Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 55


__ADS_3

"Oke tidak masalah, pertanyaan selanjutnya apa kamu merayakan ulang tahun pak Dimas sendiri?" tanya mereka.


Bela mengangguk.


"Kenapa kamu melakukan itu Bela? Apa pak Dimas marah kepada kamu?"


"Semua nya tidak perlu khawatir semua nya baik-baik saja."


"Tidak mungkin Bela."


Bela menghela nafas panjang.


"Percaya lah kepada ku, pak Dimas baik-baik saja."


"Ini sangat mustahil, bisa-bisa nya aku baru tau kalau tuan Dimas ulang tahun dan kita di usir dari rumah." ucap teman Bela lagi.


"Kamu gak di apa-apakan sama Tuan Dimas kan?" tanya Bibik.


"Aku baik-baik saja bik, semua nya baik-baik saja." ucap Bela.


"Huff syukurlah kalau begitu, kami tidak khawatir lagi."


"Oh iya maaf yah karena kami semua pergi gak pamit sama kamu."


"Iyah Bik aku gak apa-apa kok."


"Seperti nya wajah kamu kelihatan lebih senang hari ini, apa kamu ada kabar bahagia mau di bagikan?" tanya teman nya lagi.


Bela menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum.


"Enggak kok, gak ada aku hanya bahagia karena usaha ku untuk merayakan ulang tahun pak Dimas tidak sia-sia."


"Oohh begitu yah."


"Apa kamu menyukai pak Dimas? kenapa kelihatan nya kamu sangat senang sekali?"


"Kalian terlalu banyak bertanya membuat Bela bingung saja, sudah sebaik nya kita kembali bekerja." ucap Bibik.


Bela menghela nafas lega karena semua semua berhenti bertanya.


"Aku bingung mau jawab bagaimana kalau sudah banyak pertanyaan seperti itu." ucap Bela.


Tiba-tiba telepon rumah berdering yang jawab Bibik seperti biasa.


"Halo, apa ini Bela?"


"Tidak Tuan, ini saya Bibik."


"Oohh bibik? Apa Bela ada?"


"Ada Tuan, apa perlu saya panggil kan?"


"Tidak perlu bik, katakan pada nya agar mengantarkan makanan saya ke kantor lebih cepat dari biasa nya."


"Baik Tuan."


Telepon langsung mati.


"Aneh banget, tidak biasanya tuan meminta bela mengantarkan makanan ke kantor dan lebih cepat, apa terjadi sesuatu? Semoga saja Bela tidak kena marah lagi."


Tetap saja merasa semua mengkhawatirkan Bela.


"Bela kamu bisa kan lebih awal mengantarkan makanan untuk Tuan Dimas?" tanya Bibik.


"Loh kenapa bik?"


"Gak tau tu, tadi tuan telpon kalau dia mau kamu cepat pergi mengantarkan makanan ke kantor.


Bela terdiam sejenak.

__ADS_1


"Huff aku masih sangat malu bertemu dengan nya kalau sekarang, apa yang harus aku lakukan?" tanya Bela dalam hati.


"Kenapa Bela? Apa kamu mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Bibik.


"Bik aku sakit perut, seperti nya aku tidak bisa ke kantor pak Dimas."


"Loh sakit karena apa?" tanya Bibik heran.


"Aku seperti nya mau menstruasi bik."


"Ya sudah kalau begitu biar Bibik saja, kamu istirahat saja di rumah."


Makanan sudah siap Bibik berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor Bibik menitipkan makanan nya ke resepsionis dan setelah itu pulang.


"Tok!! Tok!! Tok!!"


Ketukan pintu ruangan Dimas membuat Dimas langsung membenahi diri nya, merapikan rambut dan juga menyemprotkan parfum karena berfikir itu adalah Bela.


"Masuk!" Dimas memasang wajah tersenyum lebar namun melihat orang yang masuk membuat dia sangat kecewa dan senyuman nya langsung memudar begitu saja.


"Permisi pak, ini makan siang bapak."


Dimas melihat makan siang nya.


"Siapa yang membawa ini?"


