Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 25


__ADS_3

"Kalau di lihat-lihat Bela yang cukup lelah karena dia memiliki tanggung jawab yang sangat banyak dan juga besar."


"Kamu lupa sebelum dia bekerja dengan saya, saya sudah memberikan uang senilai 500 juta kepada nya."


"Tapi itu bukan untuk Bela Pak, itu untuk orang tua angkat nya yang serakah itu. Bela memiliki kebutuhan yang harus dia beli sendiri."


Dimas hanya diam saja.


"Ya sudah kalau begitu saya pergi ke ruangan saya dulu Pak."


Serli meninggalkan Dimas di atas.


Dimas menghela nafas panjang. "Aku baru saja mau menenangkan pikiran tidak mau memikirkan perempuan itu namun sekarang semakin membuat ku kefikiran," ucap Dimas.


"Percuma saja aku memikirkan hal yang tidak penting sebaiknya aku keluar saja."


Dimas memilih keluar dari perusahaan.


Namun saat sedang melewati salah satu Hotel tidak sengaja dia melihat mobil Vivi di sana terparkir.


"Loh bukannya itu mobil nya Vivi? Dia bilang kalau hari ini dia ada pekerjaan di luar kota," batin Dimas.


Dimas berhenti memastikan kalau itu adalah mobil Vivi.


Namun baru saja mau keluar dari mobil tiba-tiba Vivi muncul bersama pria.


Dimas jelas sangat kaget melihat Vivi bergandengan dengan pria yang tidak asing melainkan teman Dimas sendiri dan mereka terlihat sangat akrab dan romantis.


Dimas mencoba menelpon Vivi.


"Tunggu sebentar yah, aku jawab telpon dulu." ucap Vivi kepada pria yang di gandeng oleh nya.


"Halo sayang.. Kenapa kamu menelpon aku?" tanya Vivi.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tau kamu lagi dimana, apa kamu sudah makan?"


"Aku sedang di ruangan meeting baru saja selesai, nih mau keluar mencari makan siang, kamu sendiri sudah makan?"


"Oohh baru selesai meeting?"


"Iyah sayang, emang nya kenapa sih?"


"Aku seperti melihat mobil kamu di depan hotel, mungkin aku salah lihat."


"Gak mungkin lah, sekarang aku lagi di perusahaan Papah ku."


Vivi melihat ke arah mobil nya dan dia sangat kaget melihat mobil Dimas yang tidak jauh dari dia berdiri.


"Oohh seperti ini namanya meeting dengan klien dan juga sedang di perusahaan Papah kamu?" ucap Dimas karena Vivi sudah menyadari kehadiran nya di sana.

__ADS_1


"Aku bisa jelasin, aku mau bicara sama kamu."


Vivi berusaha mengejar Mobil Dimas namun Dimas sudah meninggal kan parkiran hotel.


"Ada apa sayang?" tanya pria yang bersama Vivi.


"Dimas tau kalau aku di sini bersama kamu."


"Kok bisa sih?" tanya pria itu.


"Ini salah kamu, sudah aku bilang jangan parkir mobil ku di luar kamu tetap menggunakan parkir itu."


"Ya mau bagaimana lagi, kamu tau kan di dalam sudah penuh, mobil ku juga di luar."


Mereka jadi debat disana karena bingung dan juga sudah sangat panik.


"Sial! Sial! Bagaimana bisa hari ini menjadi hari yang paling soal bagi ku," ucap Dimas.


Handphone nya berdering.


"Halo pak, sebentar lagi tamu bapak akan datang sebaiknya bapak segera ke kantor," telpon dari Serli.


Waktu makan siang Dimas melihat di meja nya sudah tersedia bekal baru milik nya.


"Aku baru menyadari bekal ini sudah di sini, aku sangat lapar," ucap Dimas dan mengambil posisi untuk duduk dan makan.


Namun mencium aroma nya saja sudah membuat Dimas lapar.


