Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 107


__ADS_3

"Tidak non, saya hanya mau pamit pulang kampung selama satu Minggu saja."


"Kenapa bik? bagaimana dengan Ayah?" tanya Bela.


"Tidak perlu khawatir, sekarang tuan sudah di pindahkan."


"Kapan Bibik pulang?" tanya Bela.


"Secepat nya Non."


"Oh iya non, akhir-akhir ini hubungan non dengan tuan Dimas sudah sangat membaik sekali saya senang melihat nya."


"Ini juga berkat Bibik."


"Selama saya tidak di sini, saya percaya kalau tuan Dimas bisa menjaga non Bela dan juga non Vira."


"Iyah Bik. Oh iya bik Bibik harus tau juga kalau aku sudah balikan sama kak Dimas, hanya saja masih terasa canggung."


"Itu adalah hal wajar non, nanti pasti terbiasa. Apapun itu yang menjadi keputusan non, Bibik selaku setuju asalkan Non Bela bahagia."


"Ya Allah bik, kenapa Bibik baik banget sih," ucap Bela sangat terharu dan langsung memeluk Bibik.


Di malam hari nya Bela sudah di sebuah Cafe yang Sepi menunggu Dimas.


"Kemana sih kak Dimas? kenapa belum juga datang," batin Bela.


Dia melihat ke arah luar namun tidak ada tanda-tanda Dimas datang. Bela menelpon lagi. Namun ternyata Dimas sudah datang.


Dimas masuk ke dalam Cafe itu.


"Seperti nya kamu tidak sabar menunggu saya, apa kamu sudah sangat merindukan saya?" tanya Dimas.


Bela menggeleng kan kepala nya. "Aku merindukan Om Dimas," ucap Vira langsung.


Dimas tersenyum dia duduk di samping Vira dan menatap Bela.


"Ada apa kamu meminta saya ke sini?" tanya Dimas.


Bela menghela nafas panjang.


"Kau sudah minta maaf tentang hal itu, tapi kenapa Kakak masih bad mood seperti ini, gak enak di lihat Vira," ucap Bela.


Dimas menoleh ke arah Vira.


"Jangan marah-marah sama mbak Bela Om," ucap Vira.


"Om tidak marah, hanya saja Om kesal karena mbak Bela pergi dengan Kevin tidak ijin sama Om," ucap Dimas.


"Tapi mbak Bela juga tidak marah kepada Om kan?" ucap Vira. "Om tidak melakukan kesalahan, om tidak ada berhubungan dengan wanita di luar sana."


"Tapi kan banyak guru-guru yang suka sama om, dan titip salam juga," ucap Vira.


Bela langsung menatap tajam ke arah Dimas.

__ADS_1


"Bukan seperti itu," ucap Dimas.


"Lalu seperti apa?" tanya Bela langsung.


"Mereka hanya titip salam karena ingin kenal satu sama lain, di tambah lagi mereka tau nya saya adalah om nya Vira. Saya juga tidak merespon nya," ucap Dimas.


"Kata siapa om tidak merespon nya? Om bahkan traktir guru ku minuman," ucap Vira.


Dimas menghela nafas panjang karena Vira terlalu jujur.


"Pantesan saja kakak sangat betah ke sekolah Vira, ternyata ada yang di incar," ucap Bela. Dimas menggeleng kan kepala nya.


Mereka berdua jadi ribut satu sama lain, Vira hanya bisa senyum-senyum sendiri melihat mereka bertengkar.


"Sekalian saja bertengkar dari pada saling menyalah kan!" batin Vira.


"Ah sudahlah, ribut sama perempuan tidak ada habisnya, saya lapar." ucap Dimas.


"Pesan saja sendiri," ucap Bela.


Dimas menghela nafas panjang melihat Bela, dia memesan makanan untuk mereka bertiga.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, mereka berjalan-jalan sebentar di daerah sana.


Vira bejalan terlebih dahulu sementara Bela dan Dimas di belakang nya.


"Kakak masih marah?" tanya Bela mendekati Dimas.


"Jangan sering-sering marah, karena nanti cepat tua loh," ucap Bela.


