
"Serli saya berikan libur hari ini, jadi dia bisa pergi sama kamu."
"Bapak sungguh baik, terimakasih."
"Ck,,, setelah seperti ini kamu baru berbicara sangat manis kepada saya."
Bela menghela nafas panjang.
"Kalau begitu Bapak berangkat lah ke kantor dengan hati-hati." ucap Bela.
"Ambil lah kartu ini, beli apapun yang kamu mau seperti baju, makeup atau keperluan lain nya."
"Tapi pak."
"Kalau kamu tidak membeli nya saya akan memberikan kamu hukuman!"
Bela bingung. "Bukan nya Bapak senang seharusnya kalau saya tidak menghabiskan uang Bapak?" tanya Bela.
"Saya tidak senang sama sekali karena saya ingin kamu menghabiskan uang saya."
"Kalau begitu saya berangkat kerja dulu," ucap Dimas.
Bela mengangguk.
Setelah Dimas pergi Bela masuk di dalam.
lagi-lagi semua orang melihat ke arah Bela yang kebingungan kenapa mereka semua menatap nya dengan tatapan intimidasi.
"Ada apa sih dengan kalian? Kenapa kalian menatap ku seperti itu sih?" tanya Bela.
"Enggak.. Gak ada kok, gak ada yang aneh kok." ucap mereka langsung kembali lagi bekerja.
Bela menghela nafas panjang.
"Aneh banget sih dengan mereka. Perasaan aku tidak melakukan kesalahan deh," batin Bela kebingungan sendiri.
Setelah beberapa lama akhirnya Dimas sampai di kantor.
Sampai di kantor dia tidak langsung bekerja melainkan menghubungi Serli terlebih dahulu.
"selamat pagi pak, apa ada yang bisa saya bantu? Apa perlu saya ingatkan kalau hari ini adalah hari cuti saya."
"Saya tau, saya tidak membahas itu, saya hanya ingin tau apa kamu sudah menjemput Bela?" tanya Dimas.
"Saya baru saja mau berangkat pak."
"Huff saya ingatkan agar kamu hati-hati, jangan membawa dia terlalu jauh, jangan membawa nya ke tempat yang aneh dan dan jangan membawa nya sampai malam."
"Arghhhh!!! terlalu banyak aturan, ingat yah pak dia belum menjadi pacar Bapak."
"Tapi dia milik saya, awas saja kalau kamu macem-macem!"
"Baik pak, saya berharap hari ini bapak tidak menggangu saya dengan Bela," ucap Serli.
Setelah beberapa lama akhirnya akhirnya telpon mereka berakhir.
"Pak Dimas sangat berlebihan! Bagaimana bisa dia terlalu posesif kepada wanita yang belum menjadi milik nya?"
__ADS_1
"Eh tunggu-tunggu dulu deh, bukan kah Bela sudah jadi milik pak Dimas?"
"Au ah ribet, aku tidak mau memikirkan itu."
"Aku sudah tidak sabar untuk happy- happy di hari Senin."
Tidak beberapa lama akhirnya Serli sampai di depan rumah Dimas.
"Bela.... ayo keluar... aku sudah di depan.." ucap Serli dari dalam.
Bela keluar. "Kamu sudah siap? Ayo berangkat." ajak Serli. Bela mengangguk.
"Aku cantik banget hari ini." ucap Serli melihat Bela.
"Mereka semua yang dandanin." ucap Bela menunjuk teman-teman nya yang ada di belakang nya.
Serli tertawa melihat mereka semua.
"Terimakasih semuanya, bagaimana kalau nanti saya akan membeli kan kalian semua makanan yang enak."
"Kami tunggu Bu..." mereka semua sangat senang sekali.
"Bik aku berangkat dulu yah."
Mereka berangkat meninggalkan rumah Dimas.
"Kita mau kemana hari ini mbak?" tanya Bela.
"Kamu diam saja , duduk dengan tenang." ucap Serli.
"Kamu harus merasakan makanan yang ada di sini."
"Tapi mbak."
