Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 27


__ADS_3

Dimas bangun dan kaget kenapa suhu badan Bela Sedikit panas tidak normal seperti tadi malam.


"Dingin...." ucap Bela.


"Bela! Bangun ini sudah pagi."


Dimas memegang kepala Bela yang ternyata sudah demam.


Dimas panik dia langsung mencari alat untuk memeriksa suhu badan Bela dan juga mencari alat untuk di tempelkan ke dahi Bela agar panas nya kurang.


Dimas membiarkan Bela untuk tidur tidak membangun kan nya.


"Apa dia demam karena tadi malam? Seperti nya dia benar-benar takut," ucap Dimas.


Dimas selesai mandi namun Bela masih tidur dengan selimut tebal.


Dimas berangkat bekerja Tampa membangun kan Bela.


"Selamat pagi Tuan," sapa Fahri yang di ruang tamu menunggu nya.


"Pagi. Hari ini Bela tidak masak sarapan sebaiknya kita sarapan di luar saja."


"Kalau boleh tau Bela kenapa Tuan? Tidak biasa nya jam segini dia belum masak. Apa dia juga ikut libur bersama pelayan lain?" tanya Fahri.


"Kita sudah telat, ayo berangkat," ajak Dimas.


Fahri seperti tau ada yang terjadi kepada Bela karena kefikiran dan khawatir.


Bela baru saja bangun dia sangat kaget mendapati diri nya ada di tempat tidur bos nya.


Dia memegang kepala nya yang sangat sakit sekali dan badan nya yang lemas.


Bela mengingat kejadian tadi malam dia langsung duduk dan melihat kool fever untuk menurunkan panas nya di kening nya.


"Apa yang sudah terjadi? Kenapa tiba-tiba badan ku seperti ini?"


Bela melihat jam ternyata sudah jam sepuluh dia sangat panik turun dari tempat tidur namun dia terjatuh karena kepala nya sangat pusing.


Dia melihat surat di atas nakas samping tempat tidur ada surat.


"Setelah kamu bangun makan dan juga minum obat, saya sudah menyiapkan nya di meja makan."


Isi surat yang di tinggal kan oleh Dimas.


"Aku gak mimpi kan?" tanya nya sendiri karena itu seperti hal yang sangat mustahil di lakukan oleh Dimas.


Bela dengan sigap langsung turun dari kamar memastikan di lantai bawah ada makanan atau tidak.


Dia melihat ternyata di meja sudah ada makanan dan juga obat yang mau di minum.


"Di pastikan habis yah Bela agar kamu cepat sembuh, Serli."


Makanan itu baru saja di antar kan oleh Serli karena mendengar Bela sakit dari Bos nya.


"Bagaimana? apa kamu sudah mengantarkan nya?" tanya Dimas kepada Serli.


"Sudah Pak." ucap Serli.

__ADS_1


"Apa dia sudah bangun?"


"Belum pak, saya melihat Bela masih tidur."


Setelah itu Serli keluar dari ruangan Dimas.


"Ini sungguh aneh, Pak Dimas yang memiliki sifat dingin dan kejam itu mempunyai rasa iba kepada Bela."


"Aku sangat curiga dengan apa yang terjadi."


Serli jelas sangat heran dengan perubahan sifat Dimas.


"Non Vivi." kedatangan Vivi ke kantor membuat Serli kaget karena dia tau nya Vivi juga ada di luar kota mengurus perusahaan orang tua nya.


"Di mana Dimas? Di mana dia?" tanya Vivi yang terlihat sangat gegabah.


"Ada di ruangan nya Non."


Vivi langsung masuk ke dalam ruangan Dimas.


Dimas melihat Vivi dia menghela nafas panjang dan memasang wajah dingin.


"Sayang aku bisa menjelaskan nya kepada kamu, aku mohon dengar kan aku."


Dimas berdiri dia mendekati Vivi.


"Aku dengan pria itu hanya berteman karena dia adalah teman mu, tidak lebih sayang."


"Aku tidak mau putus dari kamu," Vivi terlihat sangat takut sekali.


