
Bela penasaran akhirnya dia pun menginyakan dan langsung masuk ke kamar.
"Ambil lah ini." Tiba-tiba Serli memberikan uang kepada Bela.
"Untuk apa ini mbak?" tanya Bela kaget.
"Ini untuk kamu, kamu pasti membutuhkan uang untuk keperluan kamu."
"Tapi kalau pak Dimas tau dia pasti akan sangat marah Mbak."
"Tidak akan dia tau kalau kamu diam saja, aku sangat tidak enak karena tidak membayar upah kamu selama bekerja di sini."
"Mbak sebaiknya jangan," tolak Bela karena takut.
"Bela apa kamu tidak membutuhkan uang ini? Kamu bisa membeli apapun yang kamu mau dengan uang ini."
Bela menggeleng kan kepala nya sambil menunduk kan kepala nya membuat Serli kebingungan.
"Kamu bisa membeli handphone dan menghubungi keluarga mu, kamu juga bisa membeli baju baru, Makanan yang kamu mau dan jalan-jalan."
"Aku tidak mempunyai keluarga untuk di hubungi."
"Bagaimana dengan orang tua kamu?"
"Mereka akan marah kalau aku menelpon mereka."
Serli menghela nafas panjang.
"Kalau pun aku memiliki uang Pak Dimas tidak mengijinkan aku keluar."
"Kamu bisa membeli nya dengan online."
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Huff kalau begitu katakan apa yang kamu mau, aku tau sebenarnya kamu takut kepada pak Dimas," ucap Serli.
"Sebenarnya aku sangat ingin menonton bioskop Mbak, aku belum pernah sama sekali nonton bioskop."
"Hanya itu saja?"
Bela mengangguk.
"Barang yang lain? apa kamu tidak ingin tas? atau baju, sepatu?"
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Huff baiklah kalau begitu besok hari Minggu kita akan pergi Nonton."
"Tapi bagaimana kalau pak Dimas tidak mengijinkan nya?"
"Sudah tidak perlu khawatir."
Hari Minggu pun tiba.
Bela sedang sibuk di dapur sementara Dimas ada di depan bekerja sementara Vira sudah pulang ke panti asuhan di jemput oleh yayasan karena tidak bisa lama-lama.
Sebenarnya Bela sangat kesepian namun dia tidak bisa menahan Vira.
"Mbak Serli semoga tidak jadi datang, bagaimana kalau pak Dimas marah-marah?" Bela terlihat sangat khawatir sambil melihat ke depan.
"Selamat pagi pak Dimas yang tampan dan dermawan.." ucap Serli yang baru saja datang.
Dimas melihat Serli dia menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ngapain kamu pagi-pagi ke sini? Saya tidak ingin melihat wajah kamu hari Minggu, jangan membuat hari libur saya tidak baik karena kamu."
"Saya ke sini bukan mau mengganggu bapak, tapi saya mau meminjam Bela sebentar."
Dimas terdiam sejenak dia menatap Serli.
"Maksud kamu?"
"Saya dengan Bela sudah sepakat hari ini mau nonton bioskop."
"Tidak bisa! Kenapa kamu tidak bilang dulu kepada saya?"
"Kalau bilang sama Bapak percuma saja, karena tidak akan di ijinkan!"
Dimas menghela nafas panjang menatap Serli.
"Saya tidak akan mengijinkan nya."
"Ini hari Minggu, Bapak juga tidak ada kegiatan apapun, Bela pasti sangat bosan di rumah."
"Kenapa dia bosan? buktinya dia biasa saja."
"Huff bagaimana ini? Kenapa sangat susah melabuhi Pria ini," gumam Serli.
"Sebaik nya kamu pergi saja, jangan mengganggu saya!"
tiba-tiba Bela datang ke depan. Dimas menatap Bela.
"Saya juga ingin pergi Nonton bioskop bersama mbak Serli Pak, saya mohon ijin kan saya."
Dimas terdiam sejenak.
"Kalau begitu saya juga ikut," ucap Dimas langsung meletakkan Tab nya dan berdiri membuat Bela dan Serli kebingungan.
