
"Wahh mbak Bela sudah bisa jalan, mbak Bela sudah sembuh," ucap Vira sangat senang sekali.
Tiba-tiba handphone Bela yang di dekat Bibik bunyi. "Halo Tuan."
"Bik, di mana Bela?"
"Lagi sama dokter, apa Tuan mau melihat?"
Bibik mengalihkan ke panggilan video. Dimas melihat Bela berjalan.
Ternyata Bela cukup cepat bisa sembuh. "Kamu harus segera sembuh Bela, ingat Vira dan aku butuh kamu," batin Dimas.
Dimas tidak ingin mengganggu dia pun mematikan sambungan telepon.
"Sudah pak, langsung di nikahi saja, lagian kalau seperti ini orang-orang Akan semakin curiga, kalau nikah kan sudah tidak ada lagi kata-kata yang menuduh," ucap Serli.
"Maksud ku itu, kalau menikah bapak bisa melindungi Bela, dan kalian tidak perlu menyembunyikan hubungan ini lagi." ucap Serli.
Dimas diam saja dia tidak mengatakan apapun. "Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu yah pak," ucap Serli.
Malam hari nya Dimas dan Fahri sampai di rumah Bela. "Malam ini saya harus di sini lagi, kamu bisa langsung pulang."
"Tapi saya mau melihat keadaan Bela dulu pak."
"Tidak perlu, kamu pasti sudah kelelahan, sebaiknya segera pulang."
Fahri menghela nafas berat, dia berharap bisa menyapa Bela sebentar, namun baru saja melirik ke dalam Dimas sudah meminta nya pergi.
Dia tidak bisa membantah dia memilih untuk pulang. "Huff aku tidak ingin cepat pulang, karena rasanya pasti sangat sepi kalau mengingat mbak Kayla."
Akhirnya Fahri memutuskan pergi main bersama anak-anak yang lain juga.
Dimas masuk ke dalam rumah dia melihat rumah sangat sepi.
"Vira... Bela..." panggil nya.
Bela keluar dari kamar, dia melihat ke arah Dimas.
"Tumben sepi, Vira sama Bibik Kemana?" tanya Dimas.
"Humm Vira ikut Bibik belanja isi dapur ke supermarket terdekat kak," ucap Bela.
"Oohhhh," ucap Dimas. Bela mendekati Dimas.
"Kamu sudah bisa jalan Tampa menggunakan tongkat?" tanya Dimas.
Bela mengangguk. "Sudah bisa sih, hanya saja. tidak bisa lama-lama," ucap Bela.
"Sebaiknya kakak mandi dulu, aku akan membuat kopi."
Dimas mengangguk. Tidak lama Dimas selesai mandi dia keluar karena Bela sudah menunggu di ruang tamu.
"Bagaimana pekerjaan kakak hari ini?" tanya Bela. Dimas tersenyum.
__ADS_1
"Semua nya baik-baik saja."
Bela merasa ada yang aneh dengan Dimas. Karena Dimas lebih banyak diam.
Bela berfikir kalau Dimas memiliki masalah namun dia tidak berani bertanya.
Tidak beberapa lama Bibik dan juga Vira baru pulang.
Bibik tidak bisa lama-lama juga di sana, dia pun langsung pergi meninggalkan rumah Bela.
"Kamu istirahat saja, ini sudah malam."
Dimas menemani Bela yang sedang menata-nata belanjaan Bibik tadi di dapur.
"Aku tidak mau merepotkan Bibik lebih banyak kak, aku ingin merapikan ini agar Bibik besok tidak perlu capek-capek."
Dimas menghela nafas panjang dia membantu menata semua nya sampai selesai.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Vira... waktu nya tidur sayang.." ucap Bela.
Vira melihat Bela dan Dimas datang ke arah nya.
"Aku belum ngantuk mbak, nanti aja."
"Ayo tidur sayang, nanti kalau bergadang sakit loh."
Vira tidak bisa membantah kalau sudah Dimas yang berbicara.
"Om tidur sama aku kan?" tanya Vira.
Dimas mengangguk. Tapi Bela menahan tangan Dimas.