"Tidak mungkin dia memberikan aku racun, dia akan ikut mati dengan ku kalau dia mencoba untuk membunuh ku," batin Dimas.


Setelah di makan rasanya benar-benar sangat enak sekali.


"Ini sangat enak sekali."


Tidak berhenti makan sampai habis.


"Aaarr!! Perut ku sangat kenyang sekali."


Tiba-tiba Serli masuk menawarkan makan siang namun melihat bekal dia tidak jadi menawarkan nya dan memilih keluar.


"Akhir-akhir ini Pak Dimas sering sekali membawa bekal ke kantor. Fahri bilang kalau yang membuat bekal nya milik nya adalah Bela dan menu mereka hari ini sama atau jangan-jangan pak Dimas cemburu melihat Bela menyiapkan bekal untuk Fahri itu sebab nya dia mau juga," batin Serli.


"Akhir-akhir ini juga pak Dimas sedikit berubah, aku tidak tau jelas nya berubah nya karena apa tapi Pak Dimas seperti menyembunyikan sesuatu dan wajah nya terlihat lebih berseri-seri ketika mau pulang dari kantor."


"Mbak Serli sedang apa?" tanya Fahri yang baru saja datang.


"Kebetulan banget kamu di sini Fahri."


"Ada apa mbak?"

__ADS_1


"Ini sangat penting." Serli menarik tangan Fahri ke ruangan nya.


"Masalah pekerjaan mbak?"


"Kamu sudah sama seperti pak Dimas yang ada di pikiran nya hanya pekerjaan saja. Ini bukan tentang pekerjaan."


"Lalu apa Mbak?"


"Bagaimana hubungan Bela dan juga pak Dimas di rumah?"


"Maksud nya?"


"Apakah pak Dimas masih sering marah-marah dan memperlakukan Bela dengan kasar?"


Fahri terdiam sejenak.


"Seperti nya pak Dimas tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada Bela mbak karena Bela perempuan yang baik, rajin dan juga ceria."


"Oh iya aku lupa kalau kamu jarang di rumah. Tapi ngomong-ngomong kamu kok bisa akrab gitu sih dengan Bela?"


"Humm karena Bela baik, selain baik dia juga cantik dan lembut."


"Aku sudah menebak nya dia perempuan yang baik. Aku sangat kasian kepada nya karena terjerat oleh Pak Dimas.


"Jangan bilang kamu menyukai Bela yah?" tanya Serli.


Fahri menggeleng kan kepala nya sambil memasang wajah malu.


"Kamu tidak bisa berbohong kepada ku, aku sudah kenal kamu dari bayi."


"Emang salah ya mbak kalau menyukai Bela? Kenapa semua orang melarang aku dekat-dekat dengan Bela?"


"Tidak ada salah nya, hanya saja kamu tau sendiri kan kenapa Bela ada di rumah pak Dimas?"


Fahri diam.


"Singkat saja dalam artian yang sangat kasar, Bela itu sudah menjadi wanita simpanan pak Dimas karena Pak Dimas sudah membelinya."


"Dan kamu adalah orang kepercayaan Pak Dimas setelah aku, jika pak Dimas tau kamu berpacaran dengan wanita nya kamu pasti akan habis."


"Tapi Pak Dimas tidak menyukai Bela, dia hanya ingin Bela menjadi pembantu nya," ucap Fahri masih mencoba untuk menyakinkan Serli.


"Aku tau kamu menyukai Bela sekarang tapi sebaik nya kamu mencari perempuan lain saja yah karena itu akan membuat hubungan kamu dengan Pak Dimas hancur, begitu juga hubungan kamu kepada Bibik dan hubungan Bibik dengan pak Dimas."


"Ya sudah kalau begitu kamu kembali kerja gih, jam istirahat sudah mau habis."


"Oh iya jangan sampai pak Dimas tau kamu dekat dengan Bela."


Fahri hanya mengangguk tidak mengatakan apapun dan keluar dari ruangan Serli.

__ADS_1


__ADS_2