
"Itu hanya masalah masa lalu Tuan, hubungan Tuan dengan non Bela tidak ada sangkut pautnya, Non Bela hanya mencintai Tuan."
Dimas menatap Bibik.
"Apa Bibik tidak membenci saya?" tanya Dimas.
Bibik menggeleng kan kepala nya.
"Tidak Tuan, justru saya sangat berterimakasih kepada Tuan, karena Tuan sudah membongkar semua kebusukan pak Irfan dan menyelamatkan Non Bela dan juga non Vira."
"Apa menurut Bibik saya bisa kembali bersama Bela?"
Bibik mengangguk.
"Tentu Tuan, kalian sangat cocok dan saya juga tau sebenarnya Non Bela belum bisa move-on, hanya saja Non Bela tidak ingin mendengar anggapan orang lain yang buruk tentang nya dan juga keluarga nya itu sebab nya dia memilih untuk seperti ini." ucap Bibik.
Dimas akhirnya mau untuk tidur di apartemen Bela. Keesokan harinya Vira sangat senang Dimas di sana, dan Dimas mengantarkan Vira berangkat ke sekolah.
Bela melihat Vira kembali bahagia membuat nya juga bahagia.
"Non hari ini tidak ke kampus?" tanya Bibik.
Bela menoleh ke arah Bibik sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak bik."
"Apa Non tidak mau mengantar kan makanan untuk Tuan Irfan?" tanya Bibik.
Bela menggeleng kan kepala nya.
"Ayah akan marah kalau melihat aku datang," ucap Bela.
"Apa Non Bela marah kepada Tuan Irfan?" tanya Bibik.
Bela terdiam, dia tidak bisa menjawab nya.
"Saya tau pasti ada rasa kecewa, marah dan juga perasaan lain nya. Tapi non Bela adalah anak yang kuat, demi Vira non harus kuat menghadapi keadaan sekarang."
Bela mengangguk dia memeluk Bibik.
"Terimakasih banyak Bik, beberapa bulan ini Bibik selalu ada untuk ku, mungkin kalau bukan karena nasehat Bibik aku tidak tau harus apa."
Bibik mengelus punggung Bela.
"Non Bela tidak perlu perdulikan omongan orang lain, mereka tidak tau apa-apa tentang kehidupan Non Bela. Jangan menjadi mereka yang berbicara sembarangan membuat Non tidak ingin bersosialisasi dan juga bangkit."
"Tapi Bik.."
__ADS_1
"Cepat atau lambat perusahaan Membutuhkan non Bela. Kita tidak bisa mempercayai orang lain mengurus perusahaan itu."
"Aku belum ada keinginan untuk meneruskan perusahaan itu."
"Nonn perusahaan itu sekarang sudah jatuh ke tangan non Bela. Demi masa depan Non Bela dan juga Non Vira."
Bela diam. "Non tidak perlu terburu-buru, belajar sedikit demi sedikit saja."
"Selain itu Non harus membuktikan kepada orang lain yang sudah menghina dan juga mengatakan hal buruk kalau Non bisa lebih sukses dari yang mereka lihat."
Bela mengangguk. "Iyah Bik aku akan memikirkan nya, untuk sekarang aku harus menyelesaikan kuliah ku dengan baik dan juga hubungan ku dengan Pak Dimas."
Bibik tersenyum. "Jangan terlalu keras memikirkan semua nya. Perlahan saja."
"Iyah Bik. Terimakasih."
"Bibik mau masak dulu, sebentar lagi waktu nya makan siang, Tuan akan sangat marah kalau makan siang nya telat di antar."
"Bik, aku bantuin yah?"
Bibik mengangguk sambil tersenyum.
Mereka masak di dapur. Bela menentukan menu apa yang harus di masak.
Bibik sampai sebelum jam makan siang di sel tempat pak Irfan di tahan.
Bibik melihat pak Irfan yang terlihat sangat tertekan di dalam sana.
Pak Irfan makan di tunggu oleh Bibik.
