
Keesokan paginya..
Serli terbangun dari tidur nya, dia menyentuh kepala nya yang sangat sakit, berusaha membuka mata nya.
Dia melihat ke sekitar nya, sedikit heran karena ruangan itu sangat asing bagi nya.
Dia kaget dia melihat pria yang tidak memakai busana hanya menggunakan celana boxer di balik tirai putih yang membatasi balkon dan ruangan tersebut.
Pria itu adalah Rio yang sedang menikmati kopi dan rokok di tangan nya.
Serli mulai sadar dia sangat kaget mengetahui kalau dia berada di kamar Rio.
"Kenapa aku bisa di sini?" tanya nya. Dia semakin kaget melihat diri nya memakai kimono.
"Tunggu! siapa yang menukar nya?" ucap nya semakin syok.
Dia melihat keluar Rio masih enak menikmati kopi nya. Serli berniat kabur dari kamar itu, namun ternyata Rio sudah terlanjur masuk dan melihat Serli.
"Kau sudah bangun?" tanya Rio membuat Serli kaget dia terjatuh di dalam gulungan selimut ke lantai dari kasur.
"Awhh!!! Pinggang ku..." teriak nya.
Rio mendekati nya dan menjulurkan tangan nya.
Serli menepis tangan Rio dan berdiri sendiri.
"Apa yang kau lakukan kepada ku? kenapa aku bisa di sini?" tanya Serli.
"Kamu mabuk, pak Dimas meminta aku mengantar kan mu, aku tidak tau di mana alamat mu, itu sebab nya aku membawa ku ke sini."
"Kau mengambil keuntungan dari ku kan? Kamu mengambil keuntungan dari tubuh ku!"
"Aku tidak melakukan apapun."
"Bohong! Kenapa pakaian ku bisa ganti dan badan ku sakit?"
Rio mengingat tadi malam, Serli baru sampai dia berbaring sebentar, namun tiba-tiba masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya karena risih dan mencari kimono sendiri.
Perihal badan nya yang sakit mungkin karena sering terjatuh di saat berjalan.
Tidak mengatakan apapun Rio hanya mendengar kan Serli marah-marah, dia mencari pakaian nya.
Dan ternyata pakaian nya semua nya basah di kamar mandi.
Tiba-tiba dia mengingat semua kejadian tadi malam.
"Apa? Aku sudah salah sang?"
Dia sangat malu keluar dari kamar mandi.
"Aku akan pergi."
"Apa kau akan pergi berpakaian seperti itu?" tanya Rio.
Rio membuka lemari nya dia memberikan baju nya kepada Serli.
"Pakai lah itu."
__ADS_1
Serli menukar nya, baju Rio yang cukup panjang bisa menutupi tubuhnya, walaupun terasa sangat aneh sekali.
Untung saja hari ini dia tidak ke kantor di pagi hari.
Di rumah Bela. Dia sedang berlatih bersama dokter nya. Dimas baru saja datang dia melihat Bela.
Bela tidak mengatakan apapun dia hanya melirik sedikit dan setelah itu lanjut.
Dimas duduk di samping Vira yang sedang di suapin oleh Bibik.
"Apa tuan tadi malam sampai dengan selamat di rumah?" tanya Bibik.
"Bibik tau?" tanya Dimas.
"Iyah Tuan, saya tidak sengaja melihat nya."
Dimas tersenyum tipis.
"Maafin saya bik membuat keadaan tidak nyaman. Seperti nya mulai malam nanti saya akan tidur di rumah."
Bibik mengangguk. Tidak beberapa lama akhirnya Bela selesai. Dimas mendekati nya.
"Sini aku bantu," ucap Dimas namun Bela menolak bantuan Dimas.
Tidak beberapa lama akhirnya dia selesai latihan, Bela masuk ke dalam rumah mau mandi.
"Aku akan berangkat bekerja, mungkin hari ini aku akan pulang lebih cepat, kamu mau nitip sesuatu?"
Bela menggeleng kan kepala nya.
Dimas menghela nafas panjang dia mengikuti Bela ke dalam kamar nya.
"Aku tidak ingin apapun, sebaiknya Kaka pergi saja, jangan sampai telat."