"Biarkan Vira tidur sendiri kak, nanti kalau di temanin terus dia terbiasa," ucap Bela.
"Yahh..." ucap Vira sangat kecewa.
"Terus aku tidur di mana?" tanya Dimas.
Bela diam. Dimas langsung paham.
"Ya udah kalau begitu Vira pergi tidur yah," ucap Dimas langsung.
Dimas membawa Bela ke kamar.
"Aku mau membicarakan sesuatu yang penting sama kamu mengenai hubungan kita," ucap Dimas.
Bela duduk di pinggir kasur, dia menatap Dimas.
"Ada apa kak?" tanya Bela.
"Aku ingin kita menikah dan membesarkan Vira sama-sama."
Bela terkejut dia menatap Dimas.
__ADS_1
"Jangan bercanda kak, menikah bukan lah hal yang mudah."
Dimas menatap Bela. "Apa kamu melihat aku bercanda? aku ingin melindungi kamu dan juga Vira."
"Kita juga saling mencintai satu sama lain, tidak ada salah nya kalau kita menikah cepat."
"Kamu mau yah? Agar tidak ada lagi jarak di antara kita, dan kita tidak perlu menyembunyikan hubungan dari siapapun."
Bela menatap Dimas. Dia menggeleng kan kepala nya.
"Aku minta maaf kak, tapi aku benar-benar tidak bisa untuk menikah secepat ini."
"Kenapa? Apa kamu memikirkan tentang orang tua kamu dan orang tua ku? apa kamu membenci ku karena sudah memasukkan kedua orang tua mu ke dalam penjara? Aku bisa mengeluarkan mereka asal kan kamu mau menikah dengan ku."
"Kak Dimas!"
Dimas seperti nya terlanjur emosi karena di tolak sehingga dia mengeluarkan kata-kata yang tidak harus di keluarkan.
"Aku minta maaf," Dimas langsung berhenti dan menundukkan kepala nya.
"Ini yang membuat aku ragu untuk menikah cepat, kita belum bisa mengontrol emosi diri kita masing-masing, kita juga belum memastikan apa sebenarnya yang mau kita mau."
"Aku juga belum bisa menentukan hubungan kita harus di bawa kemana untuk saat ini, aku harus memikirkan banyak hal."
Dimas menghela nafas panjang. "Apa kamu masih meragukan aku setelah semua nya? Apa kamu masih belum yakin denganku?" tanya Dimas.
"Bukan seperti itu."
"Aku tau kalau kamu mengkhawatirkan masa depan kamu, tanggapan orang lain, dan kamu juga pasti tidak siap dengan itu semua, tapi apa kamu tidak percaya dengan ku yang selalu melindungi kamu?"
"Kak, aku tidak ingin membahas itu, jangan sampai karena ini membuat kita jadi berantem."
Dimas berusaha menenangkan diri nya. "Ya sudah kalau begitu kamu tidur dan istirahat saja, aku akan tidur di kamar Vira.
Bela menghela nafas panjang melihat Dimas keluar.
"Huff kenapa aku harus takut sih menikah dengan kak Dimas?" ucap Bela.
"Seharusnya aku harus senang karena ada pria baik-baik yang mau bertanggung jawab atas hidup ku," ucap Bela.
"Tapi itu semua tidak lah adil bagi kak Dimas, karena orang tua ku lah yang sudah membunuh kedua orang tua nya," batin Bela.
Keesokan harinya...
Bela menyiapkan pakaian untuk Dimas, namun Dimas memilih pakaian lain. Dimas memilih diam saja.
Vira yang melihat itu hanya bisa diam sambil memasang wajah heran.
Kemarin Dimas yang selalu mencari perhatian mbak nya, sekarang Bela lah yang berusaha mencari perhatian Dimas.
Dimas berangkat bekerja tidak mengatakan apapun kepada Bela.
Dimas masuk ke dalam mobil nya. "Sebenarnya aku tidak tega melakukan itu, tapi kalau bukan seperti itu dia tidak akan berfikir panjang, dia tidak akan memikirkan aku," ucap Dimas dengan kesal.
__ADS_1