
"Bapak sadar tidak kalau Bapak sangat lah egois, bapak hanya berasumsi sendiri, melakukan sesuatu yang bapak lakukan Tampa memikirkan perasaan orang lain dan tidak membiarkan aku menjelaskan nya terlebih dahulu."
"Sekarang jelas kan apa yang ingin Kam jelaskan!"
"Kenapa Bapak menyukai wanita seperti saya? Bukan kah di luar saja banyak perempuan yang lebih dari saya?"
"Saya tidak menolak atau membenci Bapak, saya hanya ingin melihat bukti dari kata-kata bapak," ucap Bela.
Dimas menatap Bela.
"Apa itu arti nya saya memiliki kesempatan?"
Bela berdiri.
"Aku tidak tau," ucap Bela.
Dimas menatap nya bingung.
"Kamu mau kemana?" tanya Dimas.
"Aku akan kembali ke kamar bibik karena sekarang aku sudah tidak di ijinkan di sini dan aku tidak ingin membuat Bapak marah karena melihat wajah ku."
Dimas menghela nafas panjang.
"Saya minta maaf soal itu."
"Bapak istirahat lah."
Dimas menahan tangan Bela.
"Kamu mau kemana?"
"Saya mau tidur pak, ini sudah malam!"
"Tidur lah di sini, saya..."
Dimas mau mengatakan sesuatu namun tidak bisa karena malu mengakui kalau dia ingin tidur bersama Bela.
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
Dimas mengunci pintu kamar dan mengantongi kunci nya.
"Tidur lah di kasur bersama saya."
Bela menghela nafas panjang.
"Malam ini saja tidur lah bersama saya," ucap Dimas memohon.
"Saya tidak melakukan apapun, saya hanya memastikan kalau saya benar-benar mencintai kamu. Saya ingin bersama kamu."
Bela terpaksa akhirnya dia naik ke tempat tidur.
Dimas baru saja selesai mandi dia melihat Bela berbaring di tempat tidur menyamping.
"Apa kamu sudah tidur?" tanya Dimas mengintip Bela.
Bela bergeliat karena Dimas menarik kepala Bela untuk tidur di lengannya.
Bela terbangun dia menatap wajah Dimas yang juga menatap nya.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu pak?" tanya Bela.
"Tanya kan saja."
"Apa Bapak menginginkan tubuh saya." tanya Bela.
__ADS_1
Dimas terdiam sejenak.
"Aku akan memberikan nya dengan syarat setelah Bapak mendapatkan nya sebaik nya kita berhenti seperti ini."
"Seperti ini bagaimana?"
"Saya takut ikut arus, saya takut jatuh cinta kepada bapak dan setelah saya jatuh cinta Bapak meninggal kan saya."
"Justru yang saya takutkan itu adalah kamu yang akan meninggalkan saya di kemudian hari dan membiarkan saya sendiri di sini tanpa siapapun."
"Tapi Pak."
"Apa kamu menyukai saya?"
Seketika Bela langsung terdiam.
Dimas melihat bibir Bela.
"Kalau kamu tidak menyukai saya maka tolak lah, jika kamu menyukai saya jangan tolak."
Dimas memberikan waktu tiga detik namun Bela tidak berkutik. Dimas mencium bibir Bela dan Bela membalas nya dengan baik.
Dimas tersenyum menatap wajah Bela yang sudah merona karena malu.
"Saya sangat lega sekarang."
"Tapi Pak bagaimana dengan.."
"Ssttt!!! Tidak perlu memikirkan orang lain, tidak perlu memikirkan apa kata orang lain, cukup pikir kan tentang saya."
Dimas memeluk Bela. Bela diam-diam tersenyum.
"Aku tidak tau ada apa dengan ku, namun sekarang aku sangat nyaman sekali seperti ini,"
Tidak beberapa lama akhirnya mereka berdua tidur sambil berpelukan.
Dia melihat Dimas yang masih tidur di samping nya.
"Kenapa pak Dimas ganteng banget sih? Dan yang aneh nya kenapa orang yang bersama pak Dimas selalu selingkuh dan tidak betah bersama pak Dimas?" batin Bela.
