
"Ngapain dia ke sini?" batin Bela. "Biarkan dia masuk," ucap Bela.
"Yakin non? bagaimana kalau tuan Dimas mau melakukan sesuatu yang buruk."
"Tidak apa-apa bik, biarkan saja masuk."
Akhirnya Dimas di ijinkan masuk ke dalam. Bela menghampiri Dimas. "Apa yang kakak lakukan di sini? Kakak mau menimbulkan masalah baru lagi?" tanya Bela.
Dimas melihat ke sekeliling sudah tidak ada orang. "Bela, justru aku yang harus bertanya kenapa kamu ke sini setelah terjadi masalah seperti ini? apa kita tidak bisa membicarakan nya dan mengatasi nya bersama-sama?" tanya Dimas.
"Aku harus melakukan apa? aku tidak bisa melakukan apapun," ucap Bela.
"Kita hanya perlu mencari jalan keluar nya, kenapa kamu harus pergi dan menghilang dari masalah seperti ini?" tanya Dimas.
Bela terdiam dia menunduk kan kepala nya. "Aku minta maaf, aku salah sudah kabur dari masalah, tidak seperti ini seharusnya."
"Kamu sudah paham kan? Kamu janji tidak akan kabur-kaburan lagi kan?" tanya Dimas.
Bela mengangguk. Dia mendekati Dimas dan memeluk nya.
"Aku minta maaf yah kak," ucap Bela. Dimas mengangguk.
"Baiklah tidak apa-apa, kamu tidak perlu sedih seperti ini."
"Iyah-iyah gak apa-apa," ucap Dimas sambil terus mengelus punggung Bela.
Setelah kedua nya berdamai dan tenang Dimas mengajak Bela untuk berbicara dengan serius.
"Aku serius sama kamu, aku mencintai kamu dengan tulus, aku juga mau membuktikan kepada semua orang kalau aku mencintai kamu," ucap Dimas sambil memegang tangan Bela.
Bela menatap wajah Dimas.
"Tapi..."
"Kamu tidak perlu khawatir, Besok aku akan langsung berbicara kepada orang tua kamu."
"Bukan itu kak," ucap Bela.
"Bagaimana dengan tanggapan orang lain mengenai hubungan kita? Mereka pasti akan berfikir hal yang tidak-tidak karena kakak menikahi anak pembunuh seperti ku."
Dimas memegang tangan Bela, menatap wajah nya.
"Bela... ini adalah hidup kita berdua, tidak ada yang tidak mungkin, ini adalah cara Tuhan mempertemukan kita seperti ini."
Bela menatap wajah Dimas. "Baiklah aku mau menikah dengan kakak, walaupun orang tua ku tidak menyetujuinya, tapi setidaknya mereka tau."
"Kamu serius?" tanya Dimas, Bela mengangguk.
"Aku juga tidak ingin mempersulit semua nya, aku ingin hidup lebih tenang."
__ADS_1
Dimas memeluk Bela.
"Baiklah sayang," ucap Dimas.
"Malam ini seperti nya aku akan tinggal di sini kak, beberapa hari ke depan nya juga."
Dimas terdiam sejenak. "Kalau kamu dengan Vira di sini, sangat sulit bertemu dengan kalian karena penjaga di luar tidak mengijinkan aku masuk."
"Wajar saja kak, Mereka masih dendam dan ini adalah wilayah Ayah ku."
"Tapi tidak apa-apa, untuk sementara waktu tidak bertemu sampai masalah selesai tidak menjadi masalah, walaupun aku akan sangat merindukan kamu dan Vira."
Bela tersenyum. Tidak bisa lama-lama di sana, Dimas sudah di tunggu oleh pengawal di luar.
"Pergi lah dari sini! Jangan kembali lagi ke sini!" ucap pengawal itu.
Dimas menghela nafas panjang.
Karena sudah sangat malam akhirnya dia memutuskan segera pulang.
Di rumah Fahri baru saja selesai bekerja, dia kembali ke rumah.
"Kamu baru pulang jam segini?" tanya Kayla melihat Fahri baru pulang.
"Iyah," jawab Fahri. Kayla melihat jam.
