak ada Vira.


"Loh Vira mana kak?"


"Vira lagi sama Tante kayla dan juga Fahri," ucap Dimas.


"Kita akan mampir ke rumah sebentar menjemput Vira."


"Ke rumah kakak?" tanya Bela.


Dimas mengangguk. "Kenapa? apa kamu tidak mau? Kalau tidak mau biar Fahri yang mengantarkan nya ke rumah."


"Tidak apa-apa, humm berhubung ini adalah hari Sabtu besok aku tidak ada aktifitas apapun, aku mau nginap di rumah kakak."


"Kami seriusan?" tanya Dimas. Bela mengangguk.

__ADS_1


"Tinggal berdua saja dengan Vira di rumah sangat membosankan, berkumpul bersama Bibik di sana jauh lebih menyenangkan."


"Oke baiklah kalau begitu tidak menjadi masalah," ucap Dimas.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah Dimas.


Bela Sibuk dengan Bibik dan juga orang yang ada di lantai bawah. Sementara Kayla menghampiri Keponakan nya yang terlihat sangat stres sekali.


"Ekhem-ekhem.." Kayla datang ke tempat Dimas minum alkohol sendirian.


"Ada apa? kenapa kamu terlihat seperti pusing sekali? apa ada masalah?"


"Tidak ada Tante."


"Jangan bohong, anggap saja aku sebagai teman mu, katakan apa Masalah nya."


"Aku ingin menikahi Bela."


"Bagus dong, Masalah nya di Mana?"


"Masalah nya itu adalah, ada persyaratan dari Bela."


"Apa?"


Dimas menjelaskan semua nya.


"Aku berfikir ini tidak mudah, aku sangat melakukan nya."


"Kalau niat kamu baik, semua nya akan mudah," ucap Kayla.


Dimas menghela nafas panjang. "Aku tau itu semua pasti tidak mudah bagi mu, tapi ini demi masa depan kamu dengan Bela."


Dimas mengangguk. "Kamu tidak perlu khawatir, besok Tante Akan menemani kamu."


"Tidak perlu Tante, ini adalah urusan ku."


"Tapi tetap saja kamu masih tanggung jawab Tante, besok jangan pergi sendiri."


Dimas tersenyum. "Terimakasih Tante."


"Ya sudah kalau begitu, Tante kebawah dulu," ucap Kayla. Setelah Kayla pergi Fahri datang ke lantai atas menemani Dimas minum.


"Apa kamu tidak ingin menyampaikan sesuatu kepada saya?" tanya Dimas.


Fahri meletakkan gelas nya dia menatap Dimas. "Maafkan saya pak, saya benar-benar minta maaf."


"Kenapa kamu minta maaf?"


"Aku minta maaf karena sudah memiliki hubungan dengan Tante, bapak sendiri."


Dimas tersenyum dia menepuk-nepuk pundak Fahri.


"Kamu memutuskan untuk berpacaran dengan Tante saya itu artinya kamu memiliki nyali bukan?"


"Saya minta maaf pak, tapi saya benar-benar menyukai mbak Kayla, saya berjanji akan menjaga nya dengan baik."


Dimas tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2