
"Kalau bukan karena orang tua nya mungkin sudah lama aku memutuskan hubungan dengan nya."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Masuk!"
Ternyata supir yang masuk.
"Tuan ini ada Bekal untuk makan siang Tuan."
Dimas kaget karena bekal itu dari rumah.
"Ini siapa yang ngasih Pak?"
"Mbak Bela Tuan. Mbak Bela juga menitipkan ini untuk Bapak." sambil memberikan surat untuk Dimas.
"Terimakasih."
"Bagaimana bisa dia masak dalam keadaan sakit?" batin Dimas heran sambil membuka surat.
"Saya minta maaf Pak hanya bisa masak ini untuk makan siang Bapak."
Dimas langsung membuka nya.
Walaupun terlihat sangat sederhana namun Dimas tetap saja suka dan tidak bisa menolak nya akhirnya dia memakan masakan Bela sampai habis.
Dimas melihat jam sudah jam empat sore.
"Serli saya akan pulang lebih cepat."
Serli melihat Dimas bergegas pulang.
"Bu ini laporan yang ibu minta," ucap Staf kepada Serli.
"Letakkan di atas meja saya," suruh Serli.
"Aku tidak yakin pak Dimas balik cepat hanya karena Bela sakit, tapi kemana lagi pak Dimas kalau tidak pulang ke rumah," gumam Serli.
Dimas tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah.
"Bela apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas melihat Bela bersih-bersih.
Bela menoleh ke arah Dimas ternyata Cool fever masih menempel di dahinya.
"Bapak sudah pulang," tegur Bela langsung mendekati Dimas.
"Kenapa kamu melakukan hal ini kalau kamu masih sakit, sebaiknya kamu istirahat dan sembuh kan badan mu terlebih dahulu."
"Tapi Pak kalau tidak di bersihkan besok pekerjaan saya semakin banyak."
Dimas mendekati Bela memeriksa dahi Bela dengan telapak tangan nya.
"Badan kamu masih panas, kamu tinggal kan pekerjaan kamu dan istirahat. Semua orang akan berfikir saya menyiksa kamu," ucap Dimas sambil mengawas kan semua alat-alat dari tangan Bela.
"Hari ini kenapa Bapak sangat cepat pulang? saya belum masak apa-apa."
"Tidak perlu masak, kamu saya minta untuk istirahat."
__ADS_1
"Tidur lah," suruh Dimas.
"Saya akan tidur di sofa Pak."
"Saya suruh tidur di sini jangan di sofa!"
Bela melihat ekspresi Dimas membuat nya takut dan langsung menginyakan dan tidur di tempat tidur Dimas.
"Oh iya Pak saya lupa menyampaikan sesuatu, Bapak mendapatkan surat ini dari seorang perempuan," ucap Bela sambil membuka laci memberikan amplop kepada Dimas.
Dimas penasaran surat dari mana itu karena tidak ada alamat atau nama pengirim.
"Sebenarnya saya mau menyampaikan nya tadi malam tapi...," Bela tidak berani melanjutkan pembicaraannya.
"Soal tadi malam saya minta maaf, saya dalam keadaan mabuk."
Bela mengangguk.
"Seandainya aku memiliki hak untuk marah dan berontak aku akan melakukan hal itu, namun dari semenjak aku lahir aku sama tidak berhak untuk membela diri sendiri," batin Bela.
Dimas membuka surat itu dan ternyata surat dari panti asuhan.
"Panti asuhan akan di gusur? Kenapa?" ucap Bela karena ikut membaca.
Dimas menatap nya seketika Bela langsung berbaring.
"Saya akan pergi malam ini, kamu jaga diri baik-baik," ucap Dimas.
"Mau kemana Pak? Saya sendirian di rumah sangat takut," ucap Bela sambil menahan tangan Dimas.
Dimas tiba-tiba tidak bisa bergerak ketika Bela menahan tangan nya.
"Fahri akan pulang jam sembilan nanti kamu tidak akan sendirian."
