
Dimas baru keluar dari kamar namun sudah melihat kekasih nya duduk termenung sendirian.
"Apa yang kamu pikirkan? kenapa kamu terlihat sangat Sedih?" tanya Dimas.
Bela melihat ke arah Dimas yang duduk di samping nya.
"Aku hanya Sedih karena teman-teman ku akan pulang kampung."
"Oohh tentang itu, maaf saya tidak mengatakan nya sebelum nya, namun saya sudah mencoba menawarkan kontrak baru namun mereka tidak mau."
"Itu semua karena Kakak sangat galak kepada mereka. Mereka semua takut tinggal lebih lama di sini," ucap Bela malah menyalahkan Dimas.
"Kenapa kamu menyalahkan saya? Saya tidak akan marah kalau mereka tidak melakukan kesalahan."
Bela menghela nafas panjang.
"Seperti nya Vira sudah bangun, sudah jangan sedih lagi." ucap Dimas.
"Bukan hanya tiga orang, mereka semua akan mengakhiri kontrak kerja nya kecuali Bibik, dan aku pasti akan sangat kesepian di sini."
"Saya di sini, Vira di sini, Bibik juga di sini," ucap Dimas.
"Tapi tetap saja berbeda."
"Mereka semua sudah bertahun-tahun di sini, sudah sangat lama di sini dan mereka juga tidak mungkin selamanya menjadi pelayan di sini."
"Benar sih.."
"Apa kamu ingin saya merekrut karyawan baru?" tanya Dimas.
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Aku tau kalau kakak tidak mungkin mencari karyawan baru karena kakak tidak suka orang baru."
Dimas tersenyum.
"Saya hanya membutuhkan kamu sekarang, sudah ada kamu saya tidak membutuhkan orang lain lagi."
"Huff aku sudah muak mendengar itu, aku mau melihat Vira dulu."
"Bela tunggu dulu. Kamu tidak percaya apa yang saya katakan."
"Percaya, aku percaya kok." ucap Bela sambil masuk ke dalam kamar.
Dimas mengikuti Bela masuk ke dalam kamar, Dimas memeluk pinggang Bela dan mendorong nya ke arah dinding.
"Apa yang mau bapak lakukan?" tanya Bela.
"Saya ingin mencium kamu, pagi ini saya butuh energi." Bela mencium nya dengan singkat.
"Saya ingin lebih banyak," ucap Dimas.
Dimas mendekati bibir Bela sehingga Bela bisa merasakan hembusan nafas Dimas.
Dimas mendekati bibir Bela membuat Bela menutup mata nya namun Dimas tidak jadi dia mengelus bibir Bela.
Dimas mendekati nya lagi namun Dimas hanya mendekati tidak mencium nya.
"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Bela sampai kesal.
__ADS_1
Dimas tertawa kecil. Dia langsung meluma* bibir Bela dengan sangat ganas.
"Ummmm.... Om Dimas..." tiba-tiba Vira bangun. Dia hanya melihat badan Dimas jadi dia hanya menyebut nama Dimas.
Dimas dan Bela sangat kaget, mereka langsung melepaskan diri dan menoleh ke arah Vira.
"Kamu sudah bangun?" tanya Dimas langsung mendekati Vira.
"Pagi Om, pagi mbak."
"Pagi sayang... Gimana tidur nya nyenyak gak?" tanya Dimas.
Vira mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kamu mandi gih sama Mbak Bela, Om juga mau mandi."
"Tadi Om kenapa menahan mbak Bela?" tanya Vira membuat Dimas bingung. Dia menoleh ke arah Bela yang tidak ingin menjawab nya.
"Oohh tadi mbak Bela kelipatan, om bantu meniup mata nya saja."
"Tapi tadi aku melihat om mendorong mbak bela ke dinding."
Dimas menghela nafas panjang.
"Sebaik nya kita Mandi yah agar langsung sarapan." ucap Bela langsung.
Dimas mengusap wajah nya sambil senyum-senyum sendiri.
"Seperti nya tidak akan aman kalau Vira di sini."
Waktu nya sarapan bersama.
