Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 240


__ADS_3

Bela kaget mendengar kabar dari suaminya. Bela mau datang ke rumah sakit namun di larang oleh Suami.


"Kamu tidak perlu ke sini, kamu istirahat saja di rumah," ucap Dimas. "Tapi bagaimana dengan Kakak?" tanya Bela.


"Gak apa-apa, aku akan menunggu Yana selesai di periksa," ucap Dimas.


"Telpon langsung mati setelah itu.


"Ya ampun kok bisa seperti ini sih, ada-ada saja yang menjadi masalah," ucap Bela dalam hati.


"Permisi Pak, Bapak ikut saya ke ruangan dokter," Panggil suster sambil menarik tangan Dimas.


"Tunggu sebentar, ini mau ngapain?" tanya Dimas.


"Istri Bapak hamil, kenapa Bapak tidak mendampingi nya di dalam?" tanya suster.


"Istri?" tanya Dimas kaget. Dia masuk ke ruangan dokter.


"Apa benar bapak adalah suami dari mbak ini? Mbak ini sedang hamil muda dan Janin nya kurang sehat."


"Bu-/ Iyah pak, dia suami saya," ucap Yana. Dimas kaget dia mau marah namun di depan banyak orang dan di tempat umum.


Tidak beberapa lama keluar dari sana. "Saya minta maaf Pak, saya terpaksa mengatakan nya karena saya sangat malu kepada dokter kalau saya hamil di luar nikah."


Dimas tidak bisa berkata-kata dia mau marah namun tidak bisa. Dia hanya mengusap wajah sambil menghela nafas panjang beberapa kali.


"Ini sangat gila sekali," batin Dimas.


"Aku mohon jangan sampai Bela tau tentang ini Pak, saya tidak mau membuat nya marah. Saya mohon," ucap Yana.


Dimas belum mengatakan apapun dia hanya diam saja.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Dimas keluar dari dalam mobil begitu saja tanpa menunggu Yana keluar.


Dia melihat istrinya sudah menunggu di depan pintu dari tadi.


Dia memberikan hasil nya kepada Istrinya. Setelah di periksa dia sangat kaget Yana hamil.


"Kamu hamil Yana?" tanya Bela. Yana mengangguk.


"Ya ampun, bagaimana ini?" tanya Bela kebingungan.


"Aku minta maaf sudah merepotkan kamu dan juga suami kamu," ucap Yana.

__ADS_1


Bela menghela nafas panjang. "aku tidak tau mau ngomong apa sekarang Yana, tapi tidak ada pilihan lain selain meminta pertanggung jawaban nya."


"Bela... aku mohon jangan berikan aku kepada nya lagi, aku tidak mau bela, aku sangat takut kalau harus kembali lagi kepada nya, aku tidak bisa," ucap Yana.


"Lalu harus bagaimana lagi? Apa kamu masih menanggung semua nya sendirian? Apa kamu mau orang tua mu tau tentang ini?" tanya Bela.


"Bela.. aku mohon bantu aku bela, aku tidak mau kembali dan bertemu dengan pria itu, aku tidak mau, aku akan menanggung semua ini sendirian," ucap Yana.


"Kamu yakin? Kamu harus memikirkan nya lebih matang Yana," ucap Bela.


"Aku sudah memikirkan semua nya, aku akan tanggung jawab untuk diri ku sendiri, tapi aku mau kan menyembunyikan kehamilan ku dari siapapun."


"Baiklah kalau begitu yang kamu mau, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi kepada kamu," ucap Bela.


"Terimakasih banyak Bela,,x ucap Yana.


Bela masuk meninggalkan Yana. "Dia sungguh bodoh, kenapa dia mau memberikan hal yang sangat berharga kepada seseorang hanya karena cinta? Padahal belum menjadi suami istri," batin Bela.


"Tunggu, tadi kelihatan nya kak Dimas sangat kesal, apa dia terkena masalah?" batin Bela.


Dia mencari suami nya ke kamar, ruangan kerja, balkon namun tidak ada.


