
Namun saat membuka jendela dia sangat kaget melihat Dimas dan Fahri ada di sekitar apartemen nya sedang lari pagi.
"Apa yang mereka lakukan di sana?" ucap Bela..Dimas melihat Bela yang berdiri di balkon. Namun tidak membuat ekspresi apapun dia lanjut lagi olahraga.
Bela memutuskan turun kebawah. "Kenapa kakak sangat jauh lari pagi?" tanya Bela.
"Di sini lebih baik, di sini juga sangat Bagus dan masih banyak pepohonan yang membuat badan segar," ucap Dimas.
Bela menghela nafas panjang. Dia tau sebenarnya alasan nya bukan itu.
Dimas lanjut olahraga lagi di lapangan yang ada di sana, Fahri duduk bersama Bela.
"Jangan heran kalau pak Dimas seperti itu, dia datang ke sini mau memantau kamu," ucap Fahri.
"Mantau aku?" tanya Bela heran.
"Bukan kah kemarin kamu pergi bersama teman kuliah kamu Nonton bersama? pak Dimas mungkin berfikir Karena hari libur bisa jadi dia datang ke sini lagi."
"Maksud kamu Kevin?" tanya Bela. Fahri mengangguk.
"Tapi aku benar-benar tidak ada hubungan apapun, kenapa harus di pantau seperti ini?"
"Aku tidak tau, kamu bisa tanyakan sama pak Dimas," ucap Fahri lanjut mengikuti Dimas.
Bela heran, namun dia harus kembali ke apartemen nya pekerjaan nya tadi belum selesai.
Vira juga sudah bangun. Dia langsung masak sarapan yang gampang masak.
"Tok!! Tok!! Tok!!" ketukan pintu. Vira membuka nya.
"Om Dimas, Om Fahri di sini?" tanya Vira.
Fahri tersenyum. Mereka di persilahkan masuk ke dalam.
Bela melihat Dimas yang masih memasang wajah datar.
"Mbak Bela sedang masak, om-om belum makan kan?" tanya Vira. Terpaksa Bela memasak porsi lebih banyak.
Setelah semua nya masak mereka sarapan bersama.
"Masakan kamu enak banget Bela," ucap Fahri. Bela tersenyum.
Bela membuat ikan ke piring Dimas namun Dimas malah menolak nya.
Bela terdiam karena di depan Fahri dan Vira dia memilih untuk diam dan melanjutkan makan.
Setelah selesai sarapan dan istirahat sejenak.. Mereka berdua berpamitan untuk pulang.
"Terimakasih yah sudah mau membiarkan kami sarapan di sini," ucap Fahri. Bela mengangguk sambil tersenyum.
Fahri pergi terlebih dahulu. "Kak.." Bela menahan tangan Dimas.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dimas dengan tatapan dingin nada bicara yang datar.
"Kakak tau yah aku pergi sama Kevin nonton bersama?" tanya Bela.
Dimas mengangguk. "Apa karena itu kakak diam saja?" tanya Bela. Dimas juga mengangguk.
"Aku dengan Kevin tidak ada hubungan apapun selain berteman saja, hanya dia teman ku di kampus."
"Saya tidak mengatakan kalau kalian ada hubungan," ucap Dimas.
"Terus apa yang buat kakak marah seperti ini?" tanya Bela.
"Kenapa setiap kali di ajak oleh teman kamu itu, kamu tidak bisa menolak. Sementara dengan saya kamu membuat seribu alasan."
"Tentang itu, aku hanya tidak ingin orang lain melihat aku dengan kakak, mereka pasti mengenali kita dan kalau dengan Kevin mereka tidak akan berkomentar apapun."
Dimas menghela nafas panjang. "Saya cemburu kepada teman kamu yang bisa bebas keluar bersama kamu, sementara saya pacar kamu tidak bisa," ucap Dimas.
Bela tersenyum dia mendekati Dimas.
"Aku minta maaf."
"Bukan kamu yang seharusnya minta maaf, tapi saya, saya yang sudah mengucapkan semua nya seperti ini," ucap Dimas dan pergi.
