
Tami di bawa paksa oleh pacar nya.
Melihat Tami Dimas sedikit terhibur karena dia bisa marah.
Namun tiba-tiba dia kefikiran kepada orang tua nya membuat mood nya tidak bagus.
Dimas memutuskan untuk pulang ke rumah, sesampainya di rumah seperti biasa Bela menunggu nya namun kali ini Bela menyambut nya tidak dengan senyuman.
Dimas mau memeluk dan mencium nya namun Bela langsung menghindar.
Dimas melihat Bela langsung meninggalkan nya.
"Apa itu benar Bela? kenapa dia terlihat sangat berbeda?" tanya Dimas.
Karena biasanya bela selalu memasang wajah tersenyum, ramah dan sangat hangat ketika Dimas pulang bekerja.
Dimas mandi dan makan namun Bela sama sekali tidak menemani dia. .Dimas berusaha mendekati Bela namun dengan seribu cara Bela menghindar.
"Bela kamu kenapa sih?" tanya Dimas masuk ke kamar.
Bela menoleh ke arah Dimas, tidak mengatakan apapun malah pindah ke sofa.
Dimas menghela nafas panjang.
"Kamu masih marah tentang Vira?" tanya Dimas.
Bela tidak menjawab nya dia hanya diam saja.
"Saya minta maaf Bela, saya juga tidak ingin Vira dengan orang lain namun ini demi kebaikan dia."
"Vira juga tidak mau pergi dengan orang lain kak, dia tidak ingin pergi dari kita, namun kakak sangat tega."
Dimas mendekati Bela memeluk nya.
"Saya tidak tau harus bagaimana Bela, saya serba salah."
Bela terlihat sangat sedih, Dimas berusaha untuk menenangkan Bela.
Beberapa hari setelah itu Bela sakit.
"Bik kok dari tadi Bela tidak keluar dari kamar yah?" tanya pelayan lain kepada Bibik.
"Mungkin lagi istirahat, sudah lah biarkan saja, suasana hati nya sedang tidak baik."
"Tapi bik, sebaiknya Bibik periksa dulu, aku sangat khawatir." ucap teman Bibik itu.
Bibik mengangguk dia langsung ke kamar memeriksa Bela.
"Bela..." Bibik masuk tanpa mengetuk pintu.
"Ya ampun Bela kenapa jam segini kamu masih tidur?" tanya Bibik sambil menarik selimut Bela.
Bibik sangat kaget melihat Bela Pucat dan memakai baju yang tebal seperti jaket.
"Loh Bela kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Bibik sambil memeriksa suhu badan Bela.
Dan ternyata benar badan Bela sangat panas sekali.
Bibik sangat panik dia langsung menghubungi Dimas menggunakan handphone Bela.
Dimas yang sedang di luar mengurus pekerjaan lupa membawa handphone nya.
Bibik mengirimkan pesan kepada Dimas agar Dimas membaca nya.
__ADS_1
Bibik meminta bantuan teman nya membawa obat, dan juga air serta yang lainnya juga.
"Ya Allah Bela kenapa kamu harus sakit sih? Kalau kamu sakit seperti ini membuat Bibik khawatir saja." ucap Bibik.
Bela masih belum sadar.
Di kantor Dimas baru saja masuk ke ruangan nya.
"Pak Dimas sudah makan?" tanya Tami.
"Belum, seperti nya makan siang saya belum datang."
"Oohh begitu, saya mau makan siang di luar, apa Bapak mau menitip jajan?"
"Tidak perlu, kamu pergi saja."
Tami tersenyum sambil mengangguk.
"Wahhh kamu anak magang berani banget sama pak bos seperti itu." ucap teman-teman nya.
"Apa yang salah? Aku masih hormat dan aku juga masih sopan."
"Iyah sih, tapi kamu tidak boleh menggoda pak Dimas terus, kasian pacar kamu."
Tami tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita cari makan siang, aku sudah sangat lapar sekali."
Dimas masuk ke ruangan nya berharap makan siang nya sudah ada di ruangan nya namun ternyata belum ada.
Dia mau menghubungi supir nya namun setelah melihat panggilan tak terjawab dari nomor Bela membuat nya penasaran dan membuka pesan masuk.
"Tuan, Bela demam tinggi sekarang, apa Tuan bisa datang?" tanya Bibik.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Bik bagaimana keadaan Bela?"
"Saya minta maaf sudah mengganggu waktu bekerja Bapak, namun sekarang Bela demam tinggi sehingga dia tidak bangun dari tadi."
Dimas semakin panik dia berlari ke kamar nya dan melihat Bela yang sangat pucat sekali.
"Bela... Bela.." panggil Dimas.
Bela membuka mata nya sadar kalau Dimas datang.
"Kita ke rumah sakit yah,"
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Kamu kenapa bisa seperti ini?" tanya Dimas karena pagi tadi masih baik-baik saja."
"Dari tadi Bela tidak berhenti memanggilku nama Vira Tuan."
Dimas terdiam sejenak.
"Apa Bela merindukan Vira sampai demam seperti ini? Atau jangan-jangan sekarang Vira juga sedang demam?" batin Dimas.
"Terimakasih bik sudah menjaga Bela, apa dia sudah Makan?"
"Bela dari tadi tidak mau makan Tuan, minum obat juga tidak mau."
Dimas menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Bawa obat dan makan nya ke sini agar saya yang memberikan nya."
Bibik mengangguk dan langsung menyiapkan apa yang di suruh oleh Dimas.
Dimas memaksa Bela makan dan minum obat.
Setelah Bela minum obat Dimas bisa tenang.
"Sekarang kamu istirahat saja."
Dimas mengelus kepala Bela agar bisa lebih tenang.
Setelah beberapa lama akhirnya Bela kembali tidur.
Dimas memastikan Bela tidur dan dia keluar untuk menghubungi Rio.
"Halo Pak."
"Rio, dimana kamu? Apa keadaan Vira di rumah orang tua angkat nya baik-baik saja?"
"Hari ini Vira demam Pak, mungkin karena di tempat baru jadi hal wajar saja." ucap Rio.
"Di sini juga lagi demam tinggi, saya mau kamu terus mengawasi nya, apa mereka sudah membawa Vira berobat.
"Sudah Tuan, mereka baru saja pulang dari klinik."
"Bagus lah kalau begitu."
Dimas langsung mematikan sambungan telepon.
Rio menghela nafas panjang.
"Sudah tidak bisa di pungkiri lagi kalau mereka adalah saudara kandung," ucap Rio.
"Aku tidak tau betul apa yang terlintas di pikiran kedua orang tua Bela dan Vira sehingga memisahkan mereka, namun dari kejauhan tetap di pantau." ucap Rio.
Di malam hari nya Dimas sedang fokus dengan laptop nya namun Bela terbangun.
Dia melihat Dimas yang duduk di kursi kerjanya.
"Kak..." ucap Bela, Dimas langsung berjalan ke arah Bela.
"Iyah kenapa saya? apa kamu mau minum? mau ke kamar mandi?" tanya Dimas.
Bela duduk. "Kamu mau ke kamar mandi?"
Bela mengangguk. Dimas membantu Bela ke kamar mandi.
Sampai di kamar mandi Dimas terpaksa harus memunggungi Bela.
Setelah selesai Dimas membantu membawa keluar.
"Apa Vira belum datang Kak? Aku sangat merindukan dia."
Dimas menghela nafas panjang dia memegang tangan Bela menatap mata nya.
"Ini hari kedua Vira di rumah orang tua angkat nya, kamu jangan terlalu memikirkan dia seperti ini, dia juga pasti akan kefikiran sama kamu."
"Tapi aku.."
"Ssttt!!! Setelah kamu sembuh saya akan membawa kamu bertemu dengan Vira."
"Kakak janji?" tanya Bela. Dimas mengangguk.
__ADS_1
Dimas memeluk Bela.