
"Apa pak Dimas mengerti? Kenapa dia langsung tau? ah sudahlah sebaik nya aku lanjutkan bekerja."
"Ayo sayang, ikut Tante saja," ucap Serli kepada Vira.
Vira mengangguk. Sementara Dimas langsung menemui Rio.
"Ada apa bapak meminta saya pagi-pagi ke sini?" tanya Rio.
"Apa yang kau lakukan kepada Serli? Apa kamu tau perlakuan mu ini bisa membuat nama baik perusahaan buruk."
"Apa yang saya lakukan? saya tidak melakukan apapun."
"Serli mengatakan kalau kau tidak mengantar kan dia pulang melainkan membawa nya ke rumah mu," ucap Dimas.
"Saya tidak tau di mana rumah nya, tadi malam saya tidak melakukan apapun, dia hanya salah paham, saya tidur di luar bukan di kamar." ucap Rio.
Dimas menatap Rio. "Saya bersumpah pak, saya tidak melakukan apapun kepada nya."
"Kamu tau kan kalau dia suka sama kamu dari lama?" tanya Dimas. Rio menggeleng kan kepala nya.
"Bohong!"
"Mana mungkin pak, dia selalu mencari masalah dan pasti membenci saya."
"Itu karena dia sudah kesal sama kamu," ucap Dimas.
"Saya tidak ingin membahas ini pak, saya akan kembali."
Rio permisi dan langsung pergi.
Di malam hari nya...
"Brak!!" tiba-tiba Rio datang kepada Serli yang duduk sendirian di salah satu Cafe yang tidak terlalu ramai.
Rio datang langsung menepuk meja membuat Serli terkejut.
"Rio! Kenapa datang tiba-tiba membuat ku terkejut saja!"
"Justru aku yang harus bertanya kepada kamu, apa yang kamu katakan kepada pak Dimas sehingga pak Dimas meminta saya menemui nya pagi tadi?"
"Enggak! Aku tidak mengatakan apapun."
"Jangan berbohong! Kamu pasti mengatakan yang tidak-tidak kepada pak Dimas kan?"
"Aku minta maaf, aku tidak mengatakan hal seperti itu, hanya saja pak Dimas tidak mendengar kan penjelasan ku sampai selesai."
Rio menatap Serli. "Kamu menyukai ku kan?" tanya Rio membuat Serli kaget.
"Itu dulu, sekarang tidak."
"Kamu harus menyukai ku lagi, ayo kita berpacaran."
Serli menatap aneh, dia berdiri.
"Jangan bercanda deh, aku tau kalau aku sudah jomblo dari lahir, aku juga tau kalau aku lama menyukai kamu, tapi tidak seperti ini juga caranya."
__ADS_1
Rio melihat Serli pergi begitu saja, dengan wajah yang sangat kesal.
"Ada apa dengan nya? Bukan kah ini yang dia inginkan selama ini?"
"Mentang-mentang dia memiliki wajah tampan, dia kaya, dia di dambakan banyak perempuan, sehingga suka hati berbicara seperti itu."
"Serli," tidak sengaja bertemu dengan Dimas. Serli tidak mengatakan apapun dia langsung pergi begitu saja.
Dimas masuk ke dalam dia melihat Rio yang duduk dengan kebingungan.
"Apa yang kau lakukan kepada Serli?" tanya Dimas.
"Seperti yang bapak katakan, saya meminta nya untuk menjadi pacar saya."
Dimas mendengar itu langsung menghela nafas panjang dia menatap wajah Rio.
"Apa yang kau katakan?" tanya Dimas lagi.
"Saya bertanya kepada nya, setelah itu saya meminta nya untuk menjadi kekasih saya."
Dimas menghela nafas panjang. "Kau sangat bodoh, bagaimana bisa kau meminta perempuan yang tidak kau suka menjadi pacar mu?"
Sudah jam delapan malam.. Dimas harus mengantarkan Vira pulang karena Vira masih bersama nya.
"Mbak Bela... Kami pulang," ucap Vira terlihat sangat bahagia dia juga pulang membawa banyak makanan dan juga mainan.
