
"Kenapa terasa sangat panas? AC nya sudah paling dingin," ucap nya.
Fahri melihat Kayla tidur. "Enggak-enggak, kau harus sadar Fahri,"
Semakin tidak bisa menahan diri, dia naik ke kasur dan mendekati Kayla.
"Mbak Kayla, ini semua semua perbuatan mbak kan?" tanya Fahri. Kayla terbangun dia berbalik dan merasakan nafas Fahri dan wajah Fahri sudah sangat merah.
"Badan ku sangat panas," ucap Fahri. Kayla tersenyum.
"Aku sangat kesal kepada mu, aku tau kamu asli nya mau kan?" tanya Kayla.
Fahri menggeleng kan kepala nya. "Mbak..." Fahri benar-benar tidak bisa menahan nya.
Kayla mau mencium Fahri, namun Fahri langsung ke kamar mandi.
Kayla menghela nafas panjang.
Keesokan harinya di rumah Serli. Dia terbangun karena suara alarm Handphone nya.
Dia melihat Roi tidur di samping nya. "Kenapa dia bisa tidur si sini?" Serli mengingat apa yang terjadi tadi malam.
"Kamu sudah bangun?" tanya Roi. Serli langsung duduk dan beranjak dari sofa.
"Huff badan ku sangat sakti sepanjang malam tidak bisa tidur dengan bebas."
"Aku minta maaf," ucap Serli. Roi berdiri dia menatap Serli.
"Sudah pagi, aku harus pulang," ucap Roi langsung pergi dari sana Tampa menunggu jawaban dari Serli.
Setelah Roi pergi Serli masuk ke dalam kamar nya. Dia harus siap-siap ke kantor.
Dimas di kamar Bela baru bangun. Dia baru sadar sepanjang malam dia tidur di lantai kamar.
Dia mencari keberadaan Bela namun ternyata Bela sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan di dapur.
"Selamat pagi Vira..." sapa Dimas melihat Vira yang sedang main.
"Pagi Om."
Dia menghampiri Bela. "Kenapa kamu tidak membangun kan ku? Kamu juga membiarkan aku tidur di lantai."
Bela menatap Dimas. "Jangan banyak protes, siapa suruh tadi malam mabuk!"
Dimas menghela nafas panjang. "Tentang itu aku tidak bisa menahan diri, lagian aku tidak membuat keributan."
"Iyah betul tidak membuat keributan, tapi menjadi masalah bagi ku, karena aku harus membopong badan besar kakak sampai ke sini!"
Dimas tersenyum dia mendekati Bela dan memeluk nya dari belakang.
"Maafin aku sayang," ucap Dimas.
__ADS_1
Bela menatap Dimas dengan tatapan tajam.
"Sudahlah tidak perlu di bahas lagi, sebaiknya kakak sekarang bantu bawa ini ke meja makan."
Sementara Serli baru saja siap-siap dia membuka Handphone nya. Dia sangat kaget kenapa tiba-tiba sangat ramai.
Dia menghubungi Dimas. "Halo pak?"
"Halo, ada apa kamu menelpon saya pagi-pagi?"
"Sekarang Bapak di mana?" tanya Serli.
"Di rumah Bela, saya tidur sini," ucap Dimas.
"Saya Akan ke sana sekarang pak," serli terburu-buru dia langsung berangkat ke rumah Bela.
"Ada apa Kak?" tanya Bela. "Gak tau, serli kata nya mau ke sini."
Tidak beberapa lama akhirnya Serli sampai. "Selamat pagi pak, apa Bapak sudah melihat berita?" tanya Serli.
"Berita apa? saya belum membuka laptop saya."
Serli menunjuk kan layar handphone nya. Dimas sangat kaget foto nya dengan Bela sedang berciuman tersebar di mana-mana."
Semua orang berkomentar negatif terhadap Bela dan juga diri nya, namun mereka semua memojokkan Bela.
"Kamu jangan khawatir," ucap Dimas menguatkan Bela tampak kaget.
"Apa yang harus kita lakukan Pak?" tanya Serli. "Kamu minta Roi mencari tau siapa yang mengambil foto ini."
