
Bela melihat semua nya sudah bersih, dia berjalan ke arah dapur sudah rapi juga.
"Kenapa sudah sangat sepi? apa mereka berdua sedang merenung kan kesalahan nya?"
Bela melihat ke kamar Vira dan ternyata Vira sudah tidur. Dia menyelimutinya Vira dan mematikan lampu.
Dia mencari Dimas ke kamar nya. Dan ternyata Dimas sedang duduk di sofa dan memeriksa laptopnya.
Dimas tidak sadar Bela mengintip nya. Tidak beberapa lama Bela kembali dia melihat Dimas ketiduran sambil duduk di sofa.
Bela menghela nafas panjang. Dia menutup Laptop Dimas, dia mau membantu membaringkan badan Dimas namun Dimas terbangun.
"Aku ketiduran, aku akan segera pulang, kamu bisa istirahat," ucap Dimas langsung berdiri.
Bela menatap Dimas yang langsung mengumpulkan barang-barang nya.
"Tumben banget dia langsung mau pulang? Biasanya aku harus marah-marah dulu," batin Bela.
"Kakak yakin mau pulang sekarang? Seperti nya di luar sudah mau hujan," ucap Bela.
"Hum, sebaik nya aku pulang, kamu juga seperti nya masih kesal kepada ku."
Bela menahan Dimas. "Ada apa? Seperti nya bukan aku yang kesal tapi kakak yang kesal kepada ku," ucap Bela menahan tangan Dimas.
Dimas melepaskan tangan Bela dan keluar dari kamar, Bela semakin yakin kalau ada yang aneh dengan Dimas.
Namun Bela tidak bisa mengatakan apapun dia melihat Dimas meninggal kan rumah nya.
"Ada apa lagi sih dengan dia? seharusnya aku yang marah karena dia sudah menghancurkan isi rumah ku."
Keesokan harinya...
Setelah selesai dari kantor Dimas seperti biasa ke rumah Bela.
Namun kali ini dia ada tujuan tertentu. "Akhirnya kamu pulang juga, ayo ikut aku," ucap Dimas kepada Bela yang baru saja pulang.
"Kemana? Aku baru saja pulang."
Dia masuk ke dalam mobil Dimas. "Kenapa tidak menjawab pesan ku pagi ini?" tanya Bela.
Namun Dimas tidak menjawab nya.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di satu Toko yang begitu besar.
"Kamu bisa pilih oven seperti apa, dan alat-alat yang sempat aku rusak sebelum nya."
Bela terdiam sejenak. "Apa dia marah karena aku menghukum nya?" batin Bela.
Mereka masuk ke dalam. Bela melihat harga oven di sana sangat mahal-mahal sekali, dia juga tidak menyangka kalau harga oven nya yang rusak sangat lah mahal.
Dia membeli beberapa barang-barang setelah itu Dimas membayar nya. Mereka juga membeli bahan-bahan untuk di masak.
__ADS_1
Selepas pulang dari dana, barang-barang sudah keluar dari dalam mobil nya, Dimas langsung pamit pergi.
Bela menatap nya dengan heran. "Dia seperti anak kecil saja, hanya karena aku hukum dan aku marahin dia malah merajuk seperti itu."
"Bela...." tiba-tiba Serli datang entah dari mana.
"Eh mbak Serli," ucap Bela.
Dia sangat senang Serli datang. Mereka masuk ke dalam.
"Tumben banget mbak datang ke sini, apa ada sesuatu?" tanya Bela.
"Tidak ada yang mendesak kok, aku ke sini mau tanya apa sebelum nya pak Dimas ke sini?" tanya Serli.
"Iyah, dia baru saja pulang."
"Oohh," ucap Serli.
"Ada apa mbak? kok kelihatan nya ada sesuatu yang terjadi."
"Seharian Pak Dimas terlihat sangat emosi, dia memotong gaji karyawan hanya karena melakukan kesalahan sedikit yang tidak di sengaja dan membatalkan beberapa janji hari ini."
"Tidak biasanya pak Dimas seperti itu, tapi pak Dimas terlihat memiliki masalah pribadi."
