Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 193


__ADS_3

Dimas membuka handphone nya. Dia tiba-tiba tersenyum di depan Staf nya.


"Tidak mungkin mereka pacaran, lagian kamu tau kalau mereka sama-sama tidak cocok," balas Dimas.


Dimas baru menyadari kalau Staf nya memerhatikan dia dari tadi yang senyum-senyum.


Dia langsung memasang wajah datar dan kembali bekerja.


Bela sampai di kelas, namun dia heran kenapa Yana belum datang, dia bertanya kepada Kevin, dia juga tidak tau.


Dia mengirimkan pesan kepada teman nya itu namun tidak di balas.


"Kemana sih dia? kenapa tidak di jawab sih? sebentar lagi kelas di mulai."


Namun sudah siang, tetap saja Yana tidak datang.


Di kantor Serli bertemu dengan Dimas di jam makan siang.


"Hari ini kamu terlihat sangat bersemangat sekali, pekerjaan kamu hari ini semua nya berjalan dengan baik."


"Iyah Pak."


Dimas menatap wajah Serli.


"Kenapa Bapak menatap saya? apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Serli.


"Katakan sejujurnya, apa kamu dengan Roi sekarang sudah pacaran?"


Serli terdiam sejenak. "Ah tidak mungkin kamu pacaran dengan Roi yang sama sekali tidak tau cara berpacaran," ucap Dimas langsung.


Serli menghela nafas panjang. "Iyah pak."


Mereka lanjut makan.


Di sekolah Vira..


"Jangan lari-lari anak-anak..." teriak wali kelas Vira saat mau keluar dari kelas.


Vira tetap berjalan seperti biasa, sabar menunggu antrian nya. Namun tiba-tiba saja seseorang mendorong nya sehingga terjatuh membuat kepala nya terluka.


Semua nya panik, guru membawa ke UKS, untung saja tidak terlalu parah.


Anak laki-laki yang mendorong nya di panggil ke kantor.


"Apa yang kamu lakukan Bara? Kenapa kamu mendorong teman mu sehingga sampai seperti ini?" tanya wali kelas.


Bara anak laki-laki yang sangat tampan di kelas itu, dia juga sangat cuek dan tidak memiliki teman.


"Bara! Ngomong nak. Kalau seperti ini apa ibu perlu memanggil orang tua kamu?"


"Aku tidak sengaja Bu, seseorang mendorong ku dari belakang juga."


"Ya sudah kalau begitu kamu minta maaf sama Vira, Kasian dia terluka seperti itu."


"Tapi kan bukan aku yang salah Bu, teman yang di belakang ku yang mendorong ku, lagian Vira terlalu lambat sehingga dia terjatuh."


"Bara! Jangan berbicara seperti itu, ibu tidak pernah ngajarin seperti itu."

__ADS_1


Bara menghela nafas panjang. "Aku minta maaf," ucap Bara kepada Vira.


"Yang bagus Bara.."


"Aku minta maaf sudah tidak sengaja mendorong kamu," ucap Bara.


"Iyah gak apa-apa kok," ucap Vira. Setelah itu Bara keluar.


"Ibu, gak usah telpon Om Dimas sama mbak Bela ucap ah, aku baik-baik saja," ucap Vira.


"Iyah nak, kalau begitu ayo ibu antar ke rumah kamu."


Jam tiga sore Bela baru saja pulang dari kampus, namun dia penasaran ada apa dengan Yana, akhirnya dia ke rumah Yana.


"Permisi pak, apa Yana ada di dalam?" tanya nya kepada security yang sedang berjaga.


"Ada Mbak, ayo saya antar masuk ke dalam."


Bela masuk ke dalam.


"Yana.... Yana..." panggil nya dari luar. Tidak beberapa lama Yana membuka pintu.


"Bela, kenapa kamu di sini?" tanya Yana kaget.


"Aku ke sini karena mengkhawatirkan kamu, Kenapa kamu tidak masuk hari ini?"


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, kau hanya malas saja."


"Setidaknya kamu balas pesan aku."