Bela menghela nafas panjang dia melihat Dimas pergi. Bela menutup pintu dan duduk di sofa bersama adik nya.
"Jadi orang Dewasa itu susah yah mbak, pasti ada saja yang jadi masalah," ucap Bela.
Bela menatap Vira. "Dari mana kamu tau tentang hal seperti itu?" tanya Bela.
Bela bingung harus jawab apa, tapi tidak mungkin dia berbohong.
"Iyah, mbak pacaran lagi sama om Dimas."
"Humm kemarin sangat membenci om Dimas, sekarang malah jatuh cinta lagi," ucap Vira.
Bela sangat malu di katain oleh adiknya, tapi tidak bisa di pungkiri kalau itu adalah fakta.
"Selamat siang pak, saya mau mengantar kan makanan untuk pak Irfan," ucap Bibik kepada penjaga sel.
"Pak Irfan sudah di pindahkan ke sel lain karena selalu membutuhkan keributan," ucap petugas.
"Kenapa bisa pak? seharusnya bilang dulu sama saya."
Petugas langsung mengantar Bibik kepada pak Irfan.
Bibik menghela nafas panjang melihat pak Irfan yang hampir setiap hari membuat masalah.
"Apa sulit nya sih Tuan menerima keadaan? Ini sudah terjadi dan tidak ada gunanya seperti ini." ucap Bibik.
Pak Irfan menatap Bibik dia tiba-tiba melempar Bekal yang di bawa oleh Bibik.
__ADS_1
"Jangan berani-berani nya kamu menasehati saya!"
Bibik memilih segera pergi dari sana.
Sudah lama dia tidak melihat Bu Sisi akhirnya dia memutuskan untuk ke sel Bu Sisi.
"Apa kabar Bu?" tanya Bibik.
"Bibik di sini? Apa Vira dan juga Bela di sini?" tanya Bu Sisi.
Bibik menggeleng kan kepala nya. "Bagus deh kalau begitu, jangan sampai mereka ke sini dan melihat keadaan orang tua nya," ucap Bu Sisi.
Bibik menghela nafas panjang.
Cukup banyak pertanyaan Bu sisi tentang anak-anak nya, Bibik menceritakan semua nya agar perasaan Bu Sisi tenang.
Namun Bu Sisi sama sekali tidak menanyakan keadaan suami nya. Bibik sangat paham kalau Bu Sisi sudah sangat membenci suami nya itu.
Setelah selesai dari sana Bibik ke apartemen Bela.
"Assalamualaikum Non," ucap Bibik.
"Walaikumsalam bik, masuk saja," ucap Bela yang ternyata sedang menyetrika pakaian dan langsung keluar menyambut Bibik.
"Tumben banget hari Minggu ke sini bik, ada apa?" tanya Bela.
"Ini non saya mau mengantar kan makanan."
"Oohh Bibik baru dari tempat Ayah?" tanya Bela. Bibik mengangguk.
"Oh iya Bibik juga mau pamit.."
"Mau kemana bik? Bik jangan berhenti bik, aku masih membutuhkan Bibik."
"Tidak non, saya hanya mau pamit pulang kampung selama satu Minggu saja."
"Kenapa bik? bagaimana dengan Ayah?" tanya Bela.
"Tidak perlu khawatir, sekarang tuan sudah di pindahkan."
"Kapan Bibik pulang?" tanya Bela.
"Secepat nya Non."
"Oh iya non, akhir-akhir ini hubungan non dengan tuan Dimas sudah sangat membaik sekali saya senang melihat nya."
"Ini juga berkat Bibik."
"Selama saya tidak di sini, saya percaya kalau tuan Dimas bisa menjaga non Bela dan juga non Vira."
"Iyah Bik. Oh iya bik Bibik harus tau juga kalau aku sudah balikan sama kak Dimas, hanya saja masih terasa canggung."
__ADS_1
"Itu adalah hal wajar non, nanti pasti terbiasa. Apapun itu yang menjadi keputusan non, Bibik selaku setuju asalkan Non Bela bahagia."
"Ya Allah bik, kenapa Bibik baik banget sih," ucap Bela sangat terharu dan langsung memeluk Bibik.