Serli mengangguk. "Sayang.. kamu tidak perlu memikirkan nya, kamu fokus saja dengan kuliah kamu, tidak perlu perduli kan apa kata orang lain."
"Ini semua karena kakak! Seharusnya kakak tidak mabuk," Ucap Bela mendorong Dimas.
"Aku minta maaf, aku minta maaf," ucap Dimas menenangkan Bela.
"Ayo sarapan dulu, setelah itu kamu ke kampus, aku akan mengurus semua nya."
Bela siap-siap ke kampus.
Sesampainya di kampus, semua mata melihat nya dengan tatapan aneh.
"Dasar anak pembunuh yang tidak tau diri, bagaimana bisa dia menggoda pak Dimas sekarang setelah orang tua nya membunuh orang tua pak Dimas."
"Iyah benar banget, aku yakin dia mendekati pak Dimas pasti karena ingin pak Dimas membebaskan orang tua nya dari penjara."
"Atau mungkin, dia juga mau membalas dendam kepada pak Dimas."
Semua kata-kata jahat keluar dari mulut mereka."
"Apa yang terjadi?" tanya Yana dan Kevin karena mereka semua mengatai-ngatai Bela.
__ADS_1
"Bela, apa yang terjadi?" tanya Yana.
Mereka membawa Bela masuk ke dalam kelas.
"Apa yang sedang terjadi? Kenapa mereka semua seperti itu?"
Bela meminta Mereka membuka berita. "Astaga Bela, apa yang kamu lakukan?" tanya Yana.
"Aku tau kalau kamu ingin mengikuti aku yang bebas berpacaran, tapi tidak seperti ini juga caranya," ucap Yana.
"Sudah-sudah jangan mempersulit Bela, ini semua tidak keinginan Bela," ucap Kevin.
"Aku hanya bercanda," ucap Yana.
"Aku tidak tau harus apa sekarang, aku sangat pusing sekali," ucap Bela.
"Tidak apa-apa, yakin lah kalau pak Dimas bisa mengatasi ini."
"Bela kamu tidak boleh memikirkan apa yang mereka katakan, terserah mereka mau mengatakan apapun itu," ucap Kevin.
Kevin berusaha menenangkan Bela.
"Humm satu kelas sama anak pembunuh yang tidak tau diri sangat tidak nyaman, kami sangat takut menjadi korban selanjutnya."
Sindir mereka yang satu kelas dengan Bela.
Akhirnya Dosen memanggil Bela.
Sementara Dimas bekerja seperti biasa, dia memiliki janji dengan kumpulan klien nya di gedung paling besar kota itu.
"Selamat siang pak Dimas, silahkan duduk," Dimas duduk di antara para klien nya yang sudah lama menunggu.
"Kami ke sini bukan hanya mau membahas pekerjaan, melainkan kami juga ingin tau berita yang beredar."
"Ini hanya salah paham pak."
"Salah paham? jadi bapak benar-benar tidak memiliki hubungan dengan anak pak Irfan tersebut? Apa itu hanya editan Saja?" tanya mereka.
"Bukan seperti itu," ucap Dimas.
"Bapak tidak perlu berbohong kepada kami, sudah banyak orang yang melihat Bapak beberapa kali bersama anak pak Irfan."
"Sangat banyak perempuan yang setara dengan bapak di luar sana, kenapa harus anak pak Irfan yang sudah jelas anak dari pembunuh kedua orang tua bapak?"
"Ini sangat berpengaruh buruk untuk kehidupan Bapak, kami juga harus memikirkan bagaimana kedepannya kerja sama kita."
"Saya bisa mengurus semua nya Tampa mempengaruhi kerja sama kita."
"Untuk sementara ini, sebelum kasus belum ada titik terang nya, sebaik nya kita berhenti sampai di sini."
"Tidak bisa seperti ini pak, saya yang akan di rugi kan kalau seperti," ucap Dimas.
__ADS_1
"Kami minta maaf pak, kami tidak ingin bekerjasama dengan pria yang tidak memiliki pendirian dan tidak bisa menjaga harga diri."