Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 187


__ADS_3

Dimas dan Kayla sangat tidak tega melihat Bela harus tertekan seperti itu, baru beberapa hari Bela merasa bahagia, tapi dia sekarang sudah harus bersedih lagi sekarang.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai makan, masakan Bela habis Tampa tersisa sama sekali. Bela sangat senang.


"makanan yang kamu masak sangat enak," ucap Nenek kepada Bela.


Bela sangat senang mendapatkan pujian itu, dia tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.


"Kayla, kamu sudah mau menikah dengan Fahri, kamu juga harus belajar masak, jangan hanya bisa berhias diri saja," ucap Kakek.


"Iyah-iyah Pah, aku juga lagi belajar," ucap Kayla.


Hari semakin gelap, Roi sudah menunggu Serli dari tadi di depan perusahaan.


"Bu Serli... Di luar sudah di tungguin sama pak Roi, dia sudah lama menunggu di bawah, Kasian sekali, apa tidak di suruh masuk saja?" tanya Staf.


"Biarkan saja dia menunggu di sana, aku sebentar lagi selesai."


"Mbak serli, ayo kita pergi bersama ke rumah pak Dimas x ucap Fahri datang ke ruangan Serli.


Serli menginyakan, dia langsung beranjak dari tempat duduk nya menutup Laptopnya dan mengumpulkan semua barang-barang nya.


"Akhirnya selesai juga," ucap Roi melihat Serli datang. Namun dia datang bersama Fahri.


"Ayo masuk," ucap Roi membuka pintu mobil untuk Serli. "Oh iya, Fahri boleh ikut kan? dia mau ke rumah pak Dimas juga."


Roi menghela nafas panjang melihat Fahri. "Dia bisa mengendarai mobil nya sendiri."


"Kalau dia naik mobil sendiri, aku akan ikut dengan dia."


Roi menatap kesal kepada Fahri. "Baiklah dia boleh ikut, tapi dia yang bawa mobil."


Fahri sangat malu jika datang sendiri menemui calon mertua nya itu.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai. "Fahri... kamu sudah datang?" ucap Nenek dan kakek. Mereka menyalim tangan Kakek dan nenek.


Kedatangan mereka membuat suasana jadi tidak tegang.. Bela bisa masuk ke dapur dan istirahat di sana.


"Non Bela mau minum sesuatu agar lebih tenang?" tanya Bibik.


"Boleh bik, aku ingin minum yang dingin-dingin agar lebih rileks."


Bibik membuat kan nya untuk Bela.


"Aku tidak salah dengar kan bik,. kalau Nenek dan kakek memuji masakan ku dan mereka menghabiskan nya?" ucap Bela.


"Enggak non, apa Non tidak melihat mereka makan sangat lahap sekali."


"Percaya lah Non,. mereka aslinya pasti sangat baik, hanya saja karena permasalahan sebelumnya membuat semua nya seperti ini Non."

__ADS_1


Bela tersenyum. "Semoga saja ada kesempatan untuk ku dan kak Dimas bik."


Sudah malam Bela dan Vira harus segera pulang karena Vira besok harus sekolah.


"Kakek, kami pulang dulu yah," ucap Bela.


"Kalian pulang naik apa? Sebaiknya Dimas antar kan mereka pulang," ucap Nenek.


"tidak apa-apa nek, kami bisa pulang sendiri."


Namun Kakek dan nenek memaksa Dimas mengantarkan mereka pulang.


Setelah beberapa lama akhirnya mereka Bela sampai di rumah nya.


"Malam Ini aku akan tidur di rumah, kamu dengan Vira gak apa-apa kan kalau berdua saja?" tanya Dimas.


"Kami berdua baik-baik saja kak, justru kakak yang pasti keberatan."


Dimas tersenyum, dia mengangguk.


"Malam ini pasti sangat tidak menyenangkan karena tidak bersama kamu dan Vira."


Bela memeluk Dimas. "Sampai jumpa besok kak."


