Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 99


__ADS_3

"Dan lagi saya sudah berjanji tidak akan menikah sebelum Dimas menikah."


"Sangat banyak pria yang mau sama Non Kayla yang cantik."


"Tapi menurut ku tidak ada yang sesuai dengan tipe ku Bik."


Bibik tersenyum. "Coba saja non membuka mata lebar-lebar dan lihat siapa yang tulus dan juga siapa yang Non suka Tampa memikirkan latar belakang, fisik dan juga harta."


"Tapi bik.."


"Tapi non, sebagai manusia kita sudah di takdir kan untuk berpasangan, kita sudah memiliki jodoh masing-masing."


"Bagaimana untuk mendapatkan jodoh lebih cepat bik?"


"Humm kurangin ego, jangan terlalu pemilih dan juga lihat seseorang dari hati nya, jangan dari luar."


Kayla terdiam memikirkan perkataan Bibik.


Bela dan Kevin seperti biasa duduk di taman setelah kuliah pertama selesai.


"Haii semua nya..." tiba-tiba Yana datang bersama pacar nya.


"Tumben banget kamu bawa pasangan kamu ke sini?" tanya kevin.


"Aku ada janji makan siang di luar hari ini bersama dia, tapi aku mau ngajakin kalian berdua, aku tidak mau di tolak karena hari ini ulang tahun pacar aku," ucap Yana.


"Seperti nya aku tidak bisa Yan, aku harus jemput Vira."


"Bukan nya tadi pagi kamu bilang kalau sudah ada yang jemput Vira? Kamu selalu saja membuat alasan."


"Kelas kita masih lama, tidak ada salah nya makan sesekali di luar dari pada di sini terus," ucap Kevin.


Bela yang sangat sulit menolak ajakan teman-teman nya akhirnya dia menginyakan.


"Oke baiklah kalau begitu," ucap Bela.


Mereka langsung berangkat ke restoran yang sebelumnya sudah di pesan.


Namun saat enak-enak makan tidak sengaja Rio melihat Bela.


Bela juga menyadari ada Rio di sana bersama beberapa orang teman nya.


"Tumben banget dia kelihatan di restoran mahal seperti ini? Biasanya dia selalu saja memilih agar tidak di lihat banyak orang," batin Rio.


"Kok bisa ketemu Rio di sini sih? Huff aku lupa kalau ini restoran tidak jauh dari markas Rio," batin Bela.


"Tapi seperti nya Bela sudah memiliki pasangan, jadi aku tidak perlu was-was kalau sampai dia balikan kepada pak Dimas."


Mau bagaimana pun tetap saja Rio merasa marah kepada Bela sama seperti orang lain yang membenci Bela.


Namun Rio jelas kenapa membenci Bela. Bukan Tampa sebab.


Begitu juga dengan Bela, dia masih merasa bersalah kepada Rio karena menggagalkan rencana Rio


Di malam hari nya Dimas mengantarkan Vira pulang ke apartemen Bela.

__ADS_1


"Tok!! Tok!! tok!!" ketukan pintu apartemen. Bela langsung membuka nya.


"Ya Allah Vira, kenapa kamu baru pulang? Kamu tidak bisa istirahat kalau seperti ini," ucap Bela.


"Mbak tidak perlu khawatir, aku sudah istirahat kok di kantor om Dimas. Aku tidak bermain."


"Ya sudah kalau begitu kamu masuk sana, mandi."


Bela sebenarnya sangat keberatan kalau Vira harus ikut dengan Dimas sampai pulang malam seperti ini. Namun itu semua pilihan adik nya.


"Silahkan masuk," ucap Bela sedikit canggung.


"Ini untuk kamu," ucap Dimas memberikan makanan yang baru saja dia beli.


Mereka berdua baru saja selesai makan, namun mengingat Bela akhirnya di bungkus satu untuk di bawa pulang ke apartemen.


"Kamu tidak perlu khawatir Vira bersama saya tidak bisa tidur siang atau tidak makan, dia anak yang penurut dan juga tidak nakal."


"Humm aku paham, mau bagaimana pun Bapak lebih paham tentang Vira."


