Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 114


__ADS_3

"Mbak.." Fahri menghampiri Kayla ke balkon.


Kayla yang sedang membaca majalah menikmati angin malam menoleh ke arah Fahri.


"Loh kenapa kamu belum tidur?" tanya Kayla. Fahri duduk di depan Kayla.


"Aku ingin bertanya, tapi mbak jangan marah yah?" tanya Fahri.


"Ada apa?"


"Apa tadi mbak sengaja dandan seperti itu untuk ku?" tanya Fahri.


"Enggak! Kamu jangan kepedean deh."


"Jangan berbohong mbak."


"Iyah, aku dandan seperti itu untuk menyambut kamu, namun kamu tidak perduli dan mengabaikan ku."


"Tapi aku rasa itu terlalu berlebihan mbak, biasa nya mbak tidak perlu dandan berlebihan seperti itu dan juga pakaian mbak terlalu mini sangat tidak enak di dengar."


"Kamu tidak suka? apa aku terlihat sangat jelek?" tanya Kayla.


"Bukan seperti itu, hanya saja terlihat tidak enak di lihat."


"Katakan saja dengan jujur kamu tidak suka kan?"


"Aku suka, Tapi mbak lebih cantik ketika polosan seperti ini," ucap Fahri.


Kayla menghela nafas panjang. "Aku perawatan, aku juga dandan namun semua nya sia-sia," ucap Kayla dengan kesal langsung meninggalkan Fahri di balkon.


Fahri mengikuti nya sampai ke kamar. "Mbak aku tidak bermaksud tidak menghargai nya," ucap Fahri.


"Kalau tidak bermaksud seperti itu terus bagaimana?" tanya Kayla.


Fahri menutup pintu, dia mendekati Kayla.


"Aku sedang tidak mood, jangan sentuh aku," ucap Kayla.


Fahri menghela nafas panjang, dia hanya mau membujuk Kayla namun sudah di tuduh mau menyentuh Kayla.


"Aku minta maaf, sebagai permintaan maaf ku, aku akan melakukan apapun yang mbak mau," ucap Fahri.


"Tidur di sini malam ini," ucap Kayla.


"Tidur di sini mbak? tidak mungkin, bagaimana kalau ada yang tau?" ucap Fahri menolak.


"Sebelum nya kamu juga tidur di sini tidak ada yang protes," ucap Kayla.


"Karena belum ada yang tau mbak, sebaik nya kita jangan seperti ini," ucap Fahri.


Kayla menghela nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu kamu keluar saka, aku tidak mau memaafkan kamu."


Fahri di paksa keluar. Lagi-lagi Bibik melihat Fahri keluar dari kamar Kayla.


Fahri kembali ke dalam kamar nya, dia memegang kepala nya yang terasa pusing mengahadapi pacar baru nya itu.

__ADS_1


"Aku pikir berpacaran dengan wanita yang lebih tua akan lebih baik, dan dia lebih dewasa namun ternyata aku salah, Mood perempuan itu seperti nya hampir sama," batin Fahri.


Setelah beberapa lama akhirnya dia tertidur dengan sangat pulas.


Keesokan harinya seperti biasa mereka akan sarapan di meja makan bersama..


"Apa Minggu depan Tante jadi pulang?" tanya Dimas kepada Kayla.


Kayla memeriksa tanggal di handphone nya.


"Huff kenapa waktu sangat cepat berputar? Dan seperti nya kamu sangat ingin Tante cepat pergi," ucap Kayla.


"Bukan seperti itu," ucap Dimas.


"Aku hanya bercanda, Minggu depan aku akan pulang, mungkin satu Minggu di sana," ucap Kayla.


Mendengar itu Fahri sangat kaget, kenapa dia baru tau kalau Kayla mau pulang ke kota orang tua nya.


Mereka berangkat ke kantor. Fahri dengan Kayla sementara Dimas dengan supir nya dia mau mengantar kan Bela ke kampus nya.


"Kenapa mbak gak bilang kalau Minggu depan mbak pulang?" tanya Fahri.


"Hanya sebentar saja," ucap Kayla.