Dimas tidak menjaga nya namun dia membalas genggaman tangan Bela.


Mereka bergandengan tangan sambil mengikuti Vira berkeliling melihat pemandangan malam.


Namun saat mau nyebrang ke pinggir jalan tiba-tiba ada motor yang hendak menyerempet Vira namun dengan cepat Dimas langsung menarik Vira dan mereka berdua terjatuh ke aspal.


Dimas terluka di bagian tangan sementara Vira hanya kaget.


Bela melihat motor besar itu seperti nya sengaja ingin melukai Vira.


Orang-orang mulai berdatangan untuk membantu Dimas.


Namun luka Dimas tidak terlalu parah, mereka langsung kembali ke apartemen Bela.


"Ssttt!!! Sakit.. pelan." ucap Dimas. Bela membersihkan nya sudah sangat pelan sekali. Vira datang membawa air dalam mangkok dia juga membawa minum untuk Dimas.


"Makasih yah sudah menyelamatkan Vira, mungkin kalau tidak ada kakak Vira sudah terluka parah," ucap Bela.


"Anggap saja ini musibah, lain kali Vira dan kamu harus hati-hati yah," ucap Dimas. Bela mengangguk.


Vira berpamitan untuk tidur karena besok sekolah.


Luka Dimas sudah selesai di obati dan juga sudah di balut. Namun tiba-tiba Bela Mencium bagian balutan nya.

__ADS_1


Dimas tersenyum. "Semoga cepat sembuh," ucap Bela.


"Huff ini seperti keajaiban sekali, sakit nya langsung hilang," ucap Dimas.


"Lebay banget sih," ucap Bela. Dimas tertawa kecil.


Dimas mengelus kepala Bela menatap nya cukup dalam.


"Apa kamu tidak perlu mengunjungi pak Irfan dan Bu Sisi?" tanya Dimas. Bela menggeleng kan kepala nya.


"Kenapa? Mereka pasti merindukan kamu."


Bela menggeleng kan kepala nya lagi.


"Aku tidak ingin membahas itu," ucap Bela.


Dimas mengelus pipi Bela, mata nya masih menatap dalam ke mata Bela.


"Kalau bukan karena orang tua kita, tidak mungkin kita ada di dunia ini, saya ingin kamu hidup dengan tenang dan juga damai."


"Justru karena itu, aku lebih memilih untuk tidak menemui ayah dan ibu, sebaiknya aku seperti ini saja dengan Vira."


Dimas tersenyum. "Kalau kakak berpura-pura tidak membenci orang tua ku sebaiknya jangan.. Karena aku tau kakak pasti masih membenci mereka."


Dimas membawa Bela ke pelukan nya.


"Saya tidak tau jalan apa yang Tuhan rencanakan untuk kita berdua, tapi mungkin dengan cara seperti ini kita bisa bertemu."


"Apakah kakak sangat mencintai aku?" tanya Bela.


"Tentu, saya akan melakukan apapun demi kamu dan Vira."


"Apa karena kami sangat menyedihkan?" tanya Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Sekarang kamu memiliki lebih banyak uang dari pada saya, kamu juga memiliki warisan. Siapa bilang kamu menyedihkan?" tanya Dimas.


"Walaupun aku memiliki semua nya, aku tidak pernah tenang karena kemana pun aku selalu di katakan anak pembunuh."


"Ssttt!!! Sudah jangan di katakan lagi, yang penting kamu ingat adalah saya akan selalu ada untuk kamu dan Vira."


"Walaupun kamu sudah membenci saya dan tidak memerlukan saya lagi, saya akan tetap di sini mencintai kamu."


Bela sangat terharu dia memeluk Dimas.


Dimas memutuskan untuk kembali ke rumah nya agar Bela juga bisa istirahat dengan tenang.


Dimas masuk ke dalam mobil nya dan melajukan mobil nya pulang ke rumah nya.


Dia perjalanan dia mengingat percakapan nya dengan Bela tadi.


"Sebenarnya Papah juga salah karena sudah berselingkuh dengan Bu sisi," ucap Dimas, Dimas sangat bingung bagaimana memberikan kesimpulan.

__ADS_1


__ADS_2