
Setelah membaca semua nya dia benar-benar syok dan kaget melihat tanggal pernikahan dan tunangan mereka sudah di tetapkan.
"Ini seriusan kak?" tanya Bela. Dimas mengangguk.
"Aku tidak bisa mengatakan apapun karena itu keputusan Nenek dan kakek."
"Kenapa tidak mengundang kita terlebih dahulu?" tanya Bela.
"Tadi aku sangat sibuk, aku tidak tau mereka akan membicarakan itu."
Bela terlihat sangat prustasi. "Yah mau bagaimana lagi kak, kita harus mengikuti saran orang tua, lagian mendapatkan restu nya selama ini sangat lah sulit aku tidak mau membuat nya kecewa."
"Kamu seriusan gak apa-apa? Aku akan mencoba berbicara dengan mereka?"
Bela menggeleng kan kepala nya. "Tidak perlu kak, aku siap kok."
"Yakin?" tanya Dimas. Bela mengangguk.
Dimas langsung memeluk Bela. "Akhirnya Bela, sebentar lagi kamu akan menjadi milik ku," batin Dimas.
Dia jauh lebih bahagia walaupun dia berpura-pura kurang bahagia.
"Kakak sudah siap juga kan?" tanya Bela.
"Aku sangat siap sayang."
"Kamu ingin mahar berapa?" tanya Dimas.
Bela menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau, mungkin akan di bicarakan di keluarga."
Dimas sangat bahagia namun dia harus tampak biasa aja agar nanti Bela tidak berfikir aneh-aneh tentang nya.
Di malam hari nya Bela baru saja jalan-jalan malam membawa Vira. Namun Nenek dan kakek meminta Bela datang ke rumah sebentar.
karena tidak terlalu jauh juga, Bela menginyakan.
Ternyata mereka mau membicarakan soal pertunangan mereka yang akan di laksanakan setelah dua hari tunangan Kayla dan juga Fahri.
Bela setuju dengan keputusan mereka, semua keluarga Dimas tampak bahagia. Bela juga jadi sangat bahagia karena dulu semua keluarga itu membenci dan menatap nya dengan tatapan benci.
Sekarang mereka tampak bahagia sekali. Bela memiliki keluarga yang menyukai nya untuk pertama kalinya.
Fahri dan Kayla duduk berdua di taman belakang. Mereka hanya diam tidak membicarakan apapun.
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu diam saja?" tanya Kayla kepada Fahri.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang istirahat saja," ucap Fahri.
Kayla merangkul lengan Fahri. "Aku sangat bahagia akhirnya kita sudah mau menikah," ucap Kayla.
__ADS_1
"Iyah aku juga bahagia kok," ucap Fahri.
Hari-hari sudah di lalui oleh mereka. Kini tiba di hari H pertunangan Fahri dan Kayla.
Hari sudah siang, jam dua siang acara sudah mau di mulai namun Fahri dan keluarga nya tak kunjung datang membuat Kayla kefikiran dia tidak berhenti menelpon Fahri.
Wajar saja Kayla khawatir karena akhir-akhir ini mereka tidak banyak berbicara, Kayla terlalu bahagia sehingga tidak terlalu memperdulikan itu.
Bela menemani Fahri di apartemen nya sambil menunggu keluarga nya.
"Bela, bagaimana kalau Keluarga ku tidak datang?" tanya Fahri.
"Tidak mungkin mereka tidak datang," ucap Bela.
Dan tiba-tiba telpon berbunyi mereka sudah menunggu di luar.
Fahri sangat senang akhirnya mereka langsung berangkat. Melihat Fahri datang tadi nya Kayla sangat takut dia sangat senang sekali.
Dia tidak bisa menutupi wajah bahagia nya sehingga air mata nya keluar.
Tidak beberapa lama acara berlangsung semua nya lancar.
Dinas dan Bela duduk bersama, Dimas sambil memangku Vira.
"Aku tidak sabar melihat mbak Bela nanti dandan cantik seperti itu." ucap Vira. Bela hanya bisa tersenyum saja.
Keesokan harinya... Setelah selesai tunangan Dimas dan Bela. Mereka ingin memberikan kabar kepada kedua orang tua Bela.