"Apa kamu tidak bersama Dimas? Jam segini dia belum juga pulang."
Kayla mendekati Fahri.
"Apa kamu sangat lelah?" tanya Kayla.
Fahri mengangguk. Dia melihat rumah sudah sangat sepi.
"Apa mbak tidak ingin memberikan sesuatu agar aku kembali semangat?"
Kayla tersenyum dia mencium pipi Fahri. Fahri langsung tersenyum. "Sebaiknya kamu sekarang pergi mandi," ucap Kayla.
Fahri mengangguk. Tidak beberapa lama Fahri selesai mandi Kayla sudah ada di kamar Fahri membawa makanan dan juga minum.
"Makan lah, aku hanya bisa membuat ini."
"Kenapa mbak belum tidur?" tanya Fahri sambil makan.
"Aku baru saja bangun, aku cukup cepat tidur karena kelelahan."
Fahri mengelus tangan Kayla yang di genggam nya dari tadi sambil makan.
"Suatu saat nanti, kalau kita menikah, mbak tidak boleh bekerja, mbak cukup di rumah merawat ku dan anak kita nanti."
__ADS_1
Kayla tiba-tiba terdiam. "Mbak juga gak boleh lelah, mbak suka kan?" tanya Fahri.
Namum tiba-tiba Kayla Menarik tangan nya dari Genggaman Fahri.
"Maksud kamu apa? kamu tidak mengijinkan aku bekerja? Kamu mau membuat aku seperti ibu rumah tangga pada umumnya?"
"Mereka hanya di rumah saja mengurus anak, mereka seperti wanita bodoh, membosankan dan juga mengurus rumah dan anak itu sangat merepotkan dan aku akan menjadi Jelek."
Fahri kaget dengan perkataan Kayla. "Bukan seperti itu mbak."
"Aku bekerja keras agar nanti aku tidak melakukan hal seperti itu, aku sudah melihat banyak ibu rumah tangga di luar sana. hidup nya sangat membosankan dan penampilan mereka sangat jelek!"
Fahri terdiam, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, kalau mbak nanti tidak bisa mengerjakan semua nya bisa membayar pelayan dan baby sister."
"Emang nya kamu punya uang untuk bayar mereka? Emang nya kamu sanggup memenuhi semua nya? kalau aku tidak bekerja emang nya kamu bisa membeli semua apa yang aku mau, perawatan ku?" tanya Kayla.
Fahri tercengang dengan perkataan kekasih nya itu. Dia tidak pernah berfikir kalau Kayla akan mengatakan sesuatu yang merendahkan nya.
"Aku minta maaf, aku memang tidak memiliki banyak uang, tapi aku akan mengusahakan nya."
"Sudahlah! Tidak ada gunanya," ucap Kayla langsung pergi dari kamar Fahri.
"Ada apa dengan nya? Kenapa tiba-tiba berubah seperti itu?" batin Fahri.
Keesokan paginya...
"Selamat pagi," Roi baru saja sampai di depan rumah Serli.
"Kamu sudah nungguin aku dari tadi?" tanya Roi melihat Serli yang sudah berdiri di luar sendirian.
"Enggak kok, aku baru saja keluar," ucap Serli berbohong padahal sudah dari tadi, dia sangat bersemangat sekali berangkat bersama Roi.
Roi tersenyum, dia memberikan helm kepada Serli.
"Kamu pakai ini," ucap Roi. Serli mengangguk setelah itu mereka langsung berangkat ke kantor.
"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Roi melihat tempat sarapan.
"Belum, perut ku sangat lapar."
"Masih belum telat, masih ada waktu untuk sarapan, sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu," ucap Roi.
Serli tersenyum. Mereka sarapan bersama untuk pertama kalinya tampa ada paksaan sama sekali.
Setelah selesai mereka berangkat ke kantor. "Makasih yah sudah mau numpangin aku." setelah sampai di kantor.
"Sama-sama," jawab Roi. Mereka berjalan berdua masuk ke dalam kantor.
__ADS_1
Dimas melihat nya, "Ada apa dengan mereka? Apa sekarang mereka sudah akur setelah saling ribut dan menyalah kan?" batin Dimas.