
Namun Bela malah mencium singkat bibir Dimas dan tersenyum setelah nya.
Dimas terdiam. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Dimas.
Bela tidak diam dia melanjutkan mencium Dimas. Dimas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu dia membalas ciuman Bela.
"Kamu yakin?" tanya Dimas. Bela mengangguk tampa sadar tangan nya membuka jas, dasi dan kancing kemeja Dimas.
Sementara Dimas masih berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh badan Bela yang lain.
"Tahan Dimas! Kau sudah berjanji untuk terus menjaga Bela."
Bela seperti kesurupan dia membuka kemeja Dimas dan memandangi badan Dimas yang begitu bagus dan menyentuh nya.
"Jangan melakukan ini Bela, aku takut tidak bisa mengontrol diri."
Namun Bela sangat nakal.
Dia benar-benar sangat menyiksa Dimas. Dimas sudah sangat di puncak dia langsung berlari ke kamar mandi.
"Huff seperti nya Bela benar-benar sengaja membuat ku seperti ini," ucap Dimas. Cukup lama Dimas di dalam kamar mandi.
Tidak beberapa lama akhirnya dia keluar, dia melihat Bela berdiri di depan cermin sudah menukar pakaian nya dan sedang melihat kalung baru nya.
Dia menoleh ke arah Dimas yang langsung berbaring di tempat tidur. "Seperti nya malam ini aku akan menginap di sini," ucap Dimas langsung tidur.
Bela tertawa kecil melihat wajah Dimas. "Itu kan yang kamu pengen, rasain!"
Keesokan paginya...
"Selamat pagi sayang," sapa Dimas tepat di telinga Bela yang masih tidur di samping nya. Bela Bergeliat namun tidak membuka mata nya.
"Sayang, ayo bangun," ucap Dimas.
"Humm, baiklah lima menit lagi."
Dimas menatap wajah Bela, menyentuh wajah, hidung dan mencubit pipi Bela.
Akhirnya bela terbangun dia menatap wajah Dimas. "Ayo bangun."
"Hari ini hari Minggu, aku tidak ada pekerjaan apapun, kakak juga libur."
"Hari ini kita harus menjemput Tante Kayla dari bandara."
Bela terdiam sejenak dia mengusap wajah nya.
"Baiklah," ucap Bela. Dimas membantu nya turun dari tempat tidur.
"Oh iya hari ini adalah kontrol terakhir ku."
"Kamu tidak perlu khawatir, dokter nya akan datang ke sini."
__ADS_1
Bela tersenyum. Setelah selesai dari kamar mandi mereka keluar.
Bela langsung ke dapur membuat sarapan mereka bertiga, sementara Dimas masuk ke dalam kamar Vira.
"Vira... Ayo bangun."
Dimas membuka gorden kamar.
"Aku masih ngantuk Om."
"Tapi kamu harus bangun sekarang."
"Om, jangan ganggu aku, aku masih mau tidur."
"Kalau kamu tidak bangun sekarang, kamu tidak akan ikut ke bandara jemput Ante cantik hari ini."
Vira langsung bangun. "Aku ikut Om, aku tidak mau tinggal."
Dimas tersenyum dia menggendong Vira ke kamar mandi. Setelah selesai mandi mereka turun ke bawah.
Bela sudah menunggu dengan susu tiga gelas, roti dan juga buah di atas meja.
Dimas menikmati kopi nya sambil memeriksa pekerjaan. Vira juga sibuk menggambar. Karena Dimas dan Vira fokus dengan urusan masing-masing.
Dia memilih untuk bersih-bersih karena hari ini Bibik tidak datang.
Dia melihat pakaian Dimas ternyata banyak yang kotor, sepatu dan kaos kakinya sangat bau.
"Sini aku bantu," ucap Dimas. Bela tersenyum karena Dimas tiba-tiba datang membantu nya.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai, pakaian semua nya sudah terjemur.
Bela mandi karena dokter sebentar lagi akan datang.
Sementara Fahri di rumah Dimas. Dia mencari pakaian yang cocok untuk menjemput Kekasih nya.
