
"Apa kakak mau maafin aku?"
Dimas mengangguk.
"Saya juga minta maaf karena sudah kasar dan mengabaikan kamu."
Dimas mencium bibir Bela. Namun Bela baru ingat kalau ada Vira di sana.
"Kak.." Bela mengehentikan Dimas.
Dimas menoleh ke arah Vira yang tertegun melihat mereka berdua.
"Apa kah semua orang ketika habis marahan langsung ciuman?" tanya Vira dengan polosnya.
"Eh Vira, itu tadi, itu tidak seperti apa yang kamu lihat, mbak sama om Dimas gak marahan kok."
Vira menghela nafas.
"Ibu guru ku pernah bilang kalau dalam hubungan pasti ada pertengkaran."
Bela dan Dimas langsung malu. Dimas segera berangkat ke kantor.
Namun sebelum ke kantor dia menemui Rio terlebih dahulu.
"Apa kamu sudah menemukan bukti?" tanya Dimas.
Rio mengangguk.
"Mobil ini ada di lokasi pembunuhan itu pak." Rio menunjuk kan mobil yang di dalam Cctv yang sangat mirip dengan mobil yang di bawa oleh pasangan suami istri itu.
"Kalau seperti ini terus kita tidak akan mendapatkan bukti yang lebih kuat lagi pak, saya mau Bapak memberikan hak asuh kepada keluarga ini."
Dimas langsung menggeleng kan kepala nya.
"Tidak bisa! saya tidak akan memberikan Vira kepada siapapun itu."
"Tapi pak dengan cara ini kita bisa melihat apa maksud mereka mengadopsi Vira dan juga apa sangkut pautnya dengan mobil yang mereka pakai.
"Apa kamu bisa menjamin Vira akan baik-baik saja?" tanya Dimas.
Rio terdiam sejenak.
"Kita harus mendapatkan bukti secepat nya pak, sudah beberapa tahun kita menyelidiki kasus ini namun tak dapat bukti yang sangat kuat."
Dimas terdiam. "Saya akan mengirimkan beberapa orang untuk terus mengawasi Vira."
"Saya tidak bisa Rio, saya sudah sangat menyanyangi Vira seperti adik saya sendiri."
Rio menghela nafas panjang dia tidak tau bagaimana menyakinkan Dimas.
"Kalau tidak seperti ini, kita tidak akan tau itu mobil yang ada di lokasi atau tidak," ucap Rio.
Dimas terlihat sangat bingung.
"Ingat pak Vira dan Bela adalah anak dari pembunuh kedua orang tua Bapak, jangan sampai hal seperti ini menghalangi kita mendapatkan bukti," ucap Rio.
"Bapak harus ingat tujuan awal kita seperti apa."
Dimas lagi-lagi terdiam dia mengingat hubungan nya dengan Bela yang benar-benar sudah sangat jauh dari perkiraan sebelumnya.
Dimas juga tidak tau kalau semua nya akan seperti ini.
"Apa yang bapak pikirkan? Setelah kita mendapatkan pembunuh itu semua nya sudah selesai, bapak akan hidup bahagia."
Dimas mengangguk. "Benar yang kamu katakan Rio, kalau begitu saya akan mengikuti saran kamu."
__ADS_1
Dimas dan Rio berpisah, dia kembali ke perusahaan nya.
"Selamat siang pak, non Vivi menunggu bapak di ruangan Bapak."
Dimas menghela nafas.
"Kenapa lagi dia ada di sini?"
Dimas masuk ke ruangan nya.
"Pak permisi, apa bapak mau kopi?" tanya Tami sebelum masuk.
"Tidak perlu, saya baru saja minum."
"Oohh oke pak."
Dimas melihat Vivi duduk di sofa ruangan nya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dimas.
"Aku ke sini mau ketemu kamu." ucap Vivi.
"Aku sangat sibuk sebaiknya kamu pergi saja."
"Dimas aku sangat merindukan kamu, apa aku tidak bisa datang ke sini?"