Dimas mengangguk sambil tersenyum.


"Apa bapak tidak pulang?" tanya Bela.


Dimas Menaik alisnya.


"Maksud aku tidak mengusir, hanya saja ini sudah malam, pasti bapak juga mau istirahat."


"Humm kamu benar, kalau begitu saya pamit dulu," ucap Dimas.


"Jangan panggil saya bapak, karena saya bukan bos kamu, bukan bapak kamu."


"Tapi aku harus panggil apa?"


"Apa kamu lupa harus panggil apa kepada saya?" tanya Dimas.


Bela terdiam sejenak. Dimas mendekati Bela.


"Apa yang kakak lakukan?" tanya Bela panik karena Dimas sangat dekat kepada nya.


"Hari minggu saya tidak ada kegiatan apapun, saya akan datang menjemput kamu dengan Vira."


"Kemana? aku tidak bisa janji kalau aku bisa."


"Jangan membuat alasan, pokoknya kamu harus ikut dengan saya."


"Tapi bagaimana kalau orang lain melihat nya?" tanya Bela.


"Kita akan pergi ke tempat orang yang tidak mengenali kamu , saya dan juga Vira."


"Tidak mungkin, mereka semua pasti sudah tau, mau ke ujung dunia pun itu."


"Kamu tidak percaya kepada saya?" tanya Dimas. Bela menggeleng kan kepala nya. "Oke, baiklah saya akan membuktikan nya kepada kamu." ucap Dimas.


Dimas berdiri sedikit jauh dari Bela. "Kalau begitu saya pamit, selamat malam tidur yang nyenyak," ucap Dimas dan langsung pergi.

__ADS_1


Bela menghela nafas panjang dia memegang dada nya.


"Aku harus tenang, aku tidak boleh terbawa perasaan," ucap Bela.


Sementara Dimas masuk ke dalam mobil karena Fahri sudah menunggu nya dari tadi.


"Cie.. cie.. Bapak seperti nya senang sekali," ucap Fahri.


Fahri tersenyum. Mereka pun langsung pulang.


Sampai di rumah Fahri langsung mandi agar semua kuman di badan nya hilang.


Fahri melihat ke arah pintu kamar Kayla.


"Bik dari tadi aku tidak melihat mbak Kayla, apa dia masih sakit?" tanya Fahri.


"Bibik baru saja mau memeriksa nya," ucap Bibik.


"Ini sudah malam bik, biar aku saja, bibik istirahat saja," ucap Fahri mengambil alih obat, dan juga makanan di tangan Bibik.


"Tok!! Tok!!" ketukan pintu.


"Masuk aja bik, tidak perlu di ketuk."


Kayla melihat ternyata itu bukan Bibik. Dia langsung duduk .


"Mana Bibik? Kenapa kamu yang membawa nya ke sini?" tanya Kayla.


"Bibik sudah lelah, aku meminta nya istirahat."


Kayla langsung Makan yang di bawa oleh Fahri.


Kayla melihat rambut Fahri basah dan juga handuk kecil di leher nya.


"Kamu baru pulang?" tanya Kayla.


"Iyah," Jawab Fahri.


"Kenapa sangat larut malam? Apa jangan-jangan kamu dengan Dimas minum-minum dulu?" tanya Kayla.


"Tidak mungkin lah mbak, aku Anti alkohol. mencium bau nya saja buat Kepala pusing."


"Jadi kenapa lama pulang?" tanya Kayla.


"Karena nganterin Vira pulang ke apartemen Bela dulu mbak."


"Oohhhh Vira ikut Dimas lagi?" tanya Kayla. Fahri mengangguk.


"Humm keadaan mbak sekarang bagaimana? Apa masih ada rasa sakit nya?" tanya Fahri.


"Sedikit," ucap Kayla.


Fahri terdiam.. Kayla memerhatikan Fahri.


"Kamu pasti lelah, pergi lah istirahat, aku hanya sakit perut bukan sakit parah," ucap Kayla.

__ADS_1


Fahri mengangguk. "Baiklah kalau begitu aku permisi dulu," ucap Fahri ijin keluar dari kamar Kayla.


__ADS_2