Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 43


__ADS_3

Bela sangat heran.


"Ada apa sih dengan pak Dimas, kenapa tiba-tiba seperti ini? Kalau Pak Dimas marah tentang aku dengan Fahri ya sudah, tidak harus seperti ini, bagaimana kalau dia tidak makan sama sekali di luar sana?"


Bela sangat mengkhawatirkan Dimas.


Walaupun Bela di larang untuk masak bekal untuk Dimas, tetap saja di memasak dan berniat mengantarkan ke kantor Dimas.


Dia harus memastikan Dimas makan atau tidak.


Di siang hari nya Bela baru saja sampai di depan perusahaan Dimas.


"Mbak Bela mau nganterin makan siang pak Dimas?" tanya resepsionis di depan.


"Iyah, apa saya bisa masuk ke dalam?"


"Pak Dimas baru saja keluar bersama Bu Serli mbak."


"Kemana?" tanya Bela.


"Saya dengar ada acara di luar."


"Oohh begitu yah mbak."


"Kalau begitu saya boleh menunggu di ruangan pak Dimas?"


"Boleh silahkan Mbak."


Bela masuk ke ruangan Dimas.


Namun sebelum masuk ke ruangan Dimas dia berpapasan dengan Tami.


Tami tersenyum kepada Bela, Bela membalas dengan senyuman tipis.


"Wanita itu sangat cantik sekali, selain itu dia sangat muda dan juga berpendidikan, pantesan saja dia bisa mendekati pak Dimas."


Bela meletakkan makanan di atas meja.


Bela duduk sudah hampir satu jam namun Dimas tidak kunjung datang dia sudah mulai bosan di sana.


Dia melihat-lihat sekeliling ruangan Dimas, karena sangat penasaran dia duduk di kursi Dimas.


"Wahh ternyata duduk di sini sangat nyaman sekali, aku yakin harga kursi ini pasti jutaan," ucap Bela.


Dia memainkan kursi itu berputar, dan juga berbaring dia sangat senang, barang itu cukup membuat dia senang untuk sementara.


Namun tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan Tampa mengetuk pintu dia sangat terkejut mau berdiri namun kaki nya malah nyangkut dan terjatuh ke lantai.


"Aaa!!" dia menjerit kesakitan.


Dimas kaget melihat Bela jatuh dia langsung menolong nya.


Bela di bantu duduk oleh Dimas.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Dimas kepada Bela yang sudah sangat takut di marahin.


Bela menunjuk ke arah bekal Dimas.


"Saya minta maaf pak, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan, saya minta maaf, saya mohon jangan marah."


Dimas melihat Bela sangat takut dia marah, namun dia hanya bisa diam.


"Saya mengantar kan makan siang untuk Bapak. Tapi bapak sudah makan di luar saya akan membawa nya pulang."


Bela berdiri menahan kaki nya yang sakit.

__ADS_1


Dimas tidak mengatakan apapun dia membiarkan Bela pergi begitu saja dari ruangan nya.


Dimas melihat ke arah kursi nya. Dia sangat kaget di lantai ada tertetes darah sedikit.


Dia mau mengejar Bela namun terhenti karena mengingat dia sedang marah kepada Bela.


"Sudah lah, percuma saja aku perduli kepada kepada nya."


"Aaa!! Ini sangat memalukan sekali."


Bela sudah sampai di rumah dia duduk di teras rumah sambil melihat dengkul nya yang luka, dia tidak tau kena apa sehingga bisa berdarah dan biru seperti itu.


"Bela kamu sudah pulang?"


"Iyah Bik."


"Loh-loh kaki kamu kenapa?"


"Aku jatuh bik, hanya luka biasa kok."


"Ya ampun Bela, kamu hati-hati dong."


"Kenapa bekal ini kamu bawa pulang? apa pak Dimas sudah makan?"


Bibik melihat bekal masih penuh.


"Kenapa Bela?"


"Pak Dimas sudah makan di luar bik, jadi aku membawa nya pulang."


"Kenapa tidak di kasih sam Fahri saja?"


"Aku tidak berani bik, kalau pak Dimas lihat itu dia pasti marah."