Tiba-tiba Serli datang akhirnya mereka sarapan berempat di meja makan.
"Ini loh Bela, aku mau memberikan gaji para karyawan yang mau pulang kampung."
Bela memeriksa berapa nominal nya ternyata cukup banyak.
"Wahh sangat banyak juga yah, pantesan mereka langsung mau pulang dan buka usaha di kampung."
"Tapi Walaupun mereka mempunyai gaji segini tetap saja kamu yang menang."
"Maksud nya?" tanya Bela.
"Mereka hanya memiliki segini tapi kamu memiliki orang yang mempunyai uang lebih banyak dari ini."
"Ya ampun mbak kenapa bisa kefikiran seperti itu? Sama saja." ucap Bela.
Serli memegang tangan Bela.
"Kalau suatu saat nanti pak Dimas menawarkan sesuatu kepada kamu jangan di tolak yah."
"Kenapa mbak? saya kurang nyaman kalau di perlakukan berlebihan."
"Jangan berfikir seperti itu, pak Dimas akan jauh lebih merasa dihargai kalau kamu menerima semua pemberiannya."
"Semua perempuan yang bersama pak Dimas selalu di perlakukan dengan baik, apalagi kamu kekasih nya itu adalah hak kamu."
Bela mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Oh iya jangan lupa agar selalu hati-hati kepada pak Dimas."
"Kenapa mbak?"
"Terkadang pak Dimas ada khilaf dan melakukan sesuatu yang seharusnya belum di lakukan."
"Satu hal lagi yang harus kamu tau adalah Pak Dimas bukan laki-laki yang sempurna, dia memiliki banyak masalalu yang buruk."
"Selain itu juga pak Dimas penjahat perempuan, kamu harus bisa menyesuaikan diri."
Bela mendengar itu jadi sangat takut namun dia sudah terlanjur.
"Pak Dimas.." sapa Tami.
"Pagi." sapa Dimas.
"Saya membawa ini untuk bapak."
"Apa ini?" tanya Dimas.
"Ini adalah kue buatan ibu saya untuk bapak, saya tau kalau bapak sangat suka makan di ruangan Bapak."
"Baiklah kalau begitu saya ambil, terimakasih banyak Sampaikan kepada ibu kamu."
Tami mengangguk sambil tersenyum.
Dimas masuk ke ruangan nya tiba-tiba teringat kepada Bela.
"Baru beberapa jam namun aku sudah merindukan dia," batin Dimas.
"Aku tidak bisa menghubungi dia karena dia tidak punya handphone, kalau aku menghubungi telpon rumah semua orang akan tau kalau aku berbicara dengan Bela."
Dimas meminta Tami ke ruangan nya.
"Iyah pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Tami.
"Apa kamu bisa membantu saya membeli handphone keluaran terbaru?"
"Tapi ini masih jam kerja Pak."
"Tidak apa-apa, kamu pergi saja, saya akan mengirimkan uang nya ke rekening kamu."
"Baiklah Pak."
Tami yang sangat senang bisa membantu Dimas, dia sangat bersemangat sekali.
"Perasaan handphone pak Dimas masih sangat bagus, lalu handphone ini untuk siapa? apa untuk kekasih nya?"
"Pasti kalau jadi kekasih pak Dimas hidup nya akan terjamin bahagia," nanti Tami.
Tidak beberapa lama akhirnya dia kembali dan memberikan Handphone kepada Dimas.
"Terimakasih banyak Tami, ini upah kamu." Dimas memberikan uang kepada Tami.
"Terimakasih banyak Pak."
"Kalau begitu kamu bisa lanjut bekerja."
Tami mengangguk.
__ADS_1
"Wahh walaupun pak Dimas terkenal dengan watak yang sangat kejam tapi asli nya dia sangat baik, aku semakin jatuh cinta kepada nya." ucap Tami.
Dimas lanjut bekerja seperti biasa, namun dia tidak bisa berhenti memikirkan Bela yang membuat nya sangat ingin cepat-cepat pulang ke rumah bertemu Bela dan juga Vira.