Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 30


__ADS_3

"Terserah kamu saja, sekarang buat kan sarapan."


"Mbak itu kekasih om kan? dia sangat cantik sekali dari pada di foto."


"Iyah, selama kamu tinggal di sini kamu akan tinggal bersama dia karena Om akan pergi kerja."


"Iyah Om," Vira mengangguk.


Dimas tersenyum dan mengelus kepada Vira.


"Oh iya kamu sama mbak Bela jangan nakal yah, mbak Bela sedang sakit," Vira mengangguk lagi.


Waktu nya Dimas berangkat bekerja.


"Bapak seharian bekerja dan malam tadi Bapak baru Istirahat jam dua malam, aku menyiapkan minuman ini agar badan Bapak Vit," ucap Bela sambil memberikan botol minuman.


Dimas memandangi wajah Bela yang berbicara.


"Pak!" Dimas langsung sadar.


"Terimakasih. Lain kali jangan meragukan kesehatan tubuh saya karena saya rajin olahraga."


Bela menghela nafas panjang.


"Bapak selalu saja menentang nya, percuma saja Bapak olahraga kalau tidak menjaga pola makan, tidur dan juga kesehatan," ucap Bela.


Dimas hanya hanya diam saja sambil memakai sepatu nya.


Dimas melihat Vira yang menonton di Ruang tamu.


"Saya titip Vira."


Bela mengangguk.


"Hari ini Fahri keluar kota kamu tidak perlu membuat nya bekal."


Bela menatap Dimas bingung karena tidak mungkin Fahri keluar kota baru satu Minggu bekerja.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Kamu tidak percaya kepada saya?"


"Ya sudah kalau begitu Pak. Bekal Bapak hari ini mau di masakin apa?" tanya Bela.


"Makanan yang bergizi tidak seperti yang kamu masak kemarin. Rasa nya sangat aneh."


"Humm walaupun rasanya aneh tetap saja habis."


Dimas langsung memasang wajah dingin membuat Bela berhenti bercanda.


"Jangan melakukan pekerjaan rumah dan istirahat lah karena kamu belum sembuh."


"Hah?" Bela kaget karena Dimas sangat baik.


"Ma-maksud saya jaga lah Vira dengan baik, jangan melakukan pekerjaan lain selain menjaga Vira."


Bela mengangguk.


"Vira, Om berangkat dulu," ucap Dimas.

__ADS_1


Vira menyalim tangan Dimas.


"Hati-hati ya Om, jangan lupa bawa jajan pulang," ucap Vira, Dimas tersenyum mencubit pipi Vira dan mengangguk.


Bela sangat heran melihat Dimas yang ternyata sangat lembut kepada anak kecil.


Bela berfikir awalnya anak kecil akan takut melihat Dimas namun kenyataannya tidak.


Hanya orang-orang Dimas saja yang takut kepada Dimas. Bukti nya saat di Panti asuhan guru-guru dan anak-anak sangat nyaman berbicara dengan Dimas.


Mereka bahkan bisa tersenyum sambil tertawa. Begitu juga dengan Dimas yang juga bisa tersenyum kepada mereka.


Dimas sudah berangkat bekerja Vira kembali duduk di sofa ruang tamu.


"Vira ayo mandi dulu," ajak Bela.


"Aku bisa mandi sendiri mbak, mbak sedang sakit harus istirahat," ucap Vira.


Bela sangat kaget Vira sangat mandiri dan juga baik Budi.


Sepanjang perjalanan ke kantor Dimas tidak berhenti senyum-senyum sambil melihat botol minuman yang di berikan oleh Bela.


Sampai di kantor semua karyawan bingung melihat wajah Dimas yang biasanya sangat menakutkan namun sekarang terlihat lebih bahagia.


"Aku rasa Pak Dimas sedang memenangkan Lotre." ucap Serli.


Di rumah Bela tidak melakukan apapun seperti perintah Dimas dia menemani Vira yang hanya diam saja di ruang tamu fokus menonton TV.


"Kenapa aku merasa ada sesuatu dengan anak ini?" batin Bela.


"Aku minta maaf ya mbak karena menonton TV terlalu lama," ucap Vira ketika Flim sudah selesai.