"Ada apa dengan mu? Kenapa kamu terlihat sangat murung? Apa ada masalah?" tanya Bela.


Yana langsung menarik tangan Bela ke dalam.


Hari semakin malam...


Dimas baru saja pulang. Dia mendapatkan telpon dari Kayla kalau malam ini mereka akan menginap di penginapan yang tidak jauh dari makam orang tua nya.


Dimas sangat senang mendengar itu, dia meminta Fahri menyusul mereka, sementara dia berencana mau tidur di rumah Bela.


Sesampainya di rumah Bela dia masuk seperti biasa karena memiliki kunci cadangan.


"Om Dimas...." ucap Vira menyambut Dimas pulang.


"Eh kamu, mana mbak Bela?"


"Mbak Bela belum pulang om."


"Loh kok Belum pulang?" tanya Dimas. "Om Dimas bawa apa?"


"Ini bawa makanan untuk kamu dan juga mbak Bela."


"asikk, aku sangat lapar sekali Om."


Dimas melihat bekas luka di belakang poni Vira.


"Tunggu, ada apa dengan kening kamu? kenapa bisa luka seperti ini?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Gak apa-apa Om, aku hanya terpeleset di sekolah."


"Tinggal mungkin terpeleset," ucap Dimas tidak percaya karena bengkak dan juga biru.


Dimas langsung menelpon ke wali kelas Vira. Dia marah-marah kepada guru karena tidak bisa menjaga murid dengan baik, Dimas juga ingin bertemu dengan anak yang sudah mendorong Vira.


"Kenapa kakak marah-marah? siapa yang kakak marahin?" tanya Bela baru saja pulang?"


"Kamu masih tanya kenapa? kamu dari mana? Ini sudah malam kenapa kamu membiarkan Vira sendirian di rumah seperti ini, lihatlah kepala nya luka," ucap Dimas marah.


Bela syok melihat kepala Vira. "Aku tidak tau kak, aku pikir Bibik di sini."


"Dari mana kamu jam segini baru pulang? jangan bilang kamu sama Kevin?"


"Aku baru saja dari rumah Yana kak."


Dimas terlihat sangat khawatir melihat Yana lecet, sama seperti hal nya dia terluka Dimas benar-benar sangat marah.


Karena Dimas tidak bisa menahan emosi nya dia memilih untuk pergi mandi.


"Aku gak apa-apa mbak, aku minta maaf karena aku mbak jadi di marahin sama om Dimas."


"Gak apa-apa sayang, gak apa-apa kok," ucap Bela.


"Apa ini masih sakit?"


"Kenapa kamu tidak telpon Mbak?"


"Anak yang mana sudah dorong kamu?"


"Aku mohon jangan biarkan om Dimas bertemu dengan Bara, nanti Om Dimas marahin Bara."


"Loh kenapa? Dia harus di kasih peringatan."


"Bara tidak sengaja mbak." ucap Vira.


"Sudah biarkan saja om Dimas berbicara dengan dia besok."


"Jangan biarkan om Dimas ke sekolah mbak, nanti om Dimas pasti marah-marah di sana."


Bela menghela nafas panjang. "Baiklah-baiklah kalau begitu, seperti nya kamu sangat menyukai Bara, walaupun dari TK kamu sudah sering di isengin sama dia."


Bela menyuruh Vira makan, sementara Bela menyusul Dimas.


"Aku tau kakak khawatir, tapi namanya juga anak-anak."


Dimas yang duduk di pinggir kasur menoleh ke arah Bela.


"Tidak ada satu pun orang yang bisa menyakiti Vira."


Bela terdiam sejenak. "Siapapun itu mau dia anak kecil, orang besar, guru atau siapapun itu, saya tidak bisa menerima nya," tegas Dimas.


Bela menghela nafas, dia tidak bisa mengatakan apapun.


"Mulai besok aku akan mencari baby sister untuk Vira."


"Tidak perlu kak, dia sudah besar dia bisa menjaga diri sendiri, lagian dia tidak akan mau." ucap Bela.

__ADS_1


__ADS_2