Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 213


__ADS_3

Setelah selesai semua makanan di atas meja, waktu nya makan.


"Ayo makan Roi, kamu pasti sangat merindukan masakan Tami kan, ini semua adalah masakan dia," ucap mamah nya.


"Wahh, sampai sekarang kamu masih hobi masak ternyata," ucap Roi.


"Bukan kah kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat menyukai perempuan yang suka memasak?" ucap Tami.


Roi tersenyum sambil mengangguk.


Mereka makan di meja makan yang begitu besar dan cukup banyak anggota keluarga nya Roi.


"Oh iya Serli, bagaimana keadaan pak Dimas?" tanya Papah Roi.


"Baik om," jawab Serli.


"Sudah lama tidak bertemu dengan nya, bahkan waktu menikah kemarin kami tidak bisa datang."


Serli hanya tersenyum. Dia tidak menyangka keluarga Roi sangat-sangat tidak menyenangkan apalagi ada Tami.


Serli sungguh menyesal datang ke sana. Dia tau sebenarnya Tami lah yang membuat keluarga Roi jadi kurang perduli dan kurang menerima nya.


Di malam hari nya...


"Kamu yakin tidak mau menginap di sini? sudah sangat lama kamu tidak kembali namun sekarang sudah mau pulang saja.


"Besok aku dan Serli harus bekerja."


"Kami bukan pengangguran yang bisa libur Kapan pun kami mau, kalau bukan kami yang bekerja lantas keluarga kami siapa yang ngasih makan?" ucap Serli langsung.


Karena mereka berdua sama-sama jadi tulang punggung keluarga.


"Oh iya Kecantikan saja tidak bisa membuat perut kenyang, selain itu kalau tidak ada uang untuk belanja tidak akan ada yang bisa di masak di dapur," ucap Serli.


Tami yang mendengar itu merasa sangat tersinggung sekali, namun dia harus menjaga sikap.


"Jadi benalu di keluarga orang lain sangat tidak bagus," Ucap Serli setelah tau kalau Tami lebih banyak tinggal di rumah orang tua Roi.


"Ayo kita pulang," ajak Serli menarik tangan Roi ke dalam mobil setelah selesai berpamitan kepada orang tua Roi.


"Aaaa!! Nyebelin banget tuh perempuan, mentang-mentang jadi sekertaris dia bisa berbicara sesuka hati nya."


"Ya seharusnya kamu juga sadar Tami, dia adalah wanita yang sangat di hargai, wajar lah Roi menjadikannya pacar."


"Tidak bisa! Pokoknya aku tidak akan membiarkan Roi bersama perempuan itu."


"Sudah lah Tami, percuma saja kamu mengejar Roi karena saingan kamu adalah Serli."


"Kalau bukan karena hasutan kamu, pasti ibu dan bapak Roi pasti menyukai Serli.


Selama perjalanan pulang, Serli tidak mengatakan apapun.


"Aku sangat lapar, aku mau makan," ucap nya kepada Roi.

__ADS_1


"Loh sayang, kita baru saja selesai makan tadi."


"Aku tidak Sudi Makan masakan wanita itu, kamu kelihatan nya sangat menyukai nya jadi kamu tidak perlu makan, aku akan makan sendiri."


Tidak beberapa lama mereka berhenti di resto.


"Kamu tidak perlu makan," ucap Serli mengulangi nya lagi.


Serli memesan makanan menu yang sama seperti di rumah Roi tadi karena dia juga sangat suka itu.


Roi hanya bisa menggeleng kan kepala nya melihat Serli makan dengan porsi yang cukup banyak.


"Apa kamu marah karena perlakuan keluarga ku?" tanya Roi.


"Kamu masih nanya? Apa kamu kalau di posisi ku tidak marah?" tanya Serli.


"Aku minta maaf, aku tidak tau kalau mereka akan seperti itu sama kamu."


"Itu semua karena perempuan itu, pokoknya aku tidak akan tinggal diam saja, aku akan membuat wanita itu malu dan minta maaf kepada ku."


"Aku tidak habis pikir apa yang kamu inginkan dari wanita seperti dia."


