Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 123


__ADS_3

uar juga sangat dingin.


"Alam sebaiknya kamu juga tidur lah," ucap Kayla.


"Baik Tan."


"Humm aku masuk dulu yah Om, kita lanjut besok."


"Baiklah," ucap Fahri dan setelah itu Alam keponakan Kayla masuk ke dalam.


"Kami sangat mudah akrab dengan Papah dan juga Keponakanku, biasanya mereka sangat sulit bergaul, jangan kan dengan orang lain, dengan Dimas saja mereka kurang dekat," ucap Kayla.


Fahri tersenyum. "Keponakan mbak sangat ganteng, dia juga penurut."


"Iyah dia tidak sama seperti Dimas yang memiliki sifat keras kepala," ucap Kayla.


Fahri tersenyum dia menatap Kayla. "Huff selama beberapa hari ini aku tidak bisa mencium mbak, apa aku bisa mencium mbak sekarang?" tanya Fahri.


Kayla tersenyum malu. "Sebaiknya jangan di sini, bagaimana kalau ada yang melihat?" tanya Kayla.


Fahri tersenyum sambil mengangguk. "Oke baiklah kalau begitu," ucap Fahri.


Sementara di rumah Bela, dia sama sekali tidak bisa tidur karena tidak tenang.


"Sebenarnya siapa lagi sih yang mau berbuat jahat? Apa yang mereka inginkan dari aku?" tanya Bela penasaran.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Bela mendadak takut, dia melihat Vira yang tidur di samping nya.


Dia berniat untuk tidak membuka pintu karena takut, namun tiba-tiba ada pesan masuk ke handphone nya dari Dimas, dia langsung membuka nya.


Dan ternyata Dimas yang ada di depan, Bela langsung bergegas keluar membuka pintu.


"Kenapa kakak datang tengah malam?" tanya Bela.


Dimas langsung masuk ke dalam dan menutup pintu.


"Maaf sudah membuat kamu kaget, saya datang tengah malam agar tidak ada yang tau."


Bela menghela nafas panjang. "Tapi sejauh ini seperti nya sudah tidak ada yang mengikuti aku kak," ucap Bela.


"Seperti nya dia sudah tidak tau kamu pindah ke sini, sebaiknya kamu tetap waspada. Ini pasti salah satu dari musuh Ayah mu."


"Dari mana kakak tau?" tanya Bela.


"Setelah satu Minggu mengikuti dan mencari tau, dia masih ada sangkut pautnya dengan musuh-musuh pak Irfan yang bersaingan dengan dunia bisnis."


"Tapi apa hubungan nya sama ku?"

__ADS_1


"Mereka mungkin memiliki dendam pribadi, itu sebabnya mereka mau mencelakai kamu dan juga Vira."


"Tapi kamu tidak perlu khawatir, sekarang dia tidak akan berani mencelakai kamu, karena saya sudah meminta orang-orangan saya menjaga kamu dan Vira dari kejauhan."


Bela sangat lega mendengar nya. "Terimakasih kak, aku sangat berterimakasih kepada kakak."


"Oh iya malam ini saya akan menginap di sini," ucap Dimas.


"Emangnya besok kakak tidak bekerja?"


"Kamu lupa besok adalah hari Minggu, saya ingin menemani Vira di Sini."


Bela tersenyum, "Pas banget Kak, besok aku akan mengunjungi ibu ke penjara," ucap Bela


"Apa kamu mau saya antar?" tanya Dimas. Bela langsung menggeleng kan kepala nya.


"Gak usah kak, aku sendiri Saja, lagian Vira tidak boleh tau."


"Oh iya saya lupa." ucap Dimas. Bela mau pergi membuat teh untuk Dimas namun di tahan oleh Dimas. Dia tidak ingin minum, dia hanya mau istirahat saja.


Dimas tidur bersama Vira sementara Bela tidur di kamar nya sendiri.


Walaupun sedikit takut tapi tidak mungkin dia tidur bersama Dimas.


Setelah beberapa lama akhirnya Bela tidur. Dimas juga langsung ikut tidur.


