
"Aku mohon jangan katakan itu lagi pak, aku mabuk juga karena Bapak!"
Dimas diam. Bela langsung sadar kalau dia sangat tidak sopan menutup mulut Dimas.
"Bukan kah itu sungguh pengalaman yang baik? Saya pikir itu tidak cukup buruk karena saya merasa pu!" lagi-lagi Bela menutup mulut Dimas.
"Pak saya mohon berhenti membahas tentang ini dan lupakan, saya akan melakukan apapun asal Bapak jangan membahas itu."
Dimas tersenyum tipis. Bela langsung melepaskan tangan nya dari mulut Dimas.
"Kamu yakin mau melakukan apapun?"
Bela terdiam.
"Humm saya rasa, kamu tadi malam...."
"Baiklah pak saya akan melakukan apapun untuk Bapak." ucap Bela.
"Saya ke kamar mandi dulu. Awas saja kalau bapak membahas tentang ini lagi!"
Bela masuk ke dalam kamar mandi.
Dimas berjalan ke arah cermin sambil melihat telinga nya yang sangat pusing.
"Huff ini sungguh sakit sekali."
Beberapa lama akhirnya mereka keluar dari hotel itu. Sepanjang perjalanan Bela hanya diam saja, dia sangat malu sehingga tidak bisa menatap wajah Dimas.
"Apa yang kamu mau?" tanya Dimas.
"maksudnya?"
"Kamu tidak ingin sesuatu untuk menghilangkan mabuk mu?"
Bela menggeleng kan kepala nya.
Namun ternyata Dimas masuk ke salah satu halaman apotek.
"Kamu mau menitip?" Bela terus menggeleng kan kepala nya.
Dimas menghela nafas panjang.
Dimas keluar dari mobil. Sementara Bela meratapi kesalahan yang dia buat sendiri.
"Kenapa aku harus mabuk? Aku sangat bodoh, aku bodoh!"
Bela merasa sangat sedih dan menangis.
"Ya Allah maafin aku."
Dimas kembali ke dalam mobil Bela langsung berhenti menangis.
Dimas sadar kalau Bela nangis.
"Kenapa kamu nangis?"
Bela diam dan membuang wajah nya.
"Maafin saya karena saya membuat kamu sedih."
Dimas merasa bersalah karena Bela menangis.
"Kenapa bapak minta maaf? Ini adalah kesalahan ku, seharusnya aku tidak mabuk."
Dimas menarik Bela ke pelukan nya.
"Sudah-sudah jangan sedih, saya tidak akan pernah membahas atau mengingat itu lagi, anggap saja itu tidak pernah terjadi."
Bela menangis di pelukan Dimas terisak-isak.
__ADS_1
Dimas mengelus kepala Bela.
"Ya Allah setelah aku membenci nya dan merutuki nya kenapa di peluk seperti ini sangat nyaman."
Namun dia langsung melepaskan nya karena takut terlanjur nyaman.
"Maaf." Bela duduk dengan baik.
Dimas menghapus air mata Bela.
"Ambil lah ini, berhenti bersedih dan normal kan badan dan Fikiran kamu agar kita pulang."
Dimas memberikan minum dan obat.
Setelah itu mereka pun pulang ke rumah.
"Pak bagaimana kalau orang-orang bertanya kita dari mana? Saya harus menjawab apa?"
"Kamu tidak perlu khawatir, mereka tidak akan bertanya sama sekali."
Dan benar saja setelah turun dari mobil tidak ada pertanyaan aneh mereka di sambut dengan sangat baik.
Satu bulan kemudian...
"Bela apa kamu tau hari ini Fahri pula loh." ucap pelayan lain.
"Hah? Kamu Seriusan mbak?"
Bela memastikan kepada Bibik dan ternyata benar.
Bela terlihat sangat senang sekali.
Dimas datang.
"Ada apa ini?" tanya Dimas karena berkumpul di ruang tamu.
"Tidak ada tuan." mereka langsung pergi semua meninggalkan Bela.
"Kenapa? kamu tau dari mana?"
"Saya tau dari pelayan lain. Saya mau memastikan nya agar saya bisa masak."
Dimas melihat wajah Bela yang sangat ceria sekali Fahri pulang.
"Seperti nya kamu sangat senang sekali Fahri pulang."
