
"Yang bersalah adalah orang tua kamu, bukan kamu dan juga Vira. Kamu juga harus menutup semua mulut anak-anak kampus yang berani mengatakan hal yang menyakit kan."
Bela terdiam. Dia hanya menutupi Dimas di rumah nya namun pembahasan nya sampai ke situ.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di depan kantor polisi.
"Kalian berdua yakin mau ikut?" tanya Bela. Mereka mengangguk walaupun sedikit takut karena melihat polisi tapi mereka sangat penasaran.
Mereka melihat Bu Sisi yang semakin kurus dan tidak terurus. Wajah nya tampak sangat Sedih sekali.
"Kenapa kita tidak masuk menyapa Bela?" tanya kevin.
"Aku tidak ingin bertemu dengan nya, melihat nya dari jauh saja sudah cukup."
Kevin dan Yan menghela nafas panjang. "Baiklah kalau begitu," ucap mereka berdua.
Setelah Itu mereka keluar dan menitipkan makanan kepada penjaga sel.
Keluar dari sana Bela tidak merasa bahagia sama sekali, dia malah merasa sedih.
Kevin dan Yana tidak berani bertanya banyak, akhirnya mereka memilih untuk diam saja.
Setelah beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Bela.
"Kami boleh mampir gak? kami juga mau melihat rumah baru kamu seperti apa."
"Tidak ada yang spesial, lagian masih sangat berantakan, aku minta maaf tapi aku mohon kalian mampir lain kali saja."
"Tapi aku penasaran, aku ingin masuk."
"Makasih yah sudah mau nemanin aku," ucap Bela langsung pergi dari sana.
Mereka berdua menghela nafas panjang. "Huff Bela benar-benar yah, mentang-mentang dia memilih rumah baru dia tidak mengijinkan kita masuk ke dalam."
"Mungkin yang dia katakan benar, dia pasti malu memiliki rumah yang berantakan, lain kali kalau kita mau masuk kita bisa membuat janji terlebih dahulu."
"Kamu benar banget, ya udah deh kalau begitu sebaiknya kita pulang saja, aku ada janji dengan pacar ku siang ini," ucap Yana.
"Oh iya Vincent, seperti nya kamu memiliki perasaan kepada Bela yah?" tanya Yana.
"Maksud nya?"
"Kamu tidak perlu berpura-pura tidak tau seperti itu, aku tau kok kalau kamu seperti nya memiliki rasa kepada Bela."
Vincent diam. "Lihat saja kamu rela-relain menemani dia ke penjara menjenguk orang tua nya." ucap Yana.
"Kalau pun aku memiliki rasa kepada Bela aku tidak bisa mengharapkan hal yang lebih selain mencintai nya diam-diam."
__ADS_1
"Kenapa seperti itu?" tanya Yana.
"Seperti nya Bela sudah menyimpan seseorang di hati nya."
"Selagi bela belum menikah, tidak ada salahnya kamu berharap, perjuangan mu tidak akan sia-sia, Lagian kamu sangat tampan kamu memiliki banyak uang."
"Tapi Bela tidak mudah di dapatkan," ucap Kevin.
"Huff seharusnya kamu itu percaya diri dan jangan mudah menyerah," ucap Yana.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Yana. "Makasih sudah nganterin aku pulang. Oh iya harus semangat dan kamu yakin dengan perasaan kamu."
"Kenapa kamu sangat cepat pulang?" tanya Dimas melihat Bela sudah pulang padahal belum jam sebelas siang.
"Aku sudah bilang kalau aku tidak lama," ucap Bela.
Dimas tersenyum.
"Berhubung kita tidak ada kesibukan lagi, bagaimana kalau kita ke rumah saya?" tanya Dimas.
Bela menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau, aku tidak ingin bertemu dengan mbak Kayla."
"Dia belum pulang, dia masih di rumah orang tua nya."
"Sejak Kapan? Kok aku baru tau?"
