
"Baiklah, saya akan keluar," ucap Dimas. Serli mengangguk dia segera pergi keluar.
"Huff, ini sudah seperti di neraka kalau melihat tatapan Pak Dimas yang seperti itu," ucap Bela.
"Aku mana tau kalau mereka di dalam sedang melakukan hal semacam itu," ucap Serli. "Bu Serli ngomong apa? kenapa berbicara sendiri?" tanya bawahan nya.
"Tidak ada, kamu lanjut saja bekerja," ucap Serli dan pergi begitu saja.
"Loh, aneh banget sih. Perasaan yang berbicara seperti itu adalah Pak Dimas, kok malah dia jadi ikutan sih?" batin Staf itu.
"Ah sudahlah bodo amat, wajar saja sifat mereka hampir sama karena mereka selalu bersama," ucap Staf itu dan kembali bekerja.
Di ruangan Dimas, Bela langsung duduk, dia memukul lengan suami nya dengan cukup kuat sehingga Dimas menjerit kesakitan.
"Kenapa sayang?" tanya Dimas.
"Masih tanya kenapa, apa Kakak tidak malu?" tanya Bela.
"Kenapa harus malu sayang? Sudah lah tidak perlu di pikirkan orang lain, kita fokus saja sama hubungan dan urusan kita," ucap Dimas.
Bela hanya bisa menghela nafas panjang. "Humm sulit banget sih berbicara dengan Kakak," ucap Bela dengan kesal.
Dimas sangat senang melihat wajah istri nya yang ngambek. "Kamu terlihat sangat imut kalau sedang marah seperti ini," ucap Dimas mencubit pipi Bela.
Namun Bela langsung menghindar. "Sebaik nya kakak segera keluar, kasihan kalau membuat mereka menunggu lama di loby."
"Kalau kamu memasang wajah imut seperti itu, aku tidak akan pergi, aku akan membiarkan mereka menunggu di sana, karena aku lebih memilih bersama istri ku," ucap Dimas.
"Jangan aneh-aneh deh kak, sebaik nya kakak keluar, jangan membuat orang lain menunggu lama," ucap Bela lagi.
"Baiklah-baiklah," ucap Dimas langsung. "Kamu tunggal sebentar yah sayang," ucap nya mengelus kepala istrinya dan tidak lupa mencium kening nya dan setelah itu pergi.
Bela menghela nafas panjang. Dia duduk di kursi kerja suami nya. "Hufff kursi ini terasa sangat nyaman, aku yakin bekerja di sini seharian tidak akan membuat ku bosan," ucap Bela.
Dia sambil main handphone. Namun tiba-tiba ada notifikasi masuk ke handphone nya. Notifikasi dari Yana.
__ADS_1
"Bela, aku minta maaf merepotkan kamu, tapi hari ini aku akan pulang ke rumah kamu," ucap Yana.
"Loh kenapa? Apa pria itu mengganggu kamu lagi?" balas nya.
"Iyah Bela, aku tidak ingin berhubungan bahkan bertemu dengan nya lagi," ucap Yana. chatan yang panjang akhirnya Yana pulang.
Namun Bela tidak mengijinkan pulang sendirian sehingga dia meminta supir untuk menjemput Yana.
Bela menghela nafas panjang. "Malang sekali, awalnya dia berharap bahagia bersama pilihan nya, namun ternyata dia yang malah sengsara seperti ini."
Tidak beberapa lama akhirnya Dimas kembali ke ruangan nya, dia melihat istrinya sedang bersantai di kursi nya.
"Selamat Siang Bu Bela..." ucap Dimas membuat Bela kaget dan langsung berdiri, dia tidak sadar kalau suami nya kembali.
"Hehehe.. Aku minta maaf duduk di kursi kakak Tampa ijin."
"Tidak apa-apa, karena kamu adalah bos di sini," ucap Dimas. "Humm bos apa? Aku tidak menjadi bos dan tidak mau," ucap Bela.