"Kita perlu bicara kak," ucap Bela menahan tangan Dimas.
"Vira, kamu langsung mandi yah sayang," ucap Bela.
Dimas duduk di sofa, Bela membuat kan teh untuk nya.
Bela menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau membahas itu, aku mau membahas tentang permintaan kakak kemarin."
Dimas terdiam sejenak dia menatap Bela.
"Saya tidak akan memaksa kamu kalau kamu tidak mau."
"Aku akan memikirkan nya sekarang kak, tapi aku ingin kita jalani hubungan ini terlebih dahulu."
Dimas mengangguk. "Baiklah, aku mengerti."
Bela menatap Dimas.
"Ketika nanti aku sudah siap, aku akan mengatakan nya kepada kakak."
Dimas tersenyum. "Baiklah kalau begitu."
Bela menatap wajah Dimas. "Apa kakak marah? Apa yang sedang kakak pikirkan?" tanya Bela.
Dimas menggeleng kan kepala nya. Dia mengusap wajah nya.
"Saya hanya pusing memikirkan Rio dengan Serli."
"Ada apa dengan mereka Kak? Apa mereka sekarang pacaran? Aku yakin sebenarnya mereka saling mencintai."
__ADS_1
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Mbak Serli seperti nya sangat menyukai Rio, hanya saja Rio sangat dingin sekali."
"Sekarang Serli marah karena Rio meminta nya menjadi pacar nya."
"Loh kenapa dia marah? Justru senang dong."
"Rio adalah pria yang tidak tau caranya jatuh cinta, menyukai perempuan sehingga dia berfikir berpacaran dengan Serli membuat Serli berhenti mencari masalah dengan nya."
Bela langsung terdiam mendengar itu. "Apakah ada pria seperti itu?"
"Serli dan Rio sama-sama belum pernah pacaran."
"Ah sudahlah kak, lagian kenapa kakak memikirkan nya, sebaiknya kakak pulang sebelum larut malam."
"Kamu mengusir ku?" tanya Dimas. "Bukan seperti itu kak. Hanya saja kita sudah sepakat untuk kakak kembali ke rumah kakak setelah aku sudah sehat."
Dimas menghela nafas panjang. Dia mengangguk.
"Baiklah kalau begitu," ucap Dimas.
Bela tersenyum. Di mengantarkan Dimas keluar.
"Oh iya tadi aku membeli makanan untuk kamu, makan dan tidur lah dengan nyenyak."
Bela mengangguk. Bela menunggu Dimas sampai pergi dan setelah itu masuk ke dalam rumah.
Bela masuk ke dalam kamar dan melihat Vira yang lagi asik main di dalam kamar nya.
"Mbak Bela ayo duduk di sini," ucap Vira.
"Bagaimana hari ini ikut dengan om Dimas?"
"Aku sangat senang sekali mbak, aku sangat menyukai Om Dimas, aku sangat ingin memiliki Ayah seperti Om Dimas," ucap Vira.
"Ayah?"
"Iyah Mbak, aku boleh kan minta sama mbak untuk menikah dengan om Dimas saja?" tanya Vira.
"Aku mohon Mbak."
Bela tersenyum. "Kamu belum paham tentang itu, kamu lanjut main saja, setelah selesai main tidur yah, mbak ke kamar dulu."
Dimas sampai di rumah nya dia duduk di sofa kamar nya.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja Bela, kamu pikir aku akan berhenti membujuk kamu menikah dengan ku? Tidak akan karena menikahi mu adalah tujuan ku."
Sementara Fahri di ruang tamu melamun sambil memegang Handphone nya.
"Fahri.. apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa belum istirahat." tanya Bibik.
"Eh Bibik.. Justru Bibik yang harus istirahat."
"Kamu pasti sangat lelah, Bibik hanya di rumah saja."
__ADS_1
"Kamu rindu sama Non Kayla yah?" tanya Bibik.
"Ih Bibik ngomong apa sih? Gak mungkin lah, aku sedang memikirkan pekerjaan saja," ucap Fahri sambil tersenyum malu.