
"Hei akhirnya kalian datang juga, silahkan duduk."
"Aduhh bagaimana bisa pak Romi di sini sih? Semoga saja dia tidak mengenali ku."
"Hum dia kekasih kamu?" tanya Jihan.
"Oh iya kenalin nama nya Bela."
Bela dengan anggun menjulurkan tangan nya sambil tersenyum.
Dia harus bisa menyesuaikan diri agar tidak membuat Dimas malu.
"Kamu bekerja di mana? Aku belum pernah melihat kamu sebelum nya," ucap Jihan kepada Bela.
Bela menoleh ke arah Dimas.
"Untuk saat ini saya tidak bekerja karena saya lahir dari keluarga yang berkecukupan di tambah lagi pacar saya tidak mengijinkan saya bekerja karena dia siap menanggung semua kebutuhan saya."
Jihan mendengar itu langsung terdiam.
"Wahh lu hebat juga bro, pantesan saja kekasih mu sangat cantik." ucap Romi.
Dimas hanya bisa mengangguk, dia bingung dari mana Bela bisa mendapatkan jawaban itu.
"Kamu pasti sudah biasa minum seperti ini kan, coba lah," Jihan sengaja menuangkan minun alkohol di gelas Bela.
"Tidak mungkin wanita polos seperti dia bisa minum. Aku akan membuat Dimas malu," batin Jihan.
Dimas sangat panik namun Bela tetap santai.
"Nih perempuan seperti nya tidak puas memojokkan aku, seperti nya aku harus memberikan dia pelajaran."
Bela benar-benar minum dan menikmati acara kumpul mereka yang.
Jihan merasa gerah melihat Bela dan Dimas sangat romantis, dia pamit ke dalam kamar mandi.
"Bagaimana bisa Dimas menjadi kan wanita itu kekasih nya? Apa dia tidak salah lihat?" batin Jihan.
"Aku tidak mungkin wanita itu bahagia bersama Dimas, karena Dimas pasti hanya menginginkan tubuh nya."
Setelah Jihan mabuk Romi membawa nya untuk pulang.
"Bro, kami pamit dulu yah, Jihan sudah sangat mabuk berat."
Dimas mengangguk.
"Sampai jumpa Jihan... Jangan lupa undang aku kalau ada acara," ucap Bela sambil melambaikan tangan nya.
Dimas melihat Bela yang masih baik-baik saja sementara dia sudah sangat banyak minum.
"Dia berfikir bisa mempermalukan Bapak di sini, tidak semudah itu," ucap Bela.
"Apa kamu baik-baik saja? Sebaiknya kita pulang saja."
"Kenapa pulang? Aku mau menghabiskan semua minuman ini."
"Tapi..."
"Aku tidak mabuk, aku tidak mabuk, mantan Bapak yang mabuk."
__ADS_1
Dimas menghela nafas panjang. Bela lanjut minum, Dimas berusaha untuk menghentikan nya namun Bela tidak mau.
Namun tiba-tiba dia mual-mual dia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perut nya.
Dimas menghela nafas panjang.
"Huff seperti nya ini keputusan yang sangat buruk mengajak nya,"
Dimas memapah Bela ke salah satu kamar hotel karena tidak mungkin mereka pulang dalam keadaan seperti itu, dia juga sudah sedikit mabuk.
"Pak, Bapak benar akan melakukan permintaan ku kan?"
Bela sudah berbaring di tempat tidur namun masih ingat dengan perjanjian itu.
"Hum katakan saja."
"Aku sangat ingin berkunjung ke panti asuhan tempat aku tinggal dulu."
Dimas terdiam mendengar permintaan Bela.
Bela mendekati Dimas dan tiba-tiba mendorong Dimas berbaring di tempat tidur.
Dimas sangat kaget.
"Awas saja kalau Bapak tidak menepati janji Bapak, aku akan menggigit telinga bapak."
Bela langsung menggigit telinga Dimas sampai Dimas berteriak.
Berusaha melepaskan nya namun bela semakin kuat menggigit nya.
Dimas hanya bisa pasrah.
"Kenapa Bapak sangat wangi sekali?" Bela menatap wajah Dimas.
Bela sudah berbicara tidak jelas.
"Kamu menyukai saya?"