"Ikut saja, ini adalah restoran kesukaan pak Dimas dan juga makanan kesukaan nya ada di menu spesial."
Bela tidak bisa menolak kalau sudah tentang Dimas.
Mereka masuk ke dalam dan sudah di sambut oleh pelayan-pelayan nya.
"Aku sangat tidak enak kalau di bawa ke tempat-tempat ini," ucap Bela.
"Kamu tidak perlu sungkan, waktu seperti ini sulit untuk di dapatkan, pokoknya hari ini kita harus bersenang-senang."
Bela sebenarnya sangat senang, hanya saja dia tidak enak merepotkan Serli.
Namun melihat Serli sangat asik dan tidak canggung dia juga bisa menyesuaikan diri nya.
Dia menikmati makanan nya ada di sana.
"Oh iya Ini adalah makanan kesukaan pak Dimas, kamu kan sangat pintar masak, nanti di hari ulang tahun pak Dimas kamu masak ini saja."
"Ulang tahun Pak Dimas kapan mbak?"
"Dua minggu lagi."
"Kok aku baru tau sih mbak?"
__ADS_1
"Kalau hal pribadi seperti itu pak Dimas selalu menyembunyikan nya, mungkin orang di rumah juga hanya Bibik yang tau."
"Humm kira-kira barang yang di sukai oleh pak Dimas apa yah?" tanya Bela.
"Humm seperti nya tidak banyak, pak Dimas hanya lebih suka hal yang sederhana."
"Sederhana?"
"Aku juga tidak tau mau nya pak Dimas seperti apa, karena setiap orang yang memberikan hadiah tetap di tolak."
Bela terdiam sambil memikirkan barang apa yang harus di beli oleh nya untuk Dimas.
Setelah selesai beberapa lama akhirnya mereka selesai makan.
"Selanjutnya kita pergi shopping." ucap Serli.
Bela mengangguk dia mengikuti Serli kemana pun agar tidak bosan.
Sampai di mall serli membawa Bela membeli pakaian untuk Bela yang cukup banyak, Bela berusaha untuk menolak namun Serli tidak mau mendengar kan nya karena mereka belanja menggunakan kartu kredit Dimas.
"Baju ini sudah sangat cocok sama kamu."
"Aku tidak suka warna putih mbak, bagaimana kalau nanti saat aku sedang masak kotor?" tanya Bela.
"Kamu pakai ini di hari ulang tahun pak Dimas, selain makanan dia juga sangat suka dengan perempuan yang memakai dress putih seperti ini.. Apalagi ini sangat cocok di badan kamu."
Sepanjang hari setelah menjelaskan apa yang di sukai oleh Dimas dan tidak sehingga Bela jadi sedikit paham.
Di tempat lain Dimas mau makan siang tidak sengaja bertemu dengan Fahri.
"Kamu mau makan siang kan? ayo sama dengan saya."
Dimas mengajak Fahri.
"Loh bapak tidak di kirim Bekal oleh Bela?" tanya Fahri.
"Bela dan Serli sedang di luar, Serli membawa Bela untuk menemani nya.
"Oohh begitu yah pak."
Setelah selesai makan siang Fahri mendadak hilang namun ternyata dia menyusul Serli dan Bela.
"Fahri kamu di sini? Apa kamu tidak bekerja?" tanya Bela.
"Waktu istirahat siang, kebetulan mall ini sangat dekat dengan tempat Ku meeting nanti."
"Kenapa kamu bisa tau kami di sini? bagaimana kalau pak Dimas tau kamu di sini?"
"Pak Dimas yang ngomong, saya ke sini karena mau bertemu dengan Bela, sudah lama kita tidak bertemu." ucap Fahri.
"Bagaimana kabar kamu di tempat tinggal yang baru? Pasti sangat seru kan?" tanya Bela.
"Sangat tidak seru, aku lebih betah tinggal di rumah."
" justru kamu bersyukur karena pak Dimas sudah sangat baik sama kamu."
"Iyah sih mbak, hanya saja aku tidak memiliki teman di sana, aku sudah terbiasa dengan keramaian." ucap Fahri.
__ADS_1