
Bela hanya bisa tersenyum. Dia mengantarkan dokter keluar dan sangat terkejut semua pelayan berkumpul di depan kamar.
"Bagaimana? apa Tuan sudah bisa di obati?"
"Alhamdulillah sudah."
Semua nya bernafas lega.
"Kalau begitu, kamu di dalam saja merawat Tuan Dimas, kami akan mengantar dokter." ucap pelayan lain.
Bela mengangguk dia melihat Dimas tidur dengan nyenyak mungkin karena pengaruh obat.
Bela sama sekali tidak bisa istirahat dengan benar karena harus stay menjaga Dimas di samping nya.
Tengah malam Dimas terbangun karena mau ke kamar mandi. Dia melihat Bela yang sedang menahan ngantuk di atas kursi.
Mata nya sudah tertutup namun badan nya masih tegap duduk di kursi.
"Kalau kamu ngantuk tidur saja." ucap Dimas. Bela mengangguk dan langsung meletakkan kepala nya di sandaran kursi dan langsung tertidur.
"Cih bisa-bisa nya dia sudah mengantuk namun menahan nya." ucap Dimas.
Dimas melihat Air kompresan nya di atas meja. Dan badan nya sudah lebih ringan walaupun masih sangat pusing sekali.
Tidak beberapa lama kembali dari kamar mandi dia melihat Bela tidur dengan sangat nyenyak, wajah yang sangat letih.
Dimas mengambil selimut mau menyelimuti Bela namun Bela terbangun.
"Bapak kenapa tidak tidur? Bapak tidak boleh berdiri cukup lama." ucap Bela langsung membantu Dimas tidur.
Dimas tidak jadi menyelimuti nya.
"Kamu istirahat saja, saya sudah lebih baik." ucap Dimas.
"Sebaik nya bapak tidur dulu." ucap Bela.
"Saya tidak mengantuk." ucap Dimas. "Bapak jangan keras kepala, ini demi kesehatan bapak." ucap Bela.
Dimas tidak bisa mengatakan apapun.
Bela mengelus rambut Dimas yang sudah mulai mengantuk.
"Jangan tidur Dimas. Jangan tidur." dia mencoba melawan kantuk nya. Namun elus-elus tangan Bela membuat nya mengantuk dan tertidur.
Pagi-pagi... Dia bangun sudah tidak melihat Bela di kamar.
"Kemana dia? apa dia sudah bangun?" ucap Dimas. Tiba-tiba Bibik masuk membawa sarapan.
"Tuan sudah bangun? ayo duduk dan sarapan dulu Tuan. Setelah itu Tuan harus minum obat agar cepat sembuh."
Dimas melihat sarapan yang di bawa Bibik.
"Kenapa Tuan? Apa Tuan tidak berselera?"
"Ini seperti Wangi masakan wanita itu, namun kemana dia?" batin Dimas sambil melihat ke arah pintu.
"Ayo makan dulu Tuan." Dimas menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Tuan harus makan agar cepat sembuh, kalau seperti ini Tuan tidak akan sembuh, semua orang akan tau kalau Tuan tidak sehat." ucap Bibik.
"Saya tidak berselera bik, saya tidak ingin makan." ucap Dimas menolak.
Bibik tidak berani untuk memaksa bos nya itu.
"Bibik keluar saja, saya bisa makan sendiri kalau sudah lapar." ucap Dimas.
Bibik mengangguk dan keluar dari kamar Dimas.
"Kenapa Bibik sangat cepat? Apa pak Dimas tidak Makan banyak?"
"Tuan sama sekali tidak mau makan Bel, Bibik tidak tau harus bagaimana membujuk nya." ucap Bibik.
Bela yang sedang bekerja di dapur menghela nafas panjang.
"Kalau begitu aku akan memeriksa nya Bik." ucap Bela.
"Tapi bagaimana kalau Tuan marah kepada kamu?" tanya Bibik.
"Tidak apa-apa Bik, tidak perlu khawatir." ucap Bela.
"Selamat pagi Bela." sapa Fahri yang mau berangkat bekerja.
Bela melihat Fahri sambil tersenyum melihat penampilan baru Fahri.
"Kenapa? apa ada yang aneh?" tanya Fahri.. Bela menggeleng kan kepala nya.