Bela mengangguk sambil tersenyum walaupun mata nya hampir tertutup.
"Sejak kapan?"
"Sejak bapak memperlakukan saya dengan baik, Bapak sangat kejam namun kenapa banyak wanita yang suka kepada Bapak, setelah aku merasakan nya aku baru sadar kalau wanita yang mencintai bapak itu pasti buta."
Dimas sangat senang mendengar itu.
"Apa kamu tidak menyukai Fahri?"
Bela tersenyum malu.
"Aku memang menyukai bapak, tapi aku jauh lebih menyukai Fahri, selain tampan dia juga baik, lembut, pintar dan patuh, dia juga memiliki badan yang bagus dan sangat bisa menghargai orang lain, tidak seperti bapak yang bisa nya hanya marah, protes dan juga memerintah."
Mendengar itu kebahagiaan Dimas hilang seketika.
"Tapi aku sangat suka laki-laki yang mudah akrab dengan anak kecil."
Dimas menatap wajah Bela.
"Saya..." Baru saja mau bicara Abel tiba-tiba muntah ke badan Dimas.
__ADS_1
Dimas menghela nafas panjang.
mau marah namun tidak bisa.
Akhirnya dia membawa Bela ke kamar mandi dan mandi bersama walaupun Bela sudah tidur sadar lagi.
Keesokan paginya Bela terbangun mendengar suaranya alarm dari handphone Dimas.
Bela mematikan nya dan merasa seseorang memeluk nya dari belakang karena dia susah bergerak.
"Tunggu-tunggu, apa ini?"
Bela tiba-tiba diam mencoba mengingat apa yang terjadi.
Dia mengingat minum di restoran hotel setelah itu dia tidak tau kelanjutannya bagaimana, namun dia sangat mengingat kalau dia menindih Dimas dan menggigit Dimas, dia juga mengingat samar-samar melihat Dimas mandi.
"Aaaaa!!!! Aku mimpi kan? Ini tidak nyata kan?"
Bela ingin menghilangkan rasa nya.
Dia melihat dia di kamar hotel, dia melihat ternyata dia tidak memakai pakaian.
Bela perlahan bangun, berusaha untuk pelan agar Dimas tidak bangun namun ternyata Dimas sudah bangun dari tadi.
Dimas menarik tangan nya yang sudah sangat pegal.
"Pak Dimas apa yang bapak lakukan kepada saya? Kenapa say tidak berpakaian seperti ini?"
"Kira-kira apa yang di lakukan oleh sepasang manusia di dalam kamar hotel dan tidak berpakaian?"
Bela langsung syok.
"Tidak mungkin! Bapak merebut keperawanan ku? Kenapa Bapak sangat jahat?" ucap Bela sambil menangis.
Dimas menghela nafas panjang dia turun dari tempat tidur, Bela melihat telinga Dimas yang luka karena dia.
"Berhenti menangis, saya tidak melakukan apapun kepada kamu, justru kamu yang melecehkan saya!"
"Hah? Tidak mungkin, Bapak jangan memutar balik fakta."
"Terserah mau percaya atau tidak."
Bela ketika melihat kuping dan badan Dimas dia langsung mengingat semua nya.
Dia berhenti menangis dan langsung menutup wajah nya dengan selimut karena malu.
"Bagaimana? Apa kamu sudah ingat?"
Bela ingat waktu di kamar mandi dia menawarkan diri untuk membantu Dimas melakukan sesuatu walaupun tidak memberikan keperawanannya.
Bahkan di dada Dimas ada beberapa bekas merah.
"Saya tidak menyangka kamu sungguh hebat."
Tiba-tiba Bela melompat dari tempat tidur menutup mulut Dimas.
"Aku mohon jangan katakan itu lagi pak, aku mabuk juga karena Bapak!"
Dimas diam. Bela langsung sadar kalau dia sangat tidak sopan menutup mulut Dimas.
__ADS_1
"Bukan kah itu sungguh pengalaman yang baik? Saya pikir itu tidak cukup buruk karena saya merasa pu!" lagi-lagi Bela menutup mulut Dimas.
"Pak saya mohon berhenti membahas tentang ini dan lupakan, saya akan melakukan apapun asal Bapak jangan membahas itu."