
"Kamu sungguh berlebihan."
"Kamu juga akan merindukan aku kan?"
"Tentu, aku tidak akan memiliki teman bicara lagi kalau kamu tidak di sini. Kalau begitu kamu harus cepat pulang."
Fahri mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya sebelum kamu berangkat kamu harus sarapan dulu. Aku akan masak sekarang."
Bela langsung masak agar Fahri makan sebelum berangkat.
Dimas bangun melihat Fahri dan juga Bela ternyata sudah sarapan sama-sama di meja yang ada di dapur.
Dimas menghela nafas panjang melihat mereka berdua terlihat sangat dekat sekali.
Tidak beberapa lama akhirnya waktu nya Fahri berangkat.
"Kamu hati-hati yah," ucap Bela kepada Fahri.
"Ayo Fahri." ajak Dimas membuat Fahri langsung masuk ke dalam mobil.
"Sayang, Om berangkat dulu yah, kamu baik-baik di rumah."
"Kenapa Om setiap hari bekerja? Kenapa Om tidak istirahat saja dulu?" tanya Vira.
"Om harus bekerja agar memiliki uang membeli mainan untuk kamu."
Setelah berpamitan Dimas pun pergi.
Sepanjang perjalanan Dimas membahas pekerjaan kepada Fahri.
Namun Fahri sedikit protes karena pekerjaan nya menjadi tambah dan juga jadwal di luar negeri Semakin lama.
"Huff ada-ada saja yang membuat aku semakin lama di sana," batin Fahri.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di bandara.
"Sampai jumpa nanti.," ucap Dimas kepada Fahri.
Bukan hanya Fahri saja yang berangkat melainkan banyak staf lain nya juga.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka semua berangkat dan Dimas langsung ke kantor.
"Kenapa aku merasa senang melihat Fahri pergi? Biasanya aku selalu sangat berat ketika melepaskan Fahri pergi.
"Pak Dimas," panggil Serli.
"Ada apa?"
"Di depan ada Bu Vivi ribut-ribut,"
Dimas menghela nafas panjang. "Apa yang di inginkan oleh nya lagi?" tanya Dimas dengan sangat kesal.
Setelah itu dia langsung ke bawah melihat Vivi ribut-ribut kalau ingin bertemu dengan Dimas.
Vivi menarik nya ke dalam mobil.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak malu?" tanya Dimas.
"Aku tidak perduli! Aku ingin kamu mendengar kan aku, aku masih sangat mencintai kamu."
"Sayang aku masih sangat mencintai kamu, aku mohon jangan putus kan aku seperti ini."
__ADS_1
"Tidak ada lagi yang bisa di pertahankan Vivi. Kita hanya pacaran namun tidak saling mencintai. Kalau kamu mau aku jujur sebenarnya aku hanya menginginkan tubuh mu!"
"Enggak! Kamu berbohong, itu tidak mungkin kamu pasti berbohong kan?"
Dimas tersenyum tipis.
"Aku sudah bosan dengan kamu, dan sekarang aku lebih nyaman dengan wanita bayaran ku." ucap Dimas.
"Apa maksud kamu Dimas? Kenapa kamu sangat jahat?"
"Sebaik nya kamu berhenti membuang-buang waktu mu sendiri Vivi, kamu hidup lah dengan damai Tampa aku, jangan mempermalukan diri sendiri seperti ini."
"Pergi lah sebelum melakukan hal y kasar kepada mu."
"sayang.."
"Berhenti Vivi!"
Dimas meninggal kan Vivi dan masuk lagi ke kantor nya.
"Kenapa kamu dari tadi diam saja Vira?" tanya Bela kepada Vira.
Vira menoleh ke Bela.
"Aku tidak tau mau ngomong apa karena dari tadi Mbak juga Diam saja."
Bela menghela nafas panjang.
"Humm mbak sangat kesepian."
"Kenapa?" tanya Vira.
"Fahri adalah satu-satunya teman mbak yang sangat baik yang sangat mengerti kepada mbak, namun sekarang dia pergi karena pekerjaan nya."