"Kalau saya tidak ikut kalian tidak boleh pergi."
Serli menghela nafas.
"Sebaik nya aku iyakan saja dari pada Bela tidak jadi nonton," batin Serli.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka siap untuk berangkat.
"Bela kamu yakin mau berangkat dengan pakaian seperti ini? ganti-ganti!"
"Loh kenapa mbak?"
"Sudah ganti saja."
Serli membantu Bela memilih pakaian yang bagus untuk badan Bela.
"Kamu juga harus memoles sedikit wajah mu, aku tau wajah mu sudah cantik hanya saja kamu tetap harus memoles nya."
"Nah gini kan cantik, ayo berangkat."
Selama di perjalanan Serli dan Bela di bagian depan hanya diam saja. Karena Dimas duduk di belakang.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai.
"Kamu tunggu di sini dulu, aku akan membeli tiket."
Bela mengangguk dia duduk bersama Dimas di sana.
"Sebaiknya bapak istirahat saja, saya minta maaf karena sudah merepotkan Bapak."
__ADS_1
"Benar, kamu merepotkan saya," ucap Dimas membuat Bela kaget.
"Maaf," ucap Bela dengan sangat pelan.
"Saya bahkan belum sarapan," ucap Dimas memegang perut nya.
"Bagaimana kalau Bapak sarapan dulu?" tanya Bela.
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Ayo kita masuk," ajak Serli.
Dimas berdiri mengikuti mereka.
"Loh Bapak mau kemana? Bapak belum membeli tiket tidak bisa masuk."
"Loh kenapa kamu tidak membeli untuk saya?"
"Sudah penuh dan tiket nya sudah habis," ucap Serli.
Dengan wajah yang sangat puas Serli masuk ke dalam bersama Bela karena kalau Nonton bersama Dimas pasti tidak fokus menonton.
Dimas menghela nafas panjang.
"Benar-benar tu anak!"
Dimas pergi dari sana mencari sesuatu yang bisa di makan karena sudah hampir jam 12 Siang.
Namun saat mau membeli makanan tidak sengaja dia seperti melihat orang yang mirip dengan adik orang tua Bela.
"Tunggu-tunggu, bukan nya pria itu yang ada di dalam foto keluarga mereka? Sangat mirip sekali," Dimas berusaha mengejarnya namun baru beberapa detik target sudah menghilang.
Pria itu juga terlihat tidak membeli apapun ke sana, Dimas khawatir kalau dia memiliki janji di tempat itu.
Dimas berkeliling mencari sesuatu namun sudah hampir dua jam dia berkeliling namun tidak mendapatkan informasi apapun.
Dimas juga melihat rekaman Cctv, sayang nya wajah pria itu tidak terlihat jelas sekali.
Tiba-tiba handphone Dimas berdering telpon dari Serli.
"Halo!"
"Kami sudah keluar, bapak di Mana?"
"Sebaiknya Kalian pulang saja dulu, saya masih ada kerjaan."
"Bukan pak Dimas namanya kalau tidak mementingkan pekerjaan."
Bela dan Serli nongkrong di Cafe.
"Kamu seperti nya sangat senang hari ini, aku tidak pernah melihat wajah kamu berseri-seri seperti ini."
"Aku sangat senang mbak, terimakasih sudah membawa aku keluar."
"Loh bukannya sebelum nya pak Dimas Sudah membawa kamu keluar juga?"
"Tapi kalau dengan pak Dimas aku tidak bisa menikmati perjalanan."
Serli tersenyum.
"Aslinya pak Dimas baik kok, hanya saja dia berubah karena mendapati masalah yang menimpa hidup nya, pasti kamu tau kan kalau pak Dimas itu memiliki sifat yang ramah, perduli dan tidak sekejam sekarang," ucap Serli.
"Walaupun banyak orang ngomong seperti itu, namun wajah nya tidak cocok jadi orang seperti itu, dia berbicara saja sudah membuat aku takut," batin Bela.
__ADS_1
Jangan ku ucap Like, komen dan juga vote, satu lagi Rate bintang lima nya dong 🤗🤗🙏🙏