"Kak Dimas..." panggil bela. Ternyata dia ada di taman belakang sedang duduk sendirian.


"Apa yang kakak lakukan di sini sendirian? Ini sudah Sore," ucap Bela.


"Kelihatan nya lagi ada masalah, emangnya Kenapa?" tanya Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Gak apa-apa kok, kamu tidak perlu khawatir," ucap Dimas.


"Bagaimana tidak khawatir? Kamu seperti ini saja sudah membuat ku khawatir," ucap Bela.


Dimas membawa Bela duduk di pangkuan nya. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, kamu harus memikirkan kesehatan kamu, anak kita seperti apa."


"Pasti karena Yana kan? aku minta maaf jadi merepotkan kamu karena teman ku," ucap Bela.


"Kenapa kamu tidak meminta dia kembali ke rumah orang tua nya? Kalau sudah Hamil seperti ini, siapa yang mau tanggung jawab?" tanya Dimas.


"Kasihan dia kak, kalau orang tua nya tau dia pasti kena marah dan kena hukum, apa kamu tega membiarkan nya kena hukum?"


"Itu bukan urusan kita sayang, dia yang salah kenapa terlalu sangat murahan kepada seorang pria.


"Kamu ngomong apa sih? jangan ngomong yang aneh-aneh deh, bagaimana kalau dia mendengar nya?" tanya Bela.

__ADS_1


"Kenyataan sayang, bagaimana kalau nanti kita sampai terlibat?"


"Aku ingin membantu nya kak, mau minta tolong sama siapa lagi dia?" tanya Bela.


Dimas menghela nafas panjang. "Terserah kamu saja deh, aku bingung," ucap Bela.


"Aku ingin sekali bantuan kakak, bagaimana caranya kak?" tanya Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak tau caranya Bela," ucap Dimas.


"Kak.. Kak.." panggil Bela mengikuti Dimas yang langsung pergi ke dalam.


"Aneh banget sih, apa susah nya membantu orang yang kesusahan?" batin Bela.


"Lagian aku tidak terlalu melibatkan dia, aku tidak meminta dia mengantarkan Yana ke rumah sakit, dia yang membawa nya sendiri, dan penanggung jawab sebagai suami di surat itu dia sendiri yang tanda tangan."


"Jadi letaknya kesalahan ku di mana?" tanya Bela.


"Kak Dimas... Ayo kita bicara sebentar."


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, sebaiknya aku tidur saja," ucap Dimas.


"Ini masih jam delapan malam, mana mungkin jam segini kakak tidur?" tanya Bela.


"Lupakan saja lah," ucap Dimas.


Bela menghela nafas panjang. "Maksud Kakak seperti apa sih? Bagaimana bisa melupakan yang sudah terjadi seperti ini?" tanya Bela..


"Jangan bahas tentang itu lagi yah sayang, sebaik nya kita mandi,"


Dimas membawa Bela ke kamar mandi. "Senyum dong,,x ucap Dimas setelah sudah di dalam kamar mandi karena Bela memasang wajah cemberut terus.


"Kamu tidak mau mandi? apa kamu tidak gerah karena tidak mandi?"


"Ya udah kalau begitu ayo kita mandi bareng," ucap Dimas.


Akhirnya mereka mandi bareng. "Apa kamu masih marah?" tanya Bela setelah selesai mandi dan Dimas sedang membantu mengeringkan rambut nya.


"Aku tidak marah sayang, untuk apa aku marah sama kamu," ucap Dimas.


"Terus kenapa Kakak dari tadi diam saja?" tanya Bela.


"Aku mau kamu minta Yana jujur kepada orang tua nya dan juga minta tanggung jawab kepada pria itu."

__ADS_1


"Kasian Yana Kak, dia pasti kena marah kalau bilang sama orang tua nya, dan kalau sama mantan nya dia akan pasti tersiksa lagi," ucap Bela.


"Kenapa kamu harus memikirkan hal itu?" tanya Dimas.


__ADS_2