"Tidak mungkin hanya karena aku hukum dia seperti itu," batin Bela.
cukup lama mereka berbincang-bincang namun handphone serli tidak berhenti berbunyi telpon dari Roi.
"Oh iya Bela, aku tidak bisa lama-lama di sini, aku hanya minta tolong agar kamu mencari tau masalah nya apa, aku sangat pusing menghadapi keadaan kantor sekarang."
Bela menghampiri Vira yang belajar di kamar nya.
"Vira... Ini cemilan untuk kamu."
"Terimakasih Mbak," ucap Vira.
"Oh iya Vira, apa om Dimas ada mengatakan sesuatu tentang mbak sama kamu?" tanya Bela.
"Tidak ada Mbak."
"Apa kamu tau kenapa hari ini om Dimas banyak diam?"
Vira menggeleng kan kepala nya.
"Apa kamu rasa mbak melakukan kesalahan?" tanya Bela. Vira menatap Bela.
"Semalam mbak keluar kemana? Om Dimas tidak berhenti bertanya kapan mbak pulang, dia juga bertanya kemana mbak pergi," ucap Vira.
Bela langsung tau. "Aku sama sekali tidak ijin dan tidak bilang aku akan kemana, jangan-jangan dia mencari tau aku pergi kemana."
Bela sangat panik, dia sangat takut Dimas salah paham.
__ADS_1
Di malam hari nya dia memutuskan untuk ke rumah Dimas setelah beberapa lama tidak ke sana.
Namum tetap saja dia harus hati-hati. Dia membawa Vira.
"Huff aku harus memberanikan diri, aku tidak ingin kak Dimas semakin marah."
"Hore kita ke rumah om Dimas," ucap Vira sangat senang sekali.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Dimas. "Bela! Vira." ucap Fahri kaget melihat mereka di depan rumah.
"Sssstt!!! Jangan kuat-kuat, aku ke sini mau mencari kak Dimas."
"Oohh pak Dimas, dia ada di lantai atas, kamu bisa langsung ke atas saja karena semua orang sudah tidur."
Bela mengangguk. Dia meninggal kan Vira bersama Fahri.
"Loh kok ada Vira di sini?" tanya Kayla yang baru saja keluar membawa makanan karena mereka sedang nongkrong di depan rumah.
"Dia datang bersama Bela."
"Lalu Bela nya mana?"
"Menemui pak Dimas, seperti nya ada urusan mendesak."
"Huff setelah sekian lama akhirnya dia datang lagi ke sini," ucap Serli.
"Oh iya sini sayang, ayo makan makanan ini."
Bela naik ke lantai atas, dia melihat kamar Dimas namun tidak ada orang di dalam nya.
Tiba-tiba dia mendengar suara sentuhan botol dari arah balkon kamar.
Dia masuk dan melihat ternyata Dimas ada di balkon sambil minum alkohol sendirian.
"Kak Dimas," ucap Bela. Dimas melirik ke arah Bela. Dimas berdiri dia menatap Bela.
"Apa yang kau lakukan di sini? pergilah!"
"Kenapa kakak sangat kasar? Aku baru saja sampai tapi kenapa di usir?"
"Untuk apa kau ke sini?"
"Aku mendapatkan kabar dari Serli hari ini mood kakak kurang baik, dan hari ini kakak juga mengabaikan aku dan Vira."
"Apa kakak marah karena aku menghukum kakak?" tanya Bela.
Dimas menatap Bela. "Keluar dari sini sebelum saya marah."
"Tidak! Aku tidak akan keluar sebelum kakak mengatakan kenapa kakak seperti ini, dan kakak juga minum begitu banyak."
"Saya cemburu! Saya cemburu kepada Kevin."
__ADS_1
Dimas menggenggam kedua lengan Bela dengan sangat erat sekali.
"Apa kau tau? Saya mendengar kalau kau meminta maaf, berterimakasih dan membalas kebaikan nya dan menghabiskan waktu Tampa ijin dengan Kevin, sementara kau tidak melakukan hal yang sama kepada saya." ucap Dimas dengan emosi sambil mengguncang badan Bela.