Dimas menahan tangan Bela. "Apa kamu masih marah? Aku minta maaf tentang tadi malam."
Bela menepis tangan Dimas. "Aku tidak ingin berbicara dengan kakak, kakak pergi saja dari kamar ku."
Dimas langsung memeluk Bela. Dia memeluk nya begitu erat.
"Lepaskan aku!"
"Aku minta maaf karena sudah membuat kamu kecewa, aku pusing sehingga memutuskan untuk minum sedikit. Dengan cara ini aku bisa menenangkan pikiran."
"Apa menurut kakak minum alkohol itu sehat?" tanya Bela. Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Kakak sudah tau, tapi kenapa kakak masih melakukan nya?"
"Kalau hanya sekedar minum tidak mabuk seperti kemarin."
Dimas menatap wajah Bela.
"Kamu boleh marah, tapi kamu tidak boleh marah lama-lama, saya sangat sedih kalau kamu marah terus."
"Baiklah... Aku menyerah, aku tidak akan memaksa kamu untuk menikah cepat dengan ku, tapi aku mohon agar kamu memikirkan nya."
Dimas melepaskan Bela. "Aku tau itu sangat membebani kamu, tapi aku ingin menikahi kamu karena aku sudah memikirkan semua nya dengan baik."
__ADS_1
Dimas Mencium bibir Bela dengan singkat. "Aku mencintai, aku berangkat bekerja dulu."
Dimas meninggal kan Bela di kamar. Dia keluar dan ternyata Vira sudah menunggu nya.
"Om Dimas... Aku boleh ikut sama Om Dimas bekerja kan?" tanya Vira.
"Loh kenapa?" tanya Dimas.
"Aku sangat bosan di rumah Om, lagian ada Bibik yang jagain mbak Bela."
Dimas menoleh ke arah Bibik. "Saya tidak bisa menahan non Vira Tuan."
"Tidak apa-apa Bik, biar dia ikut dengan saya, saya menitip Bela."
"Tuan yakin? bagaimana kalau non Vira membuat kekacauan?"
"Tidak perlu khawatir bik, saya akan menjaga nya dengan baik."
"Baiklah tuan, sebaiknya langsung berangkat saja, sebelum non Bela keluar."
"Horeee aku ikut om Dimas," ucap Vira.
Dimas tersenyum. "Huff aku seperti memiliki anak."
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di kantor. Seperti biasa mereka sudah tau Vira mereka semua menyapa Vira.
"Selamat pagi pak Dimas," ucap Serli.
Dimas menatap Serli dengan tatapan aneh.
"Apa ada yang ingin kamu sampai kan kepada saya sehingga kamu menunggu saya di depan ruangan saya?"
"Ini urusan pribadi pak," ucap Dimas.
"Katakan saja."
"Tadi malam, apa benar Bapak yang meminta Rio mengantarkan saya?"
Dimas mengangguk. "Apa yang salah? apa dia melakukan sesuatu yang tidak baik?"
"Benar pak, dia melakukan hal yang tidak baik, karena dia membawa saya ke rumah nya."
Dimas langsung meminta Serli berhenti berbicara. "Baiklah saya mengerti, kamu bisa kembali ke ruangan kamu."
"Apa pak Dimas mengerti? Kenapa dia langsung tau? ah sudahlah sebaik nya aku lanjutkan bekerja."
"Ayo sayang, ikut Tante saja," ucap Serli kepada Vira.
Vira mengangguk. Sementara Dimas langsung menemui Rio.
"Ada apa bapak meminta saya pagi-pagi ke sini?" tanya Rio.
"Apa yang kau lakukan kepada Serli? Apa kamu tau perlakuan mu ini bisa membuat nama baik perusahaan buruk."
"Apa yang saya lakukan? saya tidak melakukan apapun."
"Serli mengatakan kalau kau tidak mengantar kan dia pulang melainkan membawa nya ke rumah mu," ucap Dimas.
__ADS_1
"Saya tidak tau di mana rumah nya, tadi malam saya tidak melakukan apapun, dia hanya salah paham, saya tidur di luar bukan di kamar." ucap Rio.