"Kamu sangat tampan memakai stelan seperti ini." ucap Bela. Fahri tersenyum.
"Kamu sudah dari kamar nya?"
"Tidak ada yang bisa masuk ke kamar selain ada urusan penting." ucap Fahri.
"Oh iya aku lupa, ya udah kalau begitu kamu hati-hati dan semangat." ucap Bela.
Fahri mengangguk sambil tersenyum.
"Humm ngomong-ngomong kamu kenapa sangat pucat sih? Apa kamu tidak istirahat?" tanya Fahri.
"Aku bergadang sepanjang malam karena pak Dimas sakit."
"Walaupun kamu bekerja untuk tuan Dimas kamu harus memerhatikan kesehatan kamu. Makan yang teratur dan ini aku beli untuk kamu." ucap Fahri.
Fahri memberikan Botol obat.
"Ini apa?" tanya Bela.
"Ini adalah vitamin untuk badan. Aku sering minum ini." ucap Fahri.
"Terimakasih yah, kalau begitu aku harus ke kamar pak Dimas." Fahri tersenyum sambil mengangguk.
"Ekhem-ekhem.." tiba-tiba Bibik datang.
"Ada apa Bik?"
"Kamu bersemangat sekali hari ini." ucap Bibik.
__ADS_1
"Iyah Bik, karena hari ini aku resmi memakai pakaian ini."
Bibik tersenyum. "Bibik sangat bangga sama kamu, pokoknya kamu harus melakukan yang terbaik." ucap Bibik. Fahri mengangguk.
Bela sudah di depan pintu kamar. Dia membenarkan diri dulu sebelum masuk menyiapkan mental.
Dia masuk melihat Dimas membuka laptop nya.
"Kenapa Bapak tidak memakan sarapan ini? Bapak masih sakit kenapa bapak masih bekerja?" tanya Bela langsung.
Dimas terlihat sedikit kaget.
"Kenapa kamu masuk tidak mengetuk pintu dan datang langsung marah-marah?" ucap Dimas.
"Bagaimana tidak marah, jelas-jelas Bapak masih sakit namun sudah bekerja dan sama sekali tidak Makan, dan juga tidak minum obat." ucap Bela.
"Saya harus menyelesaikan pekerjaan ini, dan saya tidak berselera sarapan karena tidak enak." ucap Dimas.
"Saya membuat ini sesuai resep kesukaan Bapak, semua orang bilang nya enak." ucap Bela.
"Saya tidak berselera, saya mau sup ayam." ucap Dimas.
Bela menghela nafas panjang. "Kalau bapak tidak berhenti bekerja saya tidak akan masak sup ayam." ucap Bela.
"Saya harus bekerja." ucap Dimas.
"Bapak sangat keras kepala. Setelah ini Bapak demam tinggi lagi saya tidak akan mengurus nya!" ucap Bela.
Dimas langsung terdiam. "Baiklah." ucap Dimas langsung menutup laptop nya.
Bela mengambil laptop nya.
"Kamu mau bawa kemana laptop saya?"
"Saya akan menyimpan nya untuk sementara waktu. Karena bapak harus istirahat sampai sembuh total." ucap Bela.
Dimas mau marah namun Bela memasang wajah menakutkan sehingga Dimas tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bapak mau makan atau tidak? Kalau bapak tidak mau saya akan membuang nya dan saya tidak akan masak lagi."
"Itu sudah tidak enak, saya mau sup ayam."
"Kalau begitu saya akan membuang nya."
"Eeeehhh tunggu!" menahan Bela yang hampir membuang nya.
Bela tau kalau Dimas sedang sakit dia hanya mau makan bubur saja.
"Ini sudah dingin. Ini pasti tidak enak." ucap Dimas. Bela menghela nafas panjang mau membuang nya, namun di tahan oleh Dimas.
Bibik sudah bilang kalau Dimas hanya makan bubur Saat sakit dan dia tidak akan makan bubur yang panas melainkan harus menunggu benar-benar dingin.
"Saya terpaksa makan ini." ucap Dimas dan mengambil nya. Bela mau tersenyum melihat tingkah Dimas seperti anak kecil.
"Baik-baik." ucap Bela melihat Dimas tidak berdaya mengangkat sendok.
Akhirnya Bela menyuapi nya. Dengan sangat tulus Bela menyuapi Dimas.
__ADS_1