"Tadi Bibik dari rumah Pak."


"Kalau begitu terimakasih, kamu boleh keluar."


Wajah Dimas sangat kecewa sekali karena tidak kekasih nya yang datang.


Dimas menghubungi langsung ke rumah.


"Halo Tuan," pelayan menjawab telpon dari rumah.


"Saya."


"Katakan pada nya kalau saya marah." telpon langsung mati.


"Aarrhhh!!! sangat sulit untuk di pikir kan, Tuan Dimas ada-ada saja."


Di malam hari nya Dimas baru bisa pulang jam delapan malam.


"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Dimas kepada Fani yang masih di ruangan kerja nya.


"Eh Bapak."


"Ini sudah malam, sebaiknya nya kamu pulang saja."


"Baik Pak."


Dimas pulang ke rumah.


"Selamat malam Tuan." sapa pelayan yang menunggu Dimas pulang.


"Di mana Bela?" tanya Dimas.


"Ada di kamar Tuan."


Melihat wajah Dimas yang sangat marah membuat mereka terdiam takut.


"Bela benar-benar membuat saya emosi, tidak mengantarkan makan dan juga tidak menunggu saya pulang dari kantor.


Dia membuka pintu. Bela kaget karena Dimas membuka pintu cukup kasar dia langsung terbangun dan melihat ke arah Dimas.


"Bapak sudah pulang?" tanya Bela sambil duduk.

__ADS_1


Dimas melihat ke arah Bela.


"Kamu kenapa sangat pucat? Apa kamu sakit?" tanya Dimas.


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Aku hanya sakit perut," ucap Bela sambil memegang perut nya.


"Kenapa? Emangnya kamu habis makan apa?" tanya Dimas terlihat sangat khawatir sekali.


"Aku menstruasi."


"Menstruasi?" tanya Dimas bingung.


Bela mengangguk.


"Apa kita perlu ke rumah sakit?"


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu pak, nanti juga sakit nya akan hilang," ucap Bela.


"Tapi melihat keadaan kamu seperti ini saya tidak tega, apa kamu perlu obat?"


Bela menolak namun dia terus memaksa Bela agar meminta sesuatu.


Karena khawatir Dimas membuka jas nya dan juga langsung pergi.


"Gak usah pak," ucap Bela menahan Dimas namun Dimas tidak mau mendengar kan nya.


"Bik, ikut dengan saya." Dimas membawa Bibik.


"Kenapa tuan? ada apa?" tanya Bibik.


"Bibik tau kan apa obat sakit perut karena menstruasi?"


Bibik mengangguk dan mereka langsung berangkat tidak menunggu apapun dan berhenti di sebuah apotik.


Tidak lupa membeli semua apa yang di perlu kan oleh Bela.


"Tuan sangat perhatian banget kepada Bela." ucap Bibik.


"Bibik tidak boleh bilang sama siapa pun kalau saya dengan Bela pacaran," ucap Dimas.


"Pacaran Tuan?"


"Iyah, Bibik pasti sudah tau kan?"


"awal nya saya juga berfikir seperti itu tuan hanya saja seperti nya tidak mungkin," ucap Bibik.


"Cerita nya panjang bik, saya akan cerita nanti, sekarang saya harus membawa ini ke kamar."


Bibik mengangguk sambil tersenyum.


Tidak beberapa lama Dimas kembali ke kamar.


"Pak aku baik-baik saja, kenapa bapak membeli obat sangat banyak? dan pembalut seperti ini banyak nya untuk apa?" tanya Bela.


"Jangan banyak protes, sudah ikut saja apa kata saya."


Dimas memaksa Bela untuk minum obat, jamu dan mengoleskan minyak ke perut nya.


"Apakah masih sakit?"


Bela menggeleng kan kepala nya.


"sudah tidak sakit lagi pak, sebaiknya bapak mandi dan istirahat." ucap Bela.


Dimas menghela nafas panjang dia duduk di depan Bela menatap nya dengan tatapan sedih.

__ADS_1


"Maafin saya tidak bisa mengantarkan makan siang untuk bapak tadi siang." ucap Bela.


__ADS_2