Bela langsung mau main ke rumah Dimas, dia juga sudah merindukan Bibik dan teman-teman nya.
Mereka keluar dari dalam rumah. Bela memerhatikan mobil Dimas.
"Apa Kakak membeli mobil baru?" tanya Bela.
"Saya harus melakukan itu agar saya tidak ketahuan mengikuti orang jahat itu."
"Sangat boros sekali," ucap Bela.
"Jangan berfikir ini boros, justru ini untuk investasi di masa tua nanti."
Bela menghela nafas panjang. "Humm terserah kakak saja deh," ucap Bela.
"Ya sudah kalau begitu langsung masuk gih," ucap Dimas.
Bela dan Vira masuk ke dalam mobil Dimas. "Mobil om Dimas bagus banget, tidak sama seperti mobil mbak Bela."
"Jangan membeda-bedakan mobil perempuan dengan mobil laki-laki," ucap Dimas.
"Aku ingin memiliki mobil seperti ini kalau sudah besar nanti Om," ucap Vira.
__ADS_1
"Tentu dong, nanti Om yang beli untuk kamu."
"Jangan membelikan apa saja yang dia inginkan kak, nanti dia kebiasaan."
Dimas tersenyum. "Hanya bercanda sayang," ucap Dimas mencubit pipi Bela.
"Jangan..." ucap Vira, Dimas cemburu melihat Dimas bermesraan dengan Bela.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Dimas. Walaupun sudah berbulan-bulan tidak datang ke sana tidak ada perubahan.
Bela turun dari dalam mobil. Bibik melihat Bela sangat kaget.
"Bela... Ini kamu kan? Bibik tidak mimpi kan?" tanya Bibik.
"Ini aku bik, aku sangat merindukan Bibik." Bela langsung memeluk Bibik.. Dimas yang melihat nya sangat terharu.
Tidak beberapa lama teman-teman nya yang belum berhenti bekerja langsung datang dan memeluk Bela.
"Ya ampun Bela akhirnya kita bisa bertemu, aku takut setelah kamu memiliki uang yang banyak, kamu tidak mau datang ke sini lagi."
"Aku tidak akan melupakan kalian,,x ucap Bela.
"Pakaian kamu sangat mahal sekali, kamu juga sangat cantik, apa kamu tidak takut baju mu kotor di peluk oleh pembantu?"
"Kalian mengatakan apa sih? aku tidak akan berubah, aku masih sama seperti bela yang dulu."
"Mereka membawa Bela masuk. "Huff mereka hanya merindukan mbak Bela, mereka tidak merindukan aku," ucap Vira.
Dimas langsung menggendong Vira.
"Saya yang selalu merindukan kamu, ayo kita masuk ke dalam, kamu pasti rindu kan datang ke sini."
Vira mengangguk. Dia melihat lukisan nya yang di pajang di ruang tamu. Dia tersenyum.
Ternyata Lukisan pemandangan yang di puncak kemarin di pajang oleh Dimas di sana.
Dimas dan Vira duduk di ruang tamu, santai seperti biasa. Karena lebih banyak bersama Dimas, sifat Dimas yang dingin, cuek dan kalem jatuh kepada Vira.
Sekarang Vira sangat terlihat dewasa, dia tidak seperti anak kecil pada umumnya, dia akan mengikuti apa saja yang di lakukan oleh Dimas.
melihat Vira Dimas sangat gemas, dia tidak sabar ingin memiliki anak.
Bela berjalan ke arah dapur dia melihat dapur tempat nya dulu menangis, di marahin dan juga bahagia.
Dia melihat bekal makanan Dimas yang di beli pada saat itu, ternyata di simpan sangat baik dan tidak di pakai sama sekali.
Dimas juga tidak pernah mau di bawakan Bekal kalau bukan bela yang masak.
__ADS_1
"Huff ini semua membuat aku mengingat masa lalu saja," ucap Bela.