Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 139


__ADS_3

"Tapi itu semua tidak lah adil bagi kak Dimas, karena orang tua ku lah yang sudah membunuh kedua orang tua nya," batin Bela.


Keesokan harinya...


Bela menyiapkan pakaian untuk Dimas, namun Dimas memilih pakaian lain. Dimas memilih diam saja.


Vira yang melihat itu hanya bisa diam sambil memasang wajah heran.


Kemarin Dimas yang selalu mencari perhatian mbak nya, sekarang Bela lah yang berusaha mencari perhatian Dimas.


Dimas berangkat bekerja tidak mengatakan apapun kepada Bela.


Dimas masuk ke dalam mobil nya. "Sebenarnya aku tidak tega melakukan itu, tapi kalau bukan seperti itu dia tidak akan berfikir panjang, dia tidak akan memikirkan aku," ucap Dimas dengan kesal.


Di kantor Serli menghampiri Dimas yang duduk sendirian sambil menikmati kopi nya di lobby.


"Seperti nya cuaca hari ini sedikit mendung, tidak seperti biasanya."


Dimas menghela nafas panjang melihat Serli datang.


"Kamu tidak perlu menyindir saya," ucap Dimas. Serli menggeleng kan kepala nya.


"Siapa bilang saya menyindir Bapak? Bapak saja yang merasa."


Dimas diam saja. Serli duduk bersama Dimas. "Fahri juga terlihat sangat tidak bersemangat begitu juga dengan Bapak." ucap Serli.


"Saya mengatakan niat baik saya kepada Bela," ucap Dimas.


"Niat baik? Apa kata-kata saya semalam?" tanya Serli.


Dimas mengangguk. "Lalu bagaimana tanggapan nya?" tanya Serli.


"Bela belum ingin menikah."


Serli menghela nafas panjang. "Sudah bisa di tebak sih, karena dia masih sangat muda, dia memiliki tanggung jawab dan juga harus menyelesaikan kuliah nya dan setelah itu membersihkan nama baik keluarga nya."


"Kalau kamu sudah tau seperti itu, lalu kenapa kamu meminta saya untuk menikahi nya?"


"Karena itu adalah yang Bapak ingin kan bukan? Semua itu memang membuat Bela tidak ingin menikah, namun sebagai pria Bapak juga harus menyakinkan Bela agar percaya dan mau menikah dengan Bapak."


Dimas terdiam. "Serli benar," ucap nya.


"Hubungan bapak dengan Bela cukup sulit, namun saya yakin Bapak pasti berjodoh dengan Bela."


Dimas mengangguk. "Bapak harus terus berjuang untuk mendapatkan Bela."


Dimas tersenyum lagi. "Terimakasih dukungan kamu."


Dimas segera pergi entah kemana.


Serli menghela nafas panjang. "Mood kedua pria tampan itu sangat berpengaruh untuk cuaca hari ini," ucap Serli sambil tersenyum.


"Selamat pagi..." sapa seorang pria yang membuat Serli kaget.


"Pagi!" jawab nya.


Dia melihat Rio.

__ADS_1


"Kamu bisa gak sih datang gak tiba-tiba seperti hantu? Untung saja aku tidak terkena serangan jantung."


Rio seperti biasa akan memasang wajah dingin nya.


"Pak Dimas baru saja pergi, kalau mau mencari nya lihat saja ke lantai atas, aku mau pergi dulu."


"Saya tidak mencari pak Dimas," ucap Rio.


"Lalu? Kalau tidak urusan dengan pak Dimas, kita tidak ada urusan."


"Sangat sombong sekali! Cepat tanda tangani surat ini."


"Surat apa ini?"


"Pak Dimas memiliki pekerjaan mendesak, kamu sebagai pengganti nya."


Serli membaca nya terlebih dahulu. "Huff apa lagi ini? Perasaan pekerjaan kemarin belum selesai," ucap Serli.


"Jangan banyak tanya, kamu juga mendapatkan keuntungan banyak kalau penelitian ini berhasil."


"Iyah-iyah," Serli langsung tanda tangan.


