Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 130


__ADS_3

"Aku sudah membaik kok, terimakasih sudah mau menjaga ku di sini." Bela memegang tangan mereka berdua.


"Kami akan terus di sini menunggu kamu sampai sembuh," ucap Kevin.


Bela tersenyum dia sangat senang memiliki orang-orang tulus.


Dimas keluar dari sana, membiarkan Bela bersama Yana dan Kevin.


Dimas sangat lega dia bisa mengistirahatkan kepala nya sejenak. Tidak beberapa lama Rio datang.


"Sebaik nya setelah ini bapak segera menikahi Bela agar lebih aman untuk Bela dan juga Adek nya," ucap Rio.


Dimas menatap Rio seperti tidak percaya dengan saran yang di berikan oleh Rio.


Dimas tertawa kecil, dia menggeleng kan kepala nya.


"Kamu tidak perlu mengatakan itu dengan terpaksa. Mau bagaimana pun kamu tidak akan setuju."


"Kenapa memikirkan saya pak? ini adalah masa depan Bapak."


Dimas menatap Rio lagi. "Saya juga yakin kalau jodoh bapak adalah Bela."


"Kamu tidak membenci Bela lagi?"


"Saya tidak pernah membenci Bela, saya hanya kecewa. Tapi melihat kekuatan cinta bapak dengan Bela saya tidak memiliki hak untuk melarang."


"Kamu sudah seperti keluarga saya sendiri," ucap Dimas langsung memeluk Rio.


Hari semakin malam. Dimas masih duduk di luar, dia tidak ingin masuk karena dia tetap merasa bersalah kepada Bela.


"Yana, Kevin.."


"Iyah kenapa?" tanya mereka berdua bersamaan karena Bela baru saja bangun.


"Kenapa kak Dimas belum juga masuk?" tanya Bela.


Yana menggeleng kan kepala nya.


Tiba-tiba Dimas masuk bersama Rio. Kevin melihat ke arah Dimas dia langsung menarik tangan Yana keluar.


"Tunggu dulu." Dimas menahan mereka berdua sebelum keluar.


"Terimakasih sudah menjaga Bela di sini, tapi kalian sudah boleh pulang," ucap Dimas.


Yana dan Kevin menoleh ke arah Bela, Bela mengangguk. Mereka pamitan dan janji akan datang besok lagi.


Rio juga langsung ijin pamitan.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Dimas duduk di samping Bela.


Bela tersenyum tipis karena masih terasa sakit kalau bergerak banyak.


Bela juga menggeleng kan kepala nya sedikit. "Lalu yang sakit yang mana? apa perlu di periksa dokter?" tanya Dimas.

__ADS_1


Bela menggeleng kan kepala nya dia memegang tangan Dimas.


"Jangan takut, aku di sini," ucap Dimas mengelus kepala Bela dengan sangat lembut. Bela sangat nyaman sekali.


Bela tiba-tiba teringat adik nya lagi. "Bagaimana dengan Vira Kak? Aku dengar kakak pergi pulang karena dia demam."


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Vira, dia sakit karena mengkhawatirkan kamu, sekarang sudah sembuh kok," ucap Dimas.


Bela menghela nafas lega. "Oh iya kamu mengalami patah tulang, tapi sudah di tangani oleh dokter, jadi jangan banyak gerak dulu."


Di rumah Bela..


Kayla sedang menunggu Vira yang tidur. Dimas meminta agar Tante nya menjaga Vira karena pelayan rumah utama harus kembali, sementara Bibik harus mengurus pak Irfan yang tidak berhenti membuat masalah.


"Tok!! tok!! tok!!" ketukan pintu rumah. Kayla langsung keluar membuka pintu dan ternyata itu adalah Fahri.


"Maaf mengganggu mbak, tapi malam ini aku akan tidur di sini," ucap Fahri. Kayla melihat keluar.


"Jam segini kamu baru pulang bekerja?" tanya Kayla. Fahri mengangguk.


Dia membiarkan masuk ke dalam. Semenjak Kayla menjaga Vira dia tidak bertemu dengan Fahri.


Sebenarnya Kayla sangat malu karena rumah itu bukan lah milik nya, mau bagaimana pun dia harus menjaga etika nya.


