Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 36


__ADS_3

Namun saat Dimas baru pulang tidak sengaja Bela melihat Dimas mencicipi dimsum itu. Namun karena Bela memergoki nya Dimas meletakkan gigitan terakhir di piring.


"Saya hanya mencicipi nya, rasanya sedikit aneh," ucap Dimas dan langsung pergi ke kamar.


Bela melihat hanya sisa sedikit lagi.


"Humm dasar pria kulkas, batu, dan gengsian. Dimsum ini sangat enak bahkan sudah habis dan satu oleh nya namun tetap saja dia mengatakan tidak enak," ucap Bela.


"Humm bukan nya Bapak bilang buatan saya tidak enak?"


"masih kurang enak, tapi saya ingin memakan nya dengan hasil buatan saya sendiri."


Bela menghela nafas panjang.


"Dasar gengsian, akui saja kalau? masakan ku enak," batin Bela.


Keesokan harinya Bela dan Dimas baru saja pulang belanja di sore hari karena Dimas pulang kerja jam empat sore.


Sampai di rumah mereka langsung mengeluarkan seluruh bahan yang mau di pakai.


"Apa bapak yakin kita akan memasak yang banyak?"


Dimas mengangguk.


"Besok saya tidak memiliki pekerjaan yang mendesak jadi kita besok bisa pergi ke panti asuhan sambil membawa ini."


"Tapi bagaimana kalau sudah basi."


"Itu tidak akan basi, letak kan saja di dalam kulkas."


Bela mengangguk, dia sangat bersemangat karena besok ke panti.


"Gunakan ini dulu Pak."


Bela memberikan apron.


Dimas menatap nya bingung karena tidak tau cara memakai nya.


Bela menawarkan diri untuk memasangkan kepada Dimas.


"Apa yang harus saya lakukan?"


Bela mengajari Dimas mengupas bumbunya terlebih dahulu memperkenalkan bumbu dan cara masak nya.


Dimas menatap wajah Bela yang menjelaskan nya.


"Bagaimana saya bisa paham kalau wajah kamu membuat saya terpana seperti ini," batin Dimas.


"Pak Dimas dengar saya tidak? saya sudah bilang jangan seperti itu."


"Maaf-maaf saya tidak tau."


Bela menghela nafas panjang. Dia mengawas kan Dimas agar dia melanjutkan nya.


Dimas memotong bawang namun tidak sengaja pisau melukai tangan nya.


"Ssttt!!"


Bela kaget dia langsung membawa Dimas ke wastafel mencuci darah nya.


"Bapak tidak bisa Masak namun kenapa harus ikut masak sih? jadi nya seperti ini kan?"


Dimas tidak mengatakan apapun.


"Sudah Bapak duduk saja, saya akan menyiapkan nya."


Tidak beberapa lama akhirnya sudah masak, Dimas langsung mencicipi nya.

__ADS_1


"Wahh rasa nya jauh lebih baik dari sebelumnya." ucap Dimas.


Bela tersenyum.


"Bagaimana? Apa rasanya sudah sama persis seperti masakan orang tua Bapak?"


"Tidak ada yang bisa menyaingi masakan orang tua saya, sekalipun chef terkenal," ucap Dimas.


"Huff baiklah," ucap Bela.


Setelah beberapa lama akhirnya selesai makan.


Bela masuk ke kamar mau mandi.


Tiba-tiba saja dia kefikiran tentang hubungan nya dengan Dimas.


"Mau sampai kapan sih aku menjadi wanita simpanan seperti ini?" batin Bela.


"Aku bukan hanya menjadi wanita simpanan, tapi menjadi pelayan juga di sini, nasib ku sangat menyebalkan,"


"Terkadang aku sudah pasrah namun di sisi lain aku tidak boleh seperti ini terus, aku harus melanjutkan cita-cita ku."


"Tapi dari mana aku mau dapet uang untuk kuliah? Aku tidak memiliki gaji di sini."


"Tok!! Tok!! Tok!!"


Ketukan pintu kamar mandi membuat Bela kaget dan sadar dari lamunannya.


"Iyah pak, saya lagi mandi."