Bela tersenyum sambil mengangguk.
Melihat itu Dimas sangat cemburu.
"Sial kenapa aku harus merasakan cemburu yang begitu sakit hanya karena hal seperti ini?"
"Kenapa Bapak tidak menjawab? apa Bapak pulang cepat mau menjemput Fahri?" tanya Bela.
Dimas mengangguk.
"Apa saya boleh menggunakan kartu permintaan saya untuk pertama kali?" tanya Bela karena sama sekali belum pernah dia minta setelah kejadian itu."
Dimas mengangguk.
"Katakan lah!"
"Saya boleh ikut menjemput Fahri ke bandara."
Dimas baru mau bicara namun langsung di tahan oleh Bela.
"Eitttssss!! Bapak tidak boleh menolak karena seorang pria sejati tidak pernah mengingkari janji nya."
"Baiklah kamu boleh ikut."
__ADS_1
Bela sangat senang dia langsung bersiap-siap.
Setelah siap Bela dan Dimas berangkat menggunakan mobil satu.
"Akhir-akhir ini Bela tidak tertekan lagi oleh Tuan Dimas, Bibik sangat lega melihat dia sekarang semakin ceria, cantik, dan juga Tuan Dimas tidak pernah menindas nya." ucap Bibik.
"Justru kami semua sangat khawatir bik, bagaimana Bibik bisa bahagia melihat itu?"
"Loh kenapa? bukan nya itu bagus, apa kalian lupa bagaimana tuan Dimas memperlakukan Bela dulu?"
"Iyah Bik, tapi apa Bibik tidak sadar seperti nya Tuan menyukai Bela."
"Wajar saja Tuan Dimas suka kepada Bela, lagian siapa sih yang gak akan suka sama Bela?" ucap Bibik.
"Masalah nya bukan di situ Bik."
"Lalu kenapa?"
"Bela seperti nya tidak menyadarinya perasaan tuan Dimas dan dia juga sangat menyukai Fahri, begitu juga dengan Fahri seperti nya menyukai Bela juga."
"Lalu masalah nya di mana?"
"Fahri dan Bela sedang bahaya bik, kalau Tuan tau mereka memiliki hubungan tuan Dimas Akan sangat Marah."
Bibik langsung terdiam dia baru kefikiran.
"Tapi seperti nya Bela dan Fahri hanya berteman saja."
"Bagaimana bisa hanya berteman bik? Fahri sangat banyak memiliki teman perempuan namun hanya kepada Bela sifat nya berbeda."
Bibik menghela nafas panjang.
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Bibik.
Semua nya menggeleng kan kepala nya.
"Tapi tidak mungkin tuan Dimas marah karena mereka pacaran, tuan Dimas tidak mungkin menyukai..." Bibik hampir saja keceplosan.
"Sudah lah jangan di bahas lagi, sebaik nya kita urus urusan masing-masing."
Bela dan Dimas sudah sampai di bandara.
"Seperti nya kamu sangat senang sekali Fahri pulang." ucap Dimas kepada Bela yang duduk di samping nya.
"Iyah pak, saya sangat merindukan Fahri."
Dimas menghela nafas panjang dia hanya bisa memasang wajah datar.
Tidak beberapa lama Fahri keluar.
"Bela kamu ikut juga?" tanya Fahri, Bela tersenyum.
"Tuan." Fahri menyalim tangan Dimas.
Keluar dari bandara Dimas dan juga Fahri berbicara sangat akrab sehingga Dimas terabaikan.
Setelah dari sana Dimas tidak bisa menahan rasa kesal nya dia memilih untuk minum menenangkan diri di luar.
"Apa Bela tidak menyadari kalau saya menyukai nya? Apa dia tidak sadar kalau Saya cemburu melihat nya dengan Fahri?"
"Saya sudah melakukan apapun agar dia bahagia dan nyaman bersama saya, namun dia masih menyukai Fahri,"
"Heii bro, kenapa sendiri? Mana kekasih mu?" tanya Romi yang baru saja datang entah dari mana."
Dimas tersenyum tipis.
"Bertengkar lagi sama pacar mu?"
Dimas menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Lalu kenapa?"
"Bro kalau lu cemburu, ku harus bagaimana?" tanya Dimas.