"Bagaimana keadaan Vira?" tanya Fahri.


"Humm sudah membaik, hanya saja dia terus nanyain Bela."


Mereka masuk ke dalam kamar Vira. Fahri memeriksa suhu badan Vira. "Sudah membaik."


"Sudah sadar, dan sekarang sudah di pindahkan ke rawat inap, masih butuh tiga hari untuk di rawat," ucap Fahri.


"Pasti dia sangat trauma sekali, semoga dia cepat sembuh," ucap Kayla.


Fahri memegang tangan Kayla. "Mbak juga harus jaga diri baik-baik, jangan keluar sembarangan."


"Kan ada kamu yang jagain aku."


"Aku serius Mbak," ucap Fahri memasang wajah serius.


"Iyah-iyah, gak usah marah juga."


Fahri mengelus tangan Kayla.


Kayla mau memeluk Fahri karena sudah sangat merindukan dia, namun Fahri menahan nya.


Kayla menatap tajam. "Aku dari luar, aku juga dari rumah sakit, banyak kuman yang menempel. Aku akan mandi dulu."


"Kamu mandi pakai apa? Emangnya bawa baju?"


Fahri menunjuk tas yang di bawa nya, ternyata dia sudah melakukan persiapan.


"Humm seperti nya kamu sangat merindukan aku, sehingga kamu datang ke sini," ucap Kayla.

__ADS_1


Fahri menggeleng kan kepala nya. "Aku ke sini hanya memastikan keamanan Mbak."


"Jangan bohong deh, aku bisa lihat dari mata kamu."


"Kalau begitu aku mandi dulu."


"Humm.. gengsian banget jadi laki-laki," ucap Kayla sambil tersenyum.


Fahri sangat malu.


"Mau di temanin gak mandi nya?" tanya Kayla. "Ssttt!!!" Fahri menunjuk ke arah Vira yang terganggu karena pembicaraan mereka.


Kayla langsung menenangkan Vira, sementara Fahri langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak beberapa lama akhirnya Fahri keluar dia melihat Kayla.


"Aku sudah masak mie, aku hanya bisa masak ini, kamu juga pasti lapar kan."


Fahri mendekati Kayla. "Kamu sudah makan?"


"Aku dengan Vira pesan makanan di luar," ucap Kayla.


Fahri tersenyum. "Kamu gak suka yah?" tanya kayla karena dia tau Dimas tidak mengijinkan Fahri makan makanan yang tidak bagus untuk tubuh nya.


Dia tetap harus menjaga pola makan, tidak bisa makan sembarangan karena dia adalah ketua pengawal.


"Kalau kamu tidak mau, aku akan memakannya."


Fahri menahan nya. "Sesekali tidak menjadi masalah," ucap Fahri.


Kayla tersenyum. "Humm apa kamu mencari calon istri yang bisa masak?" tanya Kayla.


"Semua manusia pasti menginginkan yang terbaik."


"Apa itu artinya aku bukan tipe kamu?"


Fahri menghela nafas panjang.


"Ya karena aku tidak bisa masak." ucap Kayla.


"Aku tidak pernah minta mbak masak, ada Bibik yang masak, ada banyak di luar sana yang jual makanan."


Kayla tersenyum. "Oh iya malam ini kamu tidur di ruang tamu gak apa-apa kan?"


Fahri mengangguk. Setelah selesai makan mereka istirahat karena besok masih harus melakukan banyak kegiatan.


Sementara di rumah sakit Dimas sama sekali tidak bisa tidur. Sudah beberapa hari dia tidak bisa tidur karena memikirkan Bela, sekarang yang dia pikirkan adalah masa depan nya dengan Bela.


Dia tidak berhenti memikirkan perkataan Rio tadi.


Dimas menatap Bela. "Tidak mungkin dia mau menikah dengan ku, aku terkenal dengan banyak keburukan, aku juga sudah membuat dia dalam masalah yang begitu banyak sehingga seperti ini.".


"Dan dia pasti memikirkan tanggapan orang lain tentang kasus yang sudah terjadi."

__ADS_1


Dimas menghela nafas panjang di mengacak-acak rambut nya, karena tidak bisa tidur akhirnya dia memilih untuk keluar.


__ADS_2