"Kenapa kamu bangun begitu cepat? jangan pergi."
Dimas terbangun dan menahan Bela.
"Saya harus masak untuk sarapan Tuan."
"Nanti saja, saya ke kantor sedikit terlambat."
Bela menatap Dimas, Dimas langsung tersenyum Bela juga membalas nya dengan senyuman.
"Senyum kamu sangat manis sekali," ucap Dimas.
Bela tersenyum.
"Kamu tau, selama dua malam kamu tidur di kamar Bibik, saya sangat susah tidur namun malam ini tidur saya sangat nyenyak sekali."
"Soal malam itu saya marah, saya minta maaf sudah membuat kamu nangis."
"Bapak tau saya nangis?" Dimas mengangguk. Bela langsung menutup wajah nya sangat malu sekali.
"Saya minta maaf, dan saya tidak akan pernah marah lagi kepada kamu, kecuali kamu melakukan kesalahan."
"Tapi pada malam itu aku sangat sedih karena Bapak.."
"Ssttt!! jangan membuat saya semakin merasa bersalah Bela.
Dimas mendekati Bela mencium pipi Bela dengan singkat dan tersenyum.
__ADS_1
Bela pun keluar menyiapkan sarapan untuk semua orang.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Dimas keluar dari kamar nya dan kaget melihat Serli ada di sana.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dimas kepada Serli.
"Saya kesini mau memastikan bapak pulang ke rumah atau tidak."
Dimas diam. "Bela tidak berhenti menelpon saya menggunakan telpon rumah karena dia sangat panik Bapak tidak pulang, saya tidak tau karena saya sudah tidur."
"Maafkan saya."
"Dari mana saja bapak tadi malam? Kenapa seseorang mengatakan kalau mereka melihat bapak di Club."
"Ssttt!!! jangan kuat-kuat Serli nanti ada yang denger."
"Tidak ada yang perlu di tutupi, semua orang yang ada di rumah ini sudah tau sifat dan kebiasaan Bapak seperti apa."
Dimas melihat Bela yang senyum-senyum melihat dia di marahin oleh Serli.
"Sudah lah Serli jangan membahas itu lagi."
"Tidak bisa! Kalau bapak sakit atau semacamnya saya yang akan Susah di perusahaan!"
Dimas menghela nafas panjang.
"Baiklah saya mengakui kesalahan saya, saya tidak akan melakukan nya lagi."
"Jangan bilang tadi malam bapak bertemu dengan mbak Vivi kan?" tanya Serli.
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Lalu ini ala? kalian satu meja."
"Itu hanya kebetulan saja karena tidak hanya kamu berdua saja."
"Sudah lah pak tidak perlu memberikan alasan apapun."
"Kalau sedang mengejar wanita bapak tidak boleh dekat dengan wanita lain lagi."
"Maksud kamu?" Serli menoleh ke arah Bela seketika Dimas langsung tau.
"Jangan bilang kalau?.."
Serli langsung mengangguk sambil tersenyum dan membuat mata jahat.
"Awas saja kamu menyebar kan ini di luar sana."
"Bapak Tenang saja karena semua rahasia Bapak aman, asal."
"Cuti kamu saya berikan hari ini dan besok."
Serli sangat senang dia langsung pamit pergi untuk berbelanja.
"Apa yang Bapak bicarakan dengan baik Serli? kenapa kelihatan nya sangat senang sekali?" tanya Bela.
Dimas melihat ke arah sekitar mereka.
"Bapak mau ngapain? Jangan aneh-aneh karena di sini sangat banyak orang"
"Saya a tidak melakukan apapun kenapa kamu begitu negatif kepada saya?"
"Bapak makan lah, Makanan sudah selesai, jangan marah lagi karena Bapak yang rugi sendiri tidak mencicipi masakan ku."
"Kamu menyindir saya?"
Bela langsung pergi ke dapur meninggalkan Dimas.
__ADS_1
"Sebenarnya sangat sepi kalau Fahri tidak ada di sini, namun hari ini perhatian Bela fuls kepada ku." ucap Dimas.