"Om Dimas, om Dimas bangun, kenapa bisa om sini?" tanya Vira. Dimas bangun dia melihat Vira sambil tersenyum.


"Om sangat merindukan kamu, tadi malam kamu sudah tidur Om sampai di sini."


"Aku juga sangat merindukan Om Dimas," ucap Vira memeluk Dimas sangat erat sekali. Bela melihat itu dia menghela nafas panjang.


Sebelum Bela berangkat dia masak dulu, memastikan Vira dan Dimas makan.. Namun Vira sama sekali tidak mengijinkan Dimas berdekatan dengan nya.


Vira memiliki Dimas sepenuhnya, Bela cemburu melihat Vira yang mencuri Dimas dari nya.


"Sebenarnya pacar nya siapa sih? Aku apa Adik ku?" ucap Bela.


Bela pergi pun tidak di hiraukan oleh Vira, dia sangat senang bersama Dimas sehingga lupa kalau Bela adalah mbak Kandung nya bukan Dimas.


"Kak aku berangkat dulu yah, aku titip Vira."


"Iyah, kamu juga hati-hati, jangan lupa mengabari saya kalau kamu sudah sampai."


Bela mengangguk. "Oh iya tunggu dulu, kamu pergi sama siapa?" tanya Dimas.


"Humm aku pergi dengan Kevin."

__ADS_1


"Kevin?" tanya Dimas sangat kaget mendengar nama Kevin.


"Kakak tidak perlu khawatir, ada Yana juga kok, mereka yang berinisiatif bertemu dengan ibu."


Dimas menghela nafas panjang. "Baiklah kamu bisa pergi, tapi cepat lah pulang, ingat kekasih mu menunggu di rumah." Bela tersenyum dia mengangguk.


"Bela, kamu sendiri? Di mana Vira?" tanya Yana.


"Humm dia sama pelayan yang bertugas menjaga dia."


"Loh bukannya kamu sendiri yang ngomong kalau pelayan penjaga Vira tiap hari Minggu pulang ke rumah utama?"


"Humm maksud aku yang lain, mereka datang menjaga Vira."


"Apa iya? Tapi mobil itu punya siapa?" tanya Yana.


Bela melihat mobil baru yang terparkir di depan rumah nya.


"Sudah ku duga kamu pasti beli mobil baru kan? Atau jangan-jangan kamu membawa koleksi mobil ayahmu ke sini." ucap Yana.


"Kamu benar banget, untuk siapa lagi mobil itu kalau bukan untuk aku dan juga Vira."


"Nah gitu dong, kalau kamu memiliki uang banyak, menunjukkan kalau kamu bisa membeli semua mulut yang menghina kamu, mereka akan minder sendiri dan berhenti menghujat kamu."


"Kata Yana benar, Bela." ucap kevin sambil Terus fokus membawa mobil.


"Mau bagaimana pun kamu harus menunjukkan kepada mereka yang menghina kamu."


"Tapi mereka akan mengatakan kata-kata yang lebih menyakitkan."


"Berhenti memikirkan tentang apa yang di katakan oleh orang lain, selagi kamu tidak meminta makan kepada mereka, mereka tidak berhak sama hidup mu."


"Yang bersalah adalah orang tua kamu, bukan kamu dan juga Vira. Kamu juga harus menutup semua mulut anak-anak kampus yang berani mengatakan hal yang menyakit kan."


Bela terdiam. Dia hanya menutupi Dimas di rumah nya namun pembahasan nya sampai ke situ.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di depan kantor polisi.


"Kalian berdua yakin mau ikut?" tanya Bela. Mereka mengangguk walaupun sedikit takut karena melihat polisi tapi mereka sangat penasaran.


Mereka melihat Bu Sisi yang semakin kurus dan tidak terurus. Wajah nya tampak sangat Sedih sekali.


"Kenapa kita tidak masuk menyapa Bela?" tanya kevin.


"Aku tidak ingin bertemu dengan nya, melihat nya dari jauh saja sudah cukup."


Kevin dan Yan menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu," ucap mereka berdua.

__ADS_1


Setelah Itu mereka keluar dan menitipkan makanan kepada penjaga sel.


__ADS_2