Bela datang bersama Dimas ke sel Ayah dan ibu nya. Bela sangat ingin kedua orang tua nya Hadir di hari pernikahan nya.
Awalnya Ayah nya tidak mau karena itu tidak mungkin, anak nya akan malu kalau orang tua Ayah nya adalah seorang pembunuh.
Namun Bela memohon agar ayah nya mau. Polisi juga memberikan kesempatan namun masih harus di dampingi oleh polisi.
Dimas juga menyakinkan pak Irfan. Melihat wajah Putri nya akhirnya Pak Irfan mau.
Satu hari sebelum pernikahan. Dimas mendatangi rumah Bela yang sudah beberapa hari tidak dia datangi dan mereka tidak bertemu sama sekali karena sama-sama sangat sibuk.
"Apa yang kakak lakukan di sini? Bagaimana kalau nenek dan kakek tau?" tanya Bela.
"Humm aku mau berbicara dengan kamu sebelum kita menjadi suami istri besok," ucap Dimas.
"Tapi kak."
"Tidak apa-apa, seperti ini saja tidak masalah," ucap Dimas karena Bela hanya mengintip di pintu saja.
"Ini adalah hari terakhir kita pacaran, dan besok kita sudah menikah. Kamu harus tau perasaan ku sekarang sangat gugup sekali."
Bela tersenyum. "Aku juga sangat gugup kak."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu terlalu memikirkan nya."
"Bagaimana tidak kak, Vira tidak berhenti membahas nya, di tambah lagi MUA dan teman-teman ku sudah di sini membuat ku semakin gugup."
Walaupun pernikahan mereka tertutup hanya Keluarga saja, Bela mengundang Yana dan Kevin serta teman dekat nya yang lain yang sudah di anggap keluarga, di tambah lagi pelayan dan juga orang-orang dari rumah utama sudah di rumah nya.
Dimas tersenyum. "Aku mencintai mu," ucap Dimas. Bela semakin malu.
"Sebaiknya kakak segera pulang, kakak juga harus menemani Fahri, aku yakin dia pasti sama-sama gugup."
"Oh iya, aku baru ingat, kalau begitu aku ke apartemen nya dulu," ucap Dimas.
Bela mengangguk. "Humm apakah aku boleh mencium mu sebelum pergi?"
Bela mengangguk, Dimas mencium pipi Bela. Dan ternyata Kevin belum tidur dia baru saja dari samping rumah dan melihat adegan itu.
Mereka berdua sama-sama kaget melihat Kevin. "Humm aku sangat ngantuk, aku tidak melihat apa-apa, aku tidur dulu permisi."
Dimas menghela nafas panjang. "Anak itu," ucap Dimas dengan kesal. Bela hanya bisa tertawa.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati yah."
Dimas melambaikan tangan nya.
Tidak beberapa lama dia sampai di apartemen Fahri. "Saya sudah menduga kau pasti belum tidur," ucap Dimas kepada Fahri.
"Syukur lah bapak di sini, saya sangat gugup pak."
"Berhenti panggil saya bapak, karena besok kamu sudah menjadi paman saya."
"Dimas," ucap Fahri sedikit kaku dan tidak nyaman tapi dia harus terbiasa.
Mereka membicarakan banyak hal, sampai pada akhirnya mereka berdua ketiduran di sofa sambil berpelukan.
Keesokan paginya nada dering dari handphone masing-masing berbunyi membuat mereka berdua kaget dan bangun.
Panggilan Vidio dari calon istri masing-masing. Ketika di jawab Kayla dan Bela tertawa melihat Dimas dan Fahri sama-sama memasang wajah yang sama.
Mereka tidak tau mereka tidur bersama.
"Kenapa kalian menelpon jam segini? Ini masih sangat pagi."
"Ayo bangun, ini adalah hari pernikahan kita, bagaimana kalian berdua masih santai-santai? Semua orang sudah sibuk."
"Sebentar lagi," ucap Dimas.
"Kamu mau menikah atau tidak Dimas?" tanya Kayla. Dimas langsung duduk dia menatap telpon Fahri.
"Sebaiknya Urus saja calon suami Tante," ucap Dimas dengan julit.
__ADS_1