"Walaupun hanya sebentar, tapi mbak harus bilang dulu sama ku."


"Kamu sudah tau, kenapa kamu harus marah?" tanya Kayla.


"Aku bukan marah, tapi..."


Fahri jadi diam, wajah nya tampak sangat sedih sekali.


Dimas baru sampai di depan apartemen Bela.


"Maaf yah sudah membuat kamu lama menunggu," ucap Dimas.


"Gak apa-apa kok, lagian aku belum telat."


Dimas tersenyum. Mereka segera ke kampus Bela.


Bela keluar dari dalam mobil dan di tunggu oleh Yana.


"Kenapa perempuan itu sangat tidak asing yah?" batin Dimas memaksudkan Yana.


Dia mencoba mengingat namun percuma saja karena dia tidak kunjung bisa mengingat nya.


Akhirnya dia langsung meninggalkan kampus Bela.


"Kamu beli mobil baru?" tanya Yana kepada Bela.


Bela melihat mobil yang mengantarkan nya.


"Enggak lah, mana mungkin aku beli mobil baru seperti beli kerupuk."


"Lalu itu mobil siapa? sudah beberapa kali aku melihat mobil itu parkir di depan kampus, di depan apartemen kamu juga."

__ADS_1


"Oohhhh itu, itu adalah mobil keluarga ku, dia kebetulan mempunyai waktu luang jadi mampir ke apartemen dan juga sesekali menumpang kan aku ke kampus."


"Loh bukannya kamu gak dekat sama keluarga mu? Kamu juga tidak mengenal keluarga mu."


"Sudah lah lupakan saja," ucap Bela.


"Tunggu dulu, kamu harus jujur itu mobil siapa," ucap Yana.


"Sudah lah tidak perlu di bahas lagi, aku sudah bilang kalau itu mobil keluarga ku."


Yana menghela nafas panjang.


"Sejak kapan kamu berani berbohong kepada ku?"


"Aku tidak berbohong."


"Ya udah deh terserah kamu saja, aku akan mencari tau itu mobil siapa, kamu pasti beli mobil baru."


Yana masih berfikir kalau dia membeli mobil baru. Namun nyatanya dia tidak kefikiran untuk menggunakan uang Ayah nya begitu saja.


Mobil yang di berikan oleh Ayahnya sebelum di penjara saja sudah cukup.


Pulang sekolah Bela tidak menjemput Vira karena Dimas menjemput Vira dan ingin membawa Vira jalan-jalan.


Bela jam dua siang baru bisa pulang.. Namun dia mendengar Bibik baru saja kembali namun tiba-tiba sakit.


Bela berinisiatif untuk menjenguk Bibik ke rumah utama atau rumah ayah nya itu.


Sampai di sana masih sama, masih banyak pelayan, masih banyak pengawal yang menjaga rumah itu dengan baik karena mereka semua sudah berjanji untuk mengabdi kepada pak Irfan.


Bela di sambut dengan baik oleh mereka semua bagaikan anak raja.


Bela tidak nyaman seperti itu, namun seperti itu lah cara mereka menghormati anak bos nya.


"Non Bela apa kabar? Sudah lama non tidak ke sini," ucap mereka semua.


"Baik, kalian semua bagaimana? Apa Ketua pelayan sudah membaik?"


"Masih kurang baik Non, mari kami antar ke kamar beliau."


Bela masuk ke kamar bibik.


"Non Bela di Sini? Kenapa non bisa di sini?" tanya Bibik kaget.


"Menjenguk Bibik, aku mendengar Bibik sakit. Aku juga membawa makanan, buah-buahan."


"Ya ampun non, tidak perlu capek-capek," ucap Bibik.


Bela tersenyum. "Sekarang gantian aku yang menjaga Bibik."


"Saya hanya sakit biasa karena lelah di perjalanan Non."


Namun Bela tetap menjaga Bibik.


Di sore hari nya Bibik sudah istirahat, Bela berjalan-jalan di rumah Ayah nya.

__ADS_1


Dia masuk ke kamar utama milik ayahnya itu.


__ADS_2