"Gak apa-apa kok."


"Di panti tidak ada TV selebar ini, aku juga sangat jarang menonton dan hanya membaca buku saja," ucap Vira.


"Sini deh duduk di pangkuan mbak." Bela memangku Vira.


"Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau di sini asalkan ijin dulu sama Om Dimas karena dia yang punya rumah," ucap Bela.


Vira mengangguk sambil tersenyum.


"Mbak pacar nya om Dimas yah?" Bela mau menjawab namun tiba-tiba Vira mencubit pipi Bela.


"Pantesan saja Om Dimas pacaran dengan mbak, om Dimas pernah bilang kalau dia sangat suka dengan pipi yang tembem seperti punya ku, dan sekarang pipi mbak juga sangat tembam," Bela hanya diam saja.


Bela jadi tidak kesepian karena ada Vira teman di ajak bicara walaupun Vira lebih banyak diam membuat Bela takut bertanya lebih banyak.


Bela yang sangat benci kesunyian akhirnya bisa di bantu oleh Vira.


Sambil memasak untuk bekal Dimas Vira menemani nya.


Bekal sudah sampai di kantor.


"Akhirnya bapak datang juga, mana bekal saya?" tanya Fahri yang sudah menunggu di depan perusahaan.


Supir melihat hanya ada satu bekal.

__ADS_1


"Loh bukannya bapak di luar kota? Mbak Bela hanya membuat satu bekal untuk tuan Dimas."


"Yahh padahal saya sudah sangat lapar Pak."


"Saya tidak tau, kalau begitu kamu pergi makan di luar saja."


Fahri menghela nafas panjang.


"Dari mana Bela tau aku di luar kota? Padahal aku berangkat nya besok bukan sekarang," ucap Fahri.


"Permisi tuan ini bekal nya." Supir meletakkan bekal di meja Dimas.


Dimas yang sudah sangat lapar langsung membuka bekal nya dan kedua kalinya mendapatkan surat dari Bela.


"Maaf jika saya lantang Pak, tapi Vira berpesan agar Bapak cepat pulang hari ini."


Isi surat dari Bela.


"Cih, Vira atau kamu yang mau saya cepat pulang," ucap Dimas sambil tersenyum.


Kali ini Bela masak makanan yang biasa ada di menu makan Dimas sebelum kedatangan dia.


"Lumayan pintar juga dia memasak makanan seperti ini."


Dimas makan sangat lahap sekali sambil senyum-senyum.


Setelah selesai makan dia duduk istirahat sejenak.


"Humm kira-kira adik kakak itu sedang apa yah di rumah. Walaupun mereka adalah saudara kandung tapi mereka memiliki dua kepribadian."


Dimas menghubungi Detektif nya dan mencari tau bukti kalau Vira itu adik kandung Bela yang bisa di pegang oleh Dimas karena suatu saat nanti akan ada masa nya dia membutuhkan itu.


Namun tiba-tiba saja Dimas kefikiran untuk tes DNA.


"Tapi untuk apa melakukan itu sekarang? Bukan nya sudah jelas kalau Vira itu adalah adik Bela yang sudah di tinggal kan oleh Orang tua Bela karena tidak ingin memiliki anak."


Dimas jadi pusing sendiri.


"Ah sudahlah, yang penting sekarang mereka berdua sudah ada di tangan ku dan aku hanya menunggu tanggal mainnya saja," ucap Dimas sambil tertawa.


Di sore hari nya..


"Bapak mau pulang?" tanya Serli.


Dimas mengangguk.


"Tumben banget jam empat sudah pulang pak?" tanya Serli.


"Saya mau istirahat, badan saya sakit-sakit."


Serli melihat gelagat Dimas aneh.


"Apa kamu melihat Fahri?" tanya Dimas.


"Saya di sini Pak." Fahri datang menghampiri Dimas.


*Haii semua nya pembaca ku yang tersayang, author butuh dukungan kalian dengan cara Rate cerita author ini yah, jangan lupa like, komen dan juga vote sebanyak-banyaknya biar author tambah rajin update nya. Terimakasih banyak 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2