"Kamu tidak perlu panik seperti itu kalau kamu tidak berselingkuh dengan dia, aku tidak mengatakan apapun kepada kamu."


"Sebaiknya kita akhiri saja semua nya sekarang, lagian kita sudah lama tidak cocok."


"Aku tidak mau sayang, aku mohon," ucap Vivi.


"Aku sudah tidak ingin bersama kamu, aku sudah bosan."


"Kenapa kamu sangat jahat? Aku baru melakukan kesalahan sekali sementara kamu berkali-kali namun aku tetap memaafkan kamu," ucap Vivi.


"Hanya sekali? Kamu yakin hanya melakukan ini sekali?" Vivi langsung terdiam.


"Aku tidak pernah meminta permohonan maaf dari kamu, kamu lah yang ingin bersama ku bukan aku yang ingin bersama kamu."


"Seperti ini balasan kamu setelah semua yang aku berikan kepada kamu?" ucap Vivi.


"Bukan kah yang kamu berikan setimpal dengan uang ku yang sudah kamu habiskan?"


Vivi lagi-lagi terdiam.


"Tidak mungkin kamu semudah ini mengatakan putus Dimas, aku tau hanya aku yang Kam cintai walaupun kamu sering bersama wanita lain."


"Keputusan ku sudah sangat bulat, dari pada kita menyakiti satu sama lain sebaik nya kita akhiri saja hubungan yang sangat toxic ini."


"Siapa wanita yang menghasut kamu untuk mengakhiri hubungan dengan ku?" tanya Vivi.


Tiba-tiba Dimas teringat Bela.

__ADS_1


"Tidak mungkin hanya karena perempuan itu aku dengan lantang mengakhiri hubungan yang sudah sangat lama ini," batin Dimas mengingat wajah Bela ketika tersenyum, menangis, tertawa, dan juga cemberut dan juga di Saat marah-marah.


"Sebaiknya kamu keluar aku ingin bekerja," ucap Dimas.


"Dimas aku mohon jangan seperti ini, aku sangat ingin bersama kamu, aku sangat mencintai kamu."


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Aku sudah tidak mencintai kamu lagi."


Vivi di serek keluar oleh security.


Fahri dan Serli melihat itu.


"Ada apa?" tanya Semua Staf.


"Aku sangat mencintai kamu Dimas, aku tidak mau kita putus."


Serli berteriak membuat semua orang terganggu.


"Pak ada apa?" tanya Serli masuk bersama Fahri.


"Selidiki apa hubungan nya dengan Pandi."


"Hah! Pandi?"


"Saya tidak sengaja melihat mereka keluar dari hotel kemarin."


"Oohh karena itu Bapak memutuskan non Vivi?" tanya Fahri.


"Itu sudah keputusan yang bagus pak, lagian non Vivi melakukan hal seperti ini sudah sangat sering, ini bisa membuat nama baik Bapak hancur."


Fahri dan Dimas menatap Vivi.


"Aduh keceplosan, akibat kebahagiaan sih," batin Vivi.


"Kalau begitu saya akan mencari tau Pak," ucap Fahri.


Mereka pun keluar dari ruangan Dimas.


Dimas menghela nafas panjang.


"Awal nya aku berfikir kalau Vivi adalah wanita satu-satunya yang akan menjadi masa depan ku, namun semua ke sini dia membuat kesalahan yang cukup banyak."


"Kalau bukan karena orang tua nya mungkin sudah lama aku memutuskan hubungan dengan nya."


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Masuk!"


Ternyata supir yang masuk.


"Tuan ini ada Bekal untuk makan siang Tuan."


Dimas kaget karena bekal itu dari rumah.


"Ini siapa yang ngasih Pak?"


"Mbak Bela Tuan. Mbak Bela juga menitipkan ini untuk Bapak." sambil memberikan surat untuk Dimas.

__ADS_1


"Terimakasih."


"Bagaimana bisa diam masak dalam keadaan sakit?" batin Dimas heran sambil membuka surat.


__ADS_2