Namun lagi-lagi Dimas mengingat rekaman Cctv yang sengaja dia lihat untuk memantau Bela.
Dia melihat Bela dan Fahri berduaan dan sang romantis.
Dimas menghela nafas panjang. "Saya harus pergi karena ini urusan yang sangat penting dan gawat."
"Saya ingin ikut pak, saya janji tidak akan merepotkan Bapak asal saya tidak tinggal di rumah."
Bela memasang wajah memohon.
Dimas menatap wajah Bela.
"Sejujurnya saya juga ingin bersama Bela membalas kebaikan nya sudah merawat saya, namun di sisi lain belum saatnya saya membawa dia ke sana."
"Saya janji Pak," Bela berusaha meyakinkan nya.
"Ya sudah kamu boleh ikut dengan satu syarat minum obat dan ganti pakaian kamu menjadi yang lebih tebal.
Bela sangat bersemangat, sebenarnya ini adalah kesempatan dia untuk keluar malam-malam melihat lampu-lampu di luar.
Dimas melihat Bela minum obat.
"Kamu tidak minum obat dari tadi?" tanya Dimas.
__ADS_1
Bela langsung terdiam karena obat itu sama sekali tidak berkurang.
"Sa-saya."
"Kamu ingat di saat saya sakit kamu memarahi saya setiap tidak minum obat, namun sekarang kamu yang tidak minum obat."
"Kamu sengaja untuk tidak minum obat agar sakit terus dan tidak bekerja melayani saya?"
Bela menunduk kan kepala nya.
"Kamu takut saya melakukan hal-hal yang aneh ketika kamu sehat?"
"Maaf kan saya pak."
"Cepat lah sembuh agar kamu bisa menjaga diri mu sendiri dan saya tidak akan melakukan hal itu lagi karena saya tidak berselera kepada perempuan seperti kamu."
Tidak beberapa lama akhirnya mereka berangkat tepat jam enam sore.
Dimas memerhatikan Bela yang sangat senang ketika mobil sudah meninggal kan halaman rumah itu.
Tidak ada percakapan sama sekali di dalam mobil karena Bela fokus melihat jalanan.
"Kalau kamu merasa pusing tidur lah." ucap Dimas.
Bela tidak menjawab nya dia menoleh ke arah Bela dan ternyata Bela sudah tidur.
Dimas berhenti untuk membenarkan tidur Bela.
Dimas merebahkan tempat duduk agar Bela dengan nyaman bisa tidur.
Namun Dimas melihat bibir Bela yang pecah-pecah karena sakit.
"Sial! bibir Bela terlihat sangat menarik walaupun sedang sakit," batin Dimas.
"Apa yang Bapak lakukan?" tanya Bela di saat menyadari Dimas dekat dengan nya.
Dimas langsung menghindar.
"Tidak ada saya hanya ingin membenarkan tempat duduk dan memeriksa suhu badan kamu."
Setelah itu perjalanan di lanjutkan. Satu jam setengah akhirnya sampai.
Dimas membawa mobil cukup lambat karena Bela sedang tidur.
Dimas sengaja meninggalkan Bela di dalam mobil.
Bela sadar mobil sudah berhenti dia kaget karena dia sendirian di dalam mobil.
Dia mencari Dimas keluar namun tidak ada. Dia heran karena berada di panti asuhan yang sangat asing bagi nya.
"Ini di mana? Kenapa pak Dimas tidak ada, apa pak Dimas membuang ku di sini?" Bela sudah sangat takut.
"Kamu selalu menuduh saya meninggalkan kamu. Itu tidak mungkin karena saya sudah membeli kamu mahal-mahal," ucap Dimas yang baru saja datang dari belakang Bela.
"Bapak dari mana? kenapa Bapak tidak membangun kan saya?"
Bela lagi-lagi sangat suka melihat wajah Bela yang ketakutan karena pemikiran nya sendiri.
__ADS_1
"Om Dimas..." ucap Vira datang bersama ketua yayasan.
"Loh Ibu." Bela mengingat perempuan yang datang bersama Vira.