"Percuma saya memiliki uang banyak kalau tidak bisa menebus saya dari dalam sini!" ucap pak Irfan.
Bibik hanya diam tidak berani menjawab nya.
Pak Irfan makan masakan yang terasa berbeda dari biasanya.
"Siapa yang memasak ini?"
"Kenapa Pak? apa kurang enak?" tanya Bibik.
Pak Irfan tidak menjawab, dia makan makanan itu sampai habis.
Setelah selesai dari sana Bibik langsung keluar, dia bernafas lega karena selama di dalam dia sangat takut sekali walaupun ada polisi yang mengawasi mereka namun tetap saja dia takut kepada pak Irfan.
Bela tidur siang di kamar nya, seharian dia menghabiskan waktu nya di kamar karena badan nya kurang enak.
Tiba-tiba ada notifikasi masuk ke handphone nya.
__ADS_1
"Saya sudah menjemput Vira dari sekolah nya, saya membawa dia ke kantor saya," pesan dari Dimas.
Bela tidak membalas nya hanya membaca nya saja.
"Aku harus percaya kalau pak Dimas lebih baik menjaga Vira dari pada aku."
Dimas dan Vira sedang makan siang di salah satu restoran. Dimas juga sedang menunggu Kayla.
Tidak beberapa lama Kayla datang dan melihat Vira.
"Kenapa anak ini bisa bersama kamu?" tanya Kayla.
Begitu melihat Kayla, Vira langsung takut. Wajah Kayla yang terlihat sangat galak membuat Vira takut.
"Tidak perlu menanyakan hal itu, ayo makan."
Tidak beberapa lama Fahri datang.
"Kenapa kalian bisa datang bersama?" tanya Dimas.
"Aku meminta nya untuk datang. Anggap saja ini sebagai tanda terimakasih sudah mengantarkan aku ke kantor pengadilan kemarin."
"Oohhhh," ucap Dimas. Dia melihat Fahri akhir-akhir cukup dekat dengan Tante nya itu.
"Ayo makan Vira, sini Om suapin," ucap Fahri kepada Vira.
"Tidak perlu, kamu makan lah dia sudah bisa makan sendiri," ucap Dimas.
"Tapi aku mau di suapin sama om ganteng," ucap Vira.
Fahri tersenyum dia langsung menyuapi Vira. Dimas cemburu melihat Vira yang sangat suka kepada Fahri dari dulu sampai sekarang.
"Bisa-bisa nya anak perempuan seperti itu di perebutkan oleh pria tampan, apa aku sudah terlalu tua sehingga tidak ada yang mau?" ucap Kayla dalam hati.
"Ah sudahlah tidak ada gunanya juga aku iri melihat anak kecil," ucap Kayla.
Setelah selesai makan siang Vira di bawah oleh Dimas ke pertemuan nya.
Dia sudah menawarkan kepada Vira agar pulang ke rumah terlebih dahulu namun Vira tidak mau dia ingin ikut karena takut kalau Dimas tidak akan datang lagi menemui nya.
Sampai malam hari Vira masih ikut bahkan ikut duduk bersama klien-klien nya.
Banyak orang yang tidak tau kalau Vira adalah anak pak Irfan itu sebabnya tidak ada yang banyak bicara, mereka berfikir kalau Vira adalah keponakan nya Dimas.
Bela terbangun karena merasa dingin sekali, dia membuka mata nya namun di luar sudah sangat gelap.
Bela turun dari tempat tidur namun masih kesakitan karena luka di kaki nya infeksi dan badan nya terasa berat, di tambah lagi kepala nya sangat pusing sekali.
__ADS_1
"Vira... Vira..." panggil Bela mencari Vira ke kamar nya namun ternyata Vira belum pulang. Bela sangat khawatir dia langsung menghubungi Dimas.
Dimas baru saja selesai bekerja dia melihat Vira ketiduran di sofa ruangan nya. Dia baru saja mau membawa Vira pulang namun handphone nya berdering dari Bela.