"Kenapa begitu lama? Saya mau mandi juga."


"Cihh Rumah ini sangat besar dan juga banyak kamar mandi."


Bela menyiapkan mandi nya dan langsung keluar.


Bela sudah tidak malu memakai handuk di depan Dimas karena Dimas sudah melihat semua nya.


"Walaupun saya menggoda Bapak, bapak tidak akan berselera kan? Saya tidak akan takut," ucap Bela.


Bela melewati Dimas dan langsung masuk ke ruangan ganti.


"Kenapa kau baru menyadari kalau pakaian ku dengan pakaian pak Dimas satu lemari? sudah seperti suami istri saja," ucap Bela.


Di malam hari nya seperti biasa Bela membaca buku agar Dimas bisa tidur.


"Pak," panggil Bela.


"Ada apa?"


"Bukan kah sebaiknya saya tidur di kamar lain saja? Bagaimana kalau orang lain tau kita satu kamar?"


"Tidak akan ada yang tau karena tidak ada orang lain yang masuk ke dalam rumah ini."


"Tapi Pak."


"Kenapa? apa kamu merasa keberatan tidur di sofa? Kalau begitu pindah lah ke tempat tidur saya."


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Bukan seperti itu pak."


"Kenapa?" tiba-tiba Dimas menatap wajah Bela yang duduk di pinggir kasur.


Bela gugup karena di tatap seperti itu oleh Dimas.


"Baiklah pak saya tidak akan pindah," Bela mau pindah tapi Dimas malah menahan tangan Bela.

__ADS_1


"Kamu tidak akan pindah ke kamar lain karena kamu dari awal sudah di sini dan seterusnya harus di sini."


"Baiklah pak, kalau begitu bapak lanjut tidur saja."


Bela meminta Dimas tidur lagi dan setelah itu Bela lanjut untuk membaca buku.


Tidak beberapa lama Dimas tidur. Bela menyelimuti nya sebelum pindah ke sofa.


Besok pagi nya Dimas bangun karena Bela membangun kan nya.


"Pak bangun lah, ini sudah pagi kita harus siap-siap mau berangkat ke panti asuhan."


Dimas bergeliat membuka mata nya dan melihat Bela.


"Ini masih jam tujuh pagi, kenapa kamu membangun kan saya begitu cepat?" tanya Dimas.


"Bukan nya hari ini bapak janji mau ke panti asuhan?" tanya Bela.


"Iyah tapi ini masih sangat pagi Bela, saya masih ngantuk."


"Tapi kalau Bapak mandi, pasti ngantuk nya akan hilang," ucap Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Saya masih mau tidur jangan ganggu saya!" ucap Dimas.


Bela menghela nafas panjang.


Dimas tidak bisa tidur karena Bela selalu menunggu nya di atas kasur.


Dimas membuka mata nya dia melihat Bela.


"Kita ke sana akan lebih siang sedikit karena saya masih ada Zoom meeting di pagi hari."


"Kenapa Bapak gak bilang sih dari tadi? Aku sudah siap-siap ."


Dimas tersenyum melihat Bela.


"Seperti nya kamu sangat merindukan Vira."


"Iyah, aku sangat merindukan dia, aku benar-benar merindukan dia."


Dimas duduk dia menatap wajah Bela.


"Kamu masak sarapan apa?"


"Aku tidak masak karena aku berfikir kita akan sarapan di luar."


"Masak lah sambil menunggu saya mandi."


Bela menganggap sambil tersenyum dan keluar dari kamar.


Dimas tersenyum melihat Bela. Dia tidak berhenti tersenyum.


Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai mandi, dia keluar melihat Bela sedang berbicara dengan orang lain lewat telepon rumah.


"Kamu sedang berbicara dengan siapa?" tanya Dimas kepada Bela.


Bela menghentikan telpon nya.


"Siapa yang kamu telpon?"


"Bukan aku, tapi Fahri yang menelpon ke sini."


"Fahri?"


Bela mengangguk.

__ADS_1


"Ada apa? kenapa dia menghubungi kamu?" tanya Dimas dengan wajah yang berubah tiba-tiba kesal.


__ADS_2