Dimas menatap Vivi. "Kamu ingat kan kalau kita tidak ada hubungan apapun lagi, sebaik nya kamu urus diri mu sendiri berhenti berharap kepada ku."
"Dimas aku sangat merindukan kamu, aku sangat merindukan kamu," ucap Vivi sambil memeluk Dimas.
Dimas memanggil security dan mengusir Vivi dari sana.
"Kenapa kamu sangat jahat Dimas? Apa yang membuat kamu sehingga sangat mudah melupakan aku seperti ini."
Dimas duduk di kursi nya sambil berusaha menormalkan kembali mood nya dan emosi nya.
Satu kali di hubungi tidak di jawab namun sudah aktif karena biasanya tidak la aktif.
Dimas mencoba lagi namun ternyata yang menjawab nya adalah Vira.
"Halo Om," ucap Vira.
"Loh kok kamu yang jawab? Mbak Bela mana?" tanya Dimas.
"Mbak Bela sedang bersih-bersih om," jawab Vira.
"Boleh kamu panggil sebentar."
"Iyah Om."
Vira memberikan handphone nya kepada Bela.
"Halo kak."
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa memberikan Handphone mu kepada anak kecil?" tanya Dimas.
"Aku tidak memberikan nya, dia memainkan nya."
"Dia masih kecil jangan berikan Handphone kepada dia."
Bela menginyakan dan minta maaf.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Dimas.
"Aku baru saja selesai bersih-bersih."
__ADS_1
"Apa.kamu sudah makan siang?"
"Baru saja selesai."
"Bagaimana dengan Vira?"
"Dia juga sudah selesai."
"Oohhhh bagus deh kalau begitu."
Bela mengangguk.
"Apa kamu tidak mau menanyakan saya ?"
"Apa? aku harus bertanya apa kak?" tanya Bela.
Dimas menghela nafas panjang dia mengusap kepala nya.
"Kamu tidak ingin tau saya sedang apa, sudah makan apa tidak atau saya lelah?"
"Makan siang sudah sampai satu jam yang lalu, Kakak pasti sedang bekerja dan Kakak pasti sangat lelah karena bekerja seharian."
Dimas menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu aku mau menemani Vira tidur siang kak, sebaiknya telpon nya aku matikan terlebih dahulu."
"Humm, baiklah kalau begitu," ucap Dimas.
Telpon pun mati.
"Apa dia sebelum nya tidak pernah pacaran? Bagaimana bisa dia sepolos ini?" tanya Dimas Heran.
Tidak beberapa lama akhirnya Dimas pulang. Hari ini dia cepat pulang dari biasanya karena mau mengantar kan Vira kembali ke panti asuhan.
"Tuan sudah pulang?" tanya Bibik.
Dimas mengangguk.
"Di mana Bela?" tanya Dimas.
"Seperti nya masih kamar Tuan."
Dimas langsung ke kamar melihat Bela dan Vira sedang belajar di kamar.
"Om Dimas sudah pulang, hore!!!!" Vira sangat senang sekali dia langsung berlari ke arah Dimas.
Dimas menggendong nya sambil mencium pipi Vira.
"Om Dimas hari ini sangat cepat pulang."
"Iyah, hari ini kamu harus pulang ke panti asuhan karena besok sudah mau sekolah."
"Bukan nya om bilang kalau aku bisa lebih lama di sini?" tanya Vira.
"Kamu tidak bisa lama-lama di sini, kamu tau kan kalau om belum bisa mengadopsi kamu."
Vira memeluk Dimas.
"Aku mau di sini sama Om dan juga mbak bela, aku mau main bersama Om di sana tidak enak."
"Tapi kamu harus pulang karena orang tua angkat kamu sudah menunggu."
"Maksud nya Om?"
"Om mau kamu di adopsi oleh orang tua angkat kamu agar kamu memiliki orang tua dan jangan khawatir Om pasti sangat sering menjenguk kamu dan juga mengajak kamu bermain.
__ADS_1
"Tapi aku tidak mau om, aku mau sama Om dan Mbak Bela." ucap Vira.