Roi memilih diam karena merasa bersalah. Untung nya Serli tidak marah kepada nya dan keluarga nya.


Selesai makan mereka langsung pulang ke rumah. "Kamu pulang saja, kamu tidak boleh tidur di sini mulai sekarang."


Roi Menatap heran. "Aku mau masuk," ucap Serli dan langsung masuk ke rumah nya.


"Serli buka pintu nya," ucap nya mengetuk pintu, namun Serli tidak perduli.


Namun tiba-tiba handphone nya berdering. "Ini sudah jam dua malam, kenapa dia masih menghubungi ku?" ucap Roi melihat Panggilan dari Tami.


"Halo?"


"Roi, apa kamu sudah sampai? Kamu sampai dengan selamat kan?" tanya Tami.


"Iyah, aku baru saja sampai, dan sekarang aku sudah di rumah Serli."


"Apa kamu akan tidur di sana?" tanya Tami.


"Enggak, aku mengantar kan nya dan setelah itu kembali ke apartemen ku."


"Bagus deh kalau begitu," ucap Tami merasa lega mendengar nya.


"Ya sudah kalau begitu, aku mau lanjut jalan, aku matikan dulu yah," ucap Roi.


Tami menginyakan dan langsung mematikan sambungan telepon.


Keesokan harinya..


"Selamat pagi," sapa Dimas mencium pipi istri nya yang masih tidur di samping nya.


"Hoammm... aku masih sangat ngantuk," ucap Bela.

__ADS_1


"Ini sudah waktunya bangun," ucap Dimas.


Bela berusaha duduk. "Hari ini Nenek dan Kakek serta keluarga yang lain nya akan kembali ke kota nya. Kita harus mengantarkan nya ke bandara."


"Baiklah kalau begitu. Aku siap-siap dulu."


Vira di kamar nya sudah selesai merapikan buku-buku yang mau di bawa ke sekolah.


"Humm kemarin Yuda membawa bekal ke sekolah, apa aku harus bawa bekal juga?" ucap Vira.


"Tapi seperti nya Mbak Bela tidak bisa masak," ucap Vira.


Dia keluar dari kamar dia melihat mbak nya masak dia sangat senang sekali.


"Mbak Bela, apa hari ini aku boleh bawa bekal ke sekolah?"


"Kenapa bawa bekal? Kan rumah kita dekat."


"Tapi teman-teman ku bawa bekal, aku juga mau," ucap Vira.


"Ya sudah kalau begitu, tunggu mbak buat dulu."


"Tumben-tumbenan banget kamu bawa Bekal, apa kamu kelaparan ketika di sekolah?"


"Bukan Om, tapi aku pengen bawa bekal agar bisa makan bareng sama teman-teman."


Dimas tersenyum. Setelah selesai dia mengantarkan Vira ke depan sekolah.


"Belajar yang rajin yah," ucap Dimas setelah itu dia pergi.


"Setiap hari kamu dianterin ke sekolah, padahal rumah mu sangat dekat," ucap Yuda.


Vira terdiam. "Kamu perempuan yang sangat manja, pasti tidak akan bisa ke sekolah kalau tidak di antar."


Yuda langsung masuk setelah mengetakan itu. "Kenapa sih dia selalu menganggap apa saja tentang ku itu jelek dan tidak bagus?" ucap Vira sedih.


"Ah sudahlah, lagian yang dia bilang benar. Rumah dia sangat jauh tapi setiap hari naik bus angkutan sekolah," ucap Vira.


Waktu jam istirahat...


"Aku boleh ikut makan bareng kamu kan?" tanya Vira duduk di samping Yuda.


"Emang kamu bawa Bekal?"


"Bawa, mbak ku membuat nya untuk ku."


"Rumah mu sangat dekat, kamu bilang mbak mu sedang hamil, kamu selalu saja menyusahkan dia."


"Aku tidak bermaksud menyusahkan mbak bela, aku hanya mau makan di sekolah, tidak ada bedanya makan di rumah."


"Sama saja, kamu menyusahkan mbak mu."


Vira Yuniar yang tadi nya mau makan, namun tidak jadi.

__ADS_1


__ADS_2