Setelah selesai Rio mau pergi namun di tahan oleh Serli.


"Tunggu dulu,"


"Ada apa?"


"Kamu tidak ada kegiatan apa-apa lagi kan? Aku butuh bantuan kamu."


"Hari ini aku harus mengantarkan beberapa berkas-berkas keluar kota, apa kamu tega membiarkan aku pergi sendirian?"


"Jangan aneh-aneh deh Serli, sangat banyak supir, sangat banyak staf lain yang bisa kamu suruh."


Serli menghela nafas panjang. Dia melihat Rio pergi.


"Ihhhh!!! Dasar Pria Kulkas! Bisa-bisa nya dia mengabaikan ku setelah aku sudah membantu nya."


Serli sudah lama memiliki rasa suka kepada Rio, hanya saja Rio sangat dingin sehingga terkadang membuat nya kesal.


Tidak jarang Serli mencari perhatian namun Rio bukan lah pria yang perduli dia Pria yang sangat dingin, dan sangat Sibuk.


Di rumah Bela...


"Sangat bosan di rumah. Yana kapan yah sampai di sini?" ucap Bela.


Dia melihat Bibik di dapur sedang masak.


"Non Bela, kenapa berdiri di sana? Ayo ke sini Non kalau mau lihat, sekalian juga bantu Bibik mencicipi nya."


Bela tersenyum dia berjalan ke dapur.


"Saya sangat senang melihat non Bela sudah lumayan sehat sekarang."


Bela tersenyum. "Saya tidak tau bagaimana kalau tidak ada tuan Dimas yang menjaga Non Bela, mungkin sampai sekarang non masih berbaring di rumah sakit dan juga mengalami trauma."


Bela terdiam sejenak dia lanjut tersenyum.

__ADS_1


Tidak beberapa lama Bibik berangkat mengantar kan makanan ke kantor polisi.


"Yang di katakan Bibik benar banget. Aku tidak tau setrauma apa aku setelah kejadian itu, namun kak Dimas berhasil membuat aku sembuh dan melewati hal itu."


"Apa sebaiknya aku menikah saja? Tapi..."


"Ah aku tidak boleh berubah pikiran, aku benar-benar harus menyelesaikan kuliah ku, fokus sama diri sendiri dan juga Vira terlebih dahulu."


"Untung sementara aku harus bisa membicarakan hal ini kepada kak Dimas," batin Bela.


Di sore hari...


"Fahri kamu bisa pulang duluan, saya masih ada urusan."


"Mau kemana pak? saya bisa menemani Bapak."


"Ke Club."


"Ngapain pak? Bagaimana kalau Bela marah?"


"Biarkan saja, dia tidak akan perduli kepada saya."


"Humm apa saya boleh ikut pak?"


"Apa kamu tau caranya minum?"


Fahri menggeleng kan kepala nya. "Huff, bersama Tante saya kamu harus ahli dalam minum alkohol karena Tante saya sangat suka pria yang pintar minum."


"Maksudnya pak?"


"Tidak perlu pura-pura kaget seperti itu, saya tau kamu sama Tante saya ada hubungan."


Fahri terdiam sejenak. "Jujur Saja."


"Saya minta maaf Pak."


"Kenapa harus minta maaf? Justru saya senang karena ada pria yang akan menjaga nya."


"Apa Bapak tidak marah?"


"Saya marah, tapi bukan saat nya membahas itu, saya sedang pusing sebaiknya kita pergi."


"Kalau boleh tau bapak tau dari mana?" tanya Fahri setelah sudah di dalam mobil.


"Saya tidak sengaja membuka laptop kamu dan melihat foto-foto Kalian."


Fahri sangat malu sekali, dia tau foto yang di simpan di laptop nya cukup menjelaskan hubungan mereka yang sudah sangat dekat itu.


"Tidak perlu canggung, itu semua adalah hal wajar."


Fahri sedikit lega karena Dimas tidak marah, dia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi, ternyata semua nya tidak semenakutkan itu.


Tiba di club teman Dimas. Ternyata sudah banyak teman nya yang menunggