Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 137


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu jam menunggu jarum jam sudah di angka sepuluh akhirnya Bela memutuskan untuk mengunci pintu.


Namun saat mengunci pintu Dimas datang. Bela melihat Dimas dengan keadaan berangkat sekali.


"Kak Dimas, kenapa baru pulang ?" tanya Bela.


Dimas tersenyum dia mengelus kepala Bela. "Apa kamu menunggu ku? Aku minta maaf sudah membuat kamu menunggu lama," ucap Dimas.


Bela mencium bau alkohol. "Apa kakak minum?" tanya Bela.


"Hanya sedikit saja, Rio sengaja memaksa saya minum," ucap Dimas.


Bela menghela nafas panjang. Dimas berjalan sendiri ke sofa.


"Kenapa kamu belum tidur? Kamu istirahat saja." ucap Dimas. "Justru kakak yang harus tidur, lihat lah keadaan kakak sangat buruk."


"Aku akan mandi," ucap Dimas, membuka baju nya di depan Bela membuat Bela kaget.


Bela hanya bisa menghela nafas panjang, dia melihat Dimas membuang baju nya ke sembarangan arah.


"Apa-apaan ini?" ucap Bela. Dia menunggu Dimas sampai selesai mandi.


"Kamu belum tidur?" tanya Dimas setelah masuk ke kamar Bela.


Bela menghela nafas panjang. "Sudah sadar sekarang?" tanya Bela.


Dimas memasang wajah bersalah.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk mabuk, aku di paksa oleh Rio."


"Jangan berbohong!"


"Iyah-iyah, aku yang ngajak Rio."


"Untung saja Vira sudah tidur dan tidak melihat kakak mabuk seperti tadi," ucap Bela.


Dimas duduk di samping Bela, dia memegang tangan Bela.


"Aku minta maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi."


"Apa yang terjadi? Apa yang sudah terjadi sehingga kakak memutuskan untuk mabuk seperti ini?" tanya Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada, aku hanya ingin minum Saja."


"Lain kali kalau minum jangan sampai aku tau atau pun Vira." Dimas mengangguk.


"aku minta maaf yah, kamu mau maafin aku kan?" tanya Dimas.


Bela mengangguk. Dimas mau memeluk Bela namun Bela menahan nya. "Sebaiknya malam ini Kakak tidur dengan Vira, aku sudah bisa sendiri," ucap Bela.


Dimas tidak ingin Bela tambah marah kepada nya, akhirnya dia mengangguk dan langsung ke kamar Vira.


Keesokan harinya...

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Dimas kaget bangun-bangun sudah melihat Serli Sekretaris nya di ruang tamu Bela.


Serli tersenyum, dia mengangkat cemilan yang dia bawa dan semua bawaan nya untuk Bela.


"Aku datang mengunjungi Bela,. Bapak sendiri kenapa bisa di sini?" tanya Serli.


"Sa-saya di sini, saya menjaga Vira dan juga Bela."


Serli menatap dengan tatapan curiga.


"Kenapa kamu Menatap saya seperti itu? Saya akan pergi mandi."


Bela datang ke arah Serli. "Maaf yah buat mbak lama nungguin."


"Iyah gak apa-apa, kamu sudah sehat?"


"Belum sembuh total, tapi ini sudah jauh lebih baik."


"Bagus deh kalau begitu, aku senang mendengar nya. Nih aku banyak bawa makanan untuk kamu, semoga kamu cepat sembuh."


"Terimakasih banyak Mbak," ucap Bela.


Mereka berbincang-bincang di ruang tamu cukup lama. Tidak beberapa lama Dimas keluar bersama Vira.


"Kenapa kamu masih di sini? Ini sudah jam kerja."


"Tidak ada jadwal yang mendesak pak, saya masih ingin di sini bersama Bela."


"Gak apa-apa kak, biarin aja, lagian aku juga mau berbicara dengan mbak Serli."


Dimas menghela nafas panjang. Dia duduk bergabung dengan mereka.


"Oh iya saya juga mau bilang sama bapak untuk hati-hati lain kali." ucap Serli.


"Maksud nya?"


"Hubungan bapak dengan Bela hampir saja di ketahui banyak orang."


Dimas menoleh ke arah Bela. "Sudah tidak perlu terlalu di pikirkan, aku bisa menangani masalah itu. Lain kali harus benar-benar hati-hati. Ini demi kenyamanan bersama."


Dimas mengangguk. "Ya sudah kalau begitu kamu harus segera kembali ke perusahaan sekarang."


"Bapak juga sudah telat."


"Saya adalah bos nya!"


Serli menghela nafas panjang. "Aku bingung, setauku ini adalah rumah Bela, namun yang mengusir ku adalah orang lain yang tidak tau apa hak nya di rumah ini," ucap Serli.


Dimas sangat kesal, Bela hanya bisa tertawa kecil melihat Dimas kesal di sindir seperti itu.


Serli langsung kabur setelah mengatakan itu, dia tetap takut kalau Dimas benar-benar marah kepada nya.


Sementara di Tempat lain Fahri sedang membantu Kayla membawa koper ke dalam mobil.

__ADS_1


"Bik, aku berangkat dulu yah, jaga rumah baik-baik."


"Hanya empat hari saja kan Non, non harus pulang cepat agar bisa merayakan ulang tahun bersama."


Kayla mengangguk. Fahri meninggal kan halaman rumah.


Kayla melihat wajah Fahri yang sangat sedih. Dia memeluk lengan Dimas sambil bersender di pundak Fahri.


Sementara Fahri menyetir menggunakan tangan kanan nya.


Fahri masih tetap dengan gaya stay cool, dia tidak akan menunjukkan sifat lembek nya kepada Kayla.


Walaupun sebenarnya Kayla tau kalau Fahri sedih dia mau pergi.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di perusahaan, Kayla berpamitan dulu kepada Dimas, setelah itu berangkat.


Setelah Kayla sudah sampai di Bandara dia pun langsung kembali ke perusahaan karena ada jadwal pagi.


Sesampainya di perusahaan Dimas melihat wajah Fahri yang tidak biasanya terlihat murung seperti itu.


"Ekhem-ekhem!!" Fahri menatap ke arah Dimas yang berdiri di sampingnya, dia langsung fokus bekerja.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kelihatan nya kamu tidak fokus." tanya Dimas.


Fahri menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada pak, saya hanya memikirkan pekerjaan."


"Apa kamu mengantar kan Kayla ke bandara?" Fahri mengangguk.


"Apa kamu merindukan dia?"


Fahri terdiam dia menatap Dimas.


"Saya hanya bercanda, ya sudah kalau begitu kamu bisa lanjut bekerja, saya juga ada urusan."


Dimas tersenyum dan langsung meninggalkan Fahri.


Sementara di rumah Bela sedang di dampingi oleh dokter yang di bayar khusus untuk melatih bela berjalan dan di dampingi oleh Bibik.


"Wahh mbak Bela sudah bisa jalan, mbak Bela sudah sembuh," ucap Vira sangat senang sekali.


Tiba-tiba handphone Bela yang di dekat Bibik bunyi. "Halo Tuan."


"Bik, di mana Bela?"


"Lagi sama dokter, apa Tuan mau melihat?"


Bibik mengalihkan ke panggilan video. Dimas melihat Bela berjalan.


Ternyata Bela cukup cepat bisa sembuh. "Kamu harus segera sembuh Bela, ingat Vira dan aku butuh kamu," batin Dimas.


Dimas tidak ingin mengganggu dia pun mematikan sambungan telepon.


"Sudah pak, langsung di nikahi saja, lagian kalau seperti ini orang-orang Akan semakin curiga, kalau nikah kan sudah tidak ada lagi kata-kata yang menuduh," ucap Serli.

__ADS_1


"Maksud ku itu, kalau menikah bapak bisa melindungi Bela, dan kalian tidak perlu menyembunyikan hubungan ini lagi." ucap Serli.


__ADS_2