"Humm yakin gak mau? bukannya kamu sekarang sudah menjadi bos?" tanya Dimas.
"Jangan aneh-aneh deh kak, aku tidak jadi bos," ucap Bela. "Kamu adalah bos ku, karena setiap apapun itu Ku harus lapor dan aku kerja untuk kamu," ucap Dimas.
Dimas hanya tersenyum melihat wajah Istrinya. "Apa kamu mau ikut?" tanya Dimas.
"Kemana lagi?" tanya Bela. "Apa mau bertemu dengan anak Bapak yang berusaha kakak dekatin?" tanya Bela.
Dimas menghela nafas panjang. "Kita makan siang dulu," ucap Dimas.
"Tapi aku gak lapar kak," ucap Bela. "Yakin tidak lapar? Kalau kamu tidak mau aku akan gendong kamu keluar."
Bela tau kalau suami nya tidak mungkin main-main dengan perkataan nya dia langsung mau dan mengikuti suaminya.
Sampai di restoran yang tidak jauh dari kantor. "Tumben banget Bu Bela ikut. Oh iya Bu bagaimana kabarnya?" tanya orang-orang yang mengenakan Bela.
Bela menjawab mereka semua dengan ramah dan juga sambil tersenyum.
__ADS_1
Di kampus... Kevin duduk sendirian di meja nya dia melihat ke arah meja Yana dan Bela.
"Humm aku sangat kesepian Tampa mereka berdua, Yana berantakan karena laki-laki, sementara Bela seperti ini karena di hamilin oleh pak Dimas."
"Huff, aku ngomong apa sih, pak Dimas kan suami nya jadi wajar lah kalau Bela hamil karena dia," ucap nya lagi langsung menepis pikiran nya.
"Tapi mau bagaimana pun aku masih menyukai Bela, sampai kapan pun aku akan tetap menyukai Bela," batin Vincent.
Baru saja melamun namun tiba-tiba Dosen menghampiri nya. Dia sangat terkejut dan langsung fokus belajar.
Tidak terasa Bela dan Dimas sudah sampai di salah satu tempat yang asing bagi Bela, karena sangat tertutup. Hanya orang-orang berkepentingan saja yang bisa masuk ke dalam sana.
Dimas terus menggandeng tangan istrinya sambil masuk ke dalam. Ternyata di dalam Sudah ada wanita muda cantik yang sangat tak asing di mata Bela.
"Selamat siang Pak Dimas, silahkan duduk," ucap wanita itu. "Siang juga, maaf sudah membuat menunggu," ucap Dimas.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk," ucap wanita itu sambil menoleh ke arah Bela.
"Mungkin kamu tidak asing dengan perempuan yang saya bawa, dia adalah istri saya," ucap Dimas. "Salam kenal mbak," ucap wanita itu sambil tersenyum dan menjulurkan tangan nya.
Bela juga langsung membalas tangan wanita itu. Namun Bela merasa wanita itu kurang suka dengan kedatangan nya.
"Ah sudahlah, aku tidak akan perduli dia suka atau tidak, kelihatan nya saja dia sudah ganjen kepada suami ku," ucap Bela dalam hati.
Dia mendengar kan pembicaraan mereka, terdengar sangat serius. Bela tidak paham dia hanya fokus memerhatikan wajah tampan suami nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga, Bela langsung semangat mau berpisah dengan wanita itu.
Dimas memerhatikan wajah istrinya yang terlihat sangat cemberut setelah keluar dari tempat itu.
"Kenapa sih kamu? Apa kamu marah? Karena apa?" tanya Dimas.
"Tidak perlu perduli kan aku, kakak fokus saja pada wanita itu," ucap Bela. Dimas menghela nafas panjang.
"Maksudnya apa sih sayang?" tanya Dimas. Bela langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Dimas mengikuti nya sambil menghela nafas berat.
"Selamat siang Pak," sapa para wanita yang entah datang dari mana, Bela semakin bad mood melihat dan mendengar itu ketika suami nya membalas senyuman kepada wanita itu.