"Oh iya, apa kamu tau tujuan nenek dan Kakek ke sini untuk membicarakan hubungan kita dan memastikan keputusan kita sudah pasti atau Belum."


"Maksudnya Kak?"


Bela sangat senang mendengar nya. "Ini tidak bercanda kan kak?" tanya Bela. Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Apa kamu tidak sadar? Mereka sudah mulai mau berbicara kepada kamu, mereka juga sudah perhatian kepada Vira melihat itu saja sudah membuat aku senang," ucap Dimas.


"Apa itu artinya kita memiliki peluang?"


Dimas mengangguk. Mereka berpelukan sangat senang sekali.


"Aku sangat senang sekali kak, aku tidak sabar sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kakak."


Dimas mencium bibir Bela. "Kenapa kakak melakukan nya?" tanya Bela kaget karena masih ada Vira.


"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu yah, kamu tutup pintu dengan rapat."


Dimas segera meninggalkan Bela dan Vira.


Sementara Roi dan Serli Ijin pulang setelah Dimas kembali.


Mereka pulang bersama dengan mobil Roi.


"Aku mau kembali ke rumah ku, aku tidak mau ke markas kamu yang sangat sepi itu," ucap Serli.

__ADS_1


"Iyah, kamu seperti nya sangat takut sekali," ucap Roi.


"Awas saja kamu macem-macem!"


Roi tersenyum, dia mengelus tangan Serli dan menggenggam nya sambil fokus menyetir.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah Serli.


"Besok aku mau ngajakin kamu dinner, itung-itung merayakan hari kemenangan ku, dan aku akan mentraktir kamu dengan uang hadiah yang aku dapat."


"Kamu serius?" tanya Serli. Roi mengangguk.


"Kamu adalah perempuan yang pertama kali aku ajak merayakan hari kemenangan ku, dan juga aku ajak makan dengan uang hadiah ku, karena selama ini uang yang aku dapat hanya aku kirim ke orang tua ku saja."


Serli mendengar itu sangat merasa beruntung. "Oke baiklah kalau begitu." ucap Serli.


Dia pun masuk ke dalam. Roi pulang dengan hati yang berbunga-bunga, dia sangat senang dan bahagia sekali.


Fahri masih asik berbincang-bincang dengan Nenek dan Kakek.


"Kakek, ayo waktunya istirahat, ini sudah larut malam..Aku juga sudah menyiapkan tempat tidur untuk kalian."


"Sebentar lagi, kami masih mau bercerita di sini."


"Masih ada hari esok mah, ayo istirahat."


"Iyah nek, bagaimana kalau tiba-tiba sakit karena kurang istirahat?" ucap Dimas.


"Ya sudah kalau begitu."


Dimas mengantarkan mereka ke kamar.


"Apa kamu kembali ke apartemen Malam ini?" tanya Kayla. Fahri menggeleng kan kepala nya.


"Di mana kamu, aku akan di situ," ucap Fahri. Kayla tersenyum malu.


"Tapi untuk malam ini kita tidak bisa tidur bersama," ucap Fahri.


Mereka pun masuk ke kamar masing-masing.


Di dalam tahanan pak Irfan tiba-tiba meminta polisi mengabari Bibik untuk datang.


Bibik panik kenapa dia di suruh ke sana, setelah sampai di tahanan ternyata pak Irfan tidak apa-apa, dia hanya kelaparan.


Pak Irfan tidak mau Makan nasi tahanan.. Melihat itu Bibik sangat Sedih dan merasa iba.


"Bik, apa boleh Besok Bela yang masak untuk saya? saya sangat merindukan masakan nya."


"Boleh Tuan, tapi kalau non Bela tidak kuliah yah. Saya tidak bisa janji."

__ADS_1


"Saya sangat merasa bersalah kepada anak saya bik, kenapa dia yang menderita atas perbuatan saya?"


"Tuan jangan berfikir seperti itu, sekarang Tuan harus memikirkan kesehatan Tuan."


__ADS_2