Dia tidak sabar menjemput Kayla. Dia sudah mendapatkan nya tiga pakaian, namun dia bingung harus memakai yang mana.
Dia meminta saran kepada Bibik namun ternyata hanya dia yang ada di dalam rumah itu.
Bibik dan pelayan lainnya memutuskan untuk jalan-jalan sesekali keluar berhubung bos mereka tidak melarang.
"Bagaimana keadaan Bela dok?" tanya Dimas kepada dokter setelah selesai di periksa.
"Keadaan kaki dan juga pinggang nya sudah membaik, tapi tetap tidak boleh kecapean dan mengangkat barang yang berat."
Dimas sangat senang akhirnya Bela membaik juga.
Di siang hari nya Fahri datang menjemput Dimas, Bela dan juga Vira.
"Tumben banget Bela mau ikut," ucap Fahri. "Kak Dimas meminta ku untuk ikut, selain itu ini juga permintaan mbak Kayla, aku tidak enak kalau tidak datang."
__ADS_1
"Oohhh begitu, ya sudah kamu tidak perlu khawatir, penampilan kamu sudah pas banget pakai topi dan masker seperti ini, orang tidak akan mengenal mu."
Tidak beberapa lama Dimas datang kedalam mobil. Dimas heran karena mereka berdua mendadak diam ketika dia masuk.
Sesampainya di bandara ternyata hanya menunggu sekitar sepuluh menit Kayla sudah sampai di bandara.
"Vira...." ucap Kayla langsung memeluk Vira ketika menyadari Vira ada di sana.
Fahri seperti biasa, dia harus terlihat santai Tampa eskpresi agar tidak ada yang curiga dengan hubungan mereka.
"Kamu sudah sehat Bela?" tanya Kayla.
"Alhamdulillah udah Mbak," ucap Bela.
Mereka mencari tempat untuk duduk dan berbincang-bincang sebentar karena Dimas dan Kayla juga harus membicarakan sesuatu yang penting.
Fahri tidak berhenti memerhatikan Kayla. "Huff ternyata mencintai dan berhubungan dengan perempuan yang berbeda dengan kita sangat lah susah," ucap nya.
"Tapi ini tidak akan membuat ku menyerah, aku tetap akan bersabar karena aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai."
Bela dan Dimas memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena supir sudah menunggu mereka di luar.
Mereka tidak pulang bersama karena Kayla tidak langsung pulang melainkan harus mengurus beberapa pekerjaan nya ke perusahaan.
Setelah Dimas dan Bela pergi. Fahri memberanikan duduk di samping Kayla.
Fahri melihat ke arah sekretaris baru kayla yang sangat sangat tampan dan juga tinggi dari nya.
Fahri melihat Kayla masih sibuk membahas pekerjaan dengan sekretaris nya. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di luar.
"Kak, kenapa aku merasa ada sesuatu ada yang aneh dengan Fahri dan juga mbak Kayla."
"Maksud kamu?"
"Humm hari ini Fahri berpenampilan berlebihan sementara hanya menjemput mbak Kayla saja, dia terlihat jauh lebih bersemangat."
"Jadi kamu pikir mereka memiliki hubungan?"
"Maksud aku bukan seperti itu, hanya saja..."
"Itu adalah urusan mereka, biarkan saja."
"Kakak tidak melarang atau marah?" tanya Bela.
"Apa aku terlihat sangat pemarah sehingga kamu berfikir aku akan marah kalau mereka memiliki hubungan?"
"Bukan seperti itu kak, aku hanya takut Fahri tidak sesuai dengan mbak kayla yang jelas lebih tua dari nya."
"Umur hanya lah angka, cinta tidak pernah memandang fisik, umur, harta atau apapun itu."
"Kalau sudah saling mencintai, semua kekurangan dan kelebihan tidak menjadi masalah."
__ADS_1
Bela tersenyum dia pun mengerti.
Hari semakin sore.. Kayla akhirnya sudah bisa pulang karena pekerjaan nya sudah selesai. Fahri yang dari tadi menunggu di dalam mobil sampai ketiduran.