"Kenapa mbak sangat Sedih? Kan masih ada Om Dimas."
"Kamu benar juga." ucap Bela.
"Humm kamu mau nemanin mbak buat kue?"
"Mbak istirahat saja mbak, dari tadi Mbak bekerja tidak berhenti sama sekali."
"Mbak sangat bosan sekarang, mbak juga ingin belajar bikin kue."
"Humm apa Om Dimas suka kue?" tanya Vira.
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Mbak tidak tau karena mbak sangat jarang melihat nya makan yang aneh-aneh."
"Sesekali Om harus merasakan makanan yang lain agar om Dimas tidak bosan."
"Asal kamu tau yah Om Dimas itu memiliki selera makanan yang cukup buruk dan dia hanya menyukai makanan yang sama setiap hari nya. Mbak juga bingung kenapa om Dimas seperti itu."
Vira tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu kamu duduk saja di sini tunggu mbak buat kue."
Vira mengangguk. Bela berjalan ke arah dapur dia melihat Vira yang duduk di sofa.
"Kenapa Vira lebih banyak diam sih ketika bersama ku? Apa aku terlihat menakutkan atau sangat galak? justru dia lebih dekat kepada pak Dimas yang terlihat sangat galak itu." ucap Bela.
"Entah kenapa aku sangat suka kepada Vira, aku sangat ingin dia lama di sini sampai aku benar-benar dekat kepada nya."
__ADS_1
Tiba-tiba telepon rumah berdering.
"Halo.."
"Bela ini saya Serli, apa kamu di rumah?" tanya Serli.
"Iyah aku di rumah mbak."
"Kebetulan banget, saya mau ke sana." ucap Serli.
"Baiklah Mbak."
"Tumben banget mbak Serli ke sini siang-siang , ada apa yah?" batin Bela dia tidak lupa juga menyiapkan makan siang untuk di antar ke kantor Dimas.
"Vira...." Serli sudah sampai setelah beberapa menit.
"Tante cantik," ucap Vira.
"Lihat nih Tante bawa jajan sama mainan untuk kamu, kamu suka kan?" tanya Serli.
Vira sangat suka dia tidak lupa mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih ya Tante," ucap Vira.
"Sama-sama cantik, mbak Bela nya mana?" tanya Serli kepada Vira.
"Ada di belakang Tante."
"Ya udah kamu main di sini saja, Tante ke belakang dulu."
"Mbak Serli sudah sampai?" ucap Bela.
"Kamu sedang apa? Kenapa Wangi sekali?"
"Ini untuk Bekal pak Dimas mbak, mbak duduk sebentar saya akan buat minuman."
Serli mengangguk.
Setelah beberapa lama akhirnya selesai Bela duduk bersama Serli di meja mini bar.
"Tumben banget Mbak datang ke sini di siang hari, apa ada hal yang penting?" tanya Bela.
"Sebenarnya tidak terlalu penting sih hanya saja saya ingin ke sini."
Bela menatap aneh kepada raut wajah serli.
"Kalau ada sesuatu yang mau di sampaikan langsung saja Mbak." ucap Bela.
Serli melihat ke sekeliling.
"Humm sebaiknya kita bicarakan ini di kamar kamu saja."
"Kamar saya? mbak lupa kalau saya satu kamar dengan pak Dimas."
"Ini sangat penting Bela, pokoknya kamu harus ikut aku agar tidak di pantau oleh Cctv."
Bela penasaran akhirnya dia pun menginyakan dan langsung masuk ke kamar.
"Ambil lah ini." Tiba-tiba Serli memberikan uang kepada Bela.
"Untuk apa ini mbak?" tanya Bela kaget.
"Ini untuk kamu, kamu pasti membutuhkan uang untuk keperluan kamu."
__ADS_1
"Tapi kalau pak Dimas tau dia pasti akan sangat marah Mbak."
"Tidak akan dia tau kalau kamu diam saja, aku sangat tidak enak karena tidak membayar upah kamu selama bekerja di sini."