"Kenapa bisa marah?" tanya Bibik karena hanya Makanan saja.


"Iyah Bik, pak Dimas juga bilang aku tidak boleh terlalu dekat dengan Fahri karena itu bisa mengganggu Fahri."


Bibik terdiam sejenak.


"Padahal aku kan hanya temen biasa bik."


"Sebaiknya Kamu dengar saja apa kata Tuan, Bibik takut kalau tuan marah-marah seperti dulu lagi sama kamu."


"Iyah Bik, aku tau kok, tapi aku hanya memiliki Fahri untuk saling curhat."


Bibik memegang tangan Bela.


"Bibik juga yang terbaik untuk kamu Bela, sebaiknya kamu ikuti saja permintaan Tuan."


Bela mengangguk.


"Baiklah bik."


"Ya sudah kalau begitu ayo Bibik bantu masuk ke dalam," ucap Bibik.


Dimas di kantor sedang berdiskusi dengan Serli.


"Pak malam ini Bapak ada kegiatan?" tanya Serli.


"Tidak ada, ada apa?"


"Humm saya ingin mengajak bapak ke acara saya."


"Acara apa?"

__ADS_1


"Acara makan malam aja sih pak, hanya saja kawan-kawan saya mau bertemu dengan Bapak, mereka membuat taruhan kalau saya tidak berhasil mengajak Bapak saya akan mentraktir mereka semua makan."


"Bapak tau sendiri kan kalau saya baru saja membayangkan biaya perobatan orang tua saya dan juga membeli rumah untuk adik saya."


Dimas menghela nafas panjang.


"Baiklah saya akan pergi."


"Bapak serius?"


"Iyah, saya juga sangat malas pulang ke rumah."


Serli sangat senang sekali.


Di malam hari nya Bela menunggu Dimas yang tak kunjung pulang. Makanan yang dari tadi sudah masak sekarang sudah dingin.


Bahkan semua orang sudah pada istirahat, sementara dia belum bisa istirahat kalau Dimas belum pulang karena itu lah tugas nya.


Sudah sangat bosan menunggu di meja makan dia berjalan ke arah depan melihat mobil Dimas sudah datang apa belum.


Sudah jam sembilan Dimas tak kunjung pulang.


"Apa sampai sekarang pak Dimas marah karena aku dekat dengan Fahri? Apa karena tadi malam?" tanya Bela.


Namun suara mobil kedengaran dia lega akhirnya Dimas pulang.


"Bapak dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bela.


Dimas menatap Bela dengan ekspresi dingin.


Dimas tidak mengatakan apapun dia langsung ke kamar.


Bela mengikuti nya ke kamar.


"Bapak kenapa sih? Apa saya melakukan kesalahan yang sangat fatal sehingga Bapak mengabaikan saya seperti ini?" tanya Bela.


Dimas berbalik dia menatap Bela.


"Bapak tidak makan masakan saya, tidak berbicara dengan saya, bahkan pulang malam. Bapak juga marah kepada saya."


"Kamu mau tau alasan nya?" tanya Dimas.


"Karena saya cemburu melihat kamu bersama Fahri, saya cemburu melihat kamu lebih bahagia bersama dia, kamu lebih perduli dan juga sangat akrab dengan dia!"


Bela terdiam sejenak. Dimas mendekati Bela.


"Saya dengan Fahri hanya berteman seperti biasa Pak, saya tidak akan menggangu jam kerja nya."


"Tetap saja saya cemburu karena saya menyukai kamu!"


Bela terdiam menatap Dimas.


"Saya suka sama kamu, saya cemburu melihat kamu dekat dengan pria mana pun terutama Fahri."


"Saya marah ketika saya cemburu."


Bela menggeleng kan kepala nya dia tidak tau apa yang harus dia katakan, dia sangat kaget.


"Sekarang katakan langsung kamu menyukai saya atau tidak."


"Pak.."


Melihat ekspresi Bela, Dimas sudah tau kalau dia akan di tolak.


"Saya tidak ingin mendengar penolakan kamu, mulai malam ini kamu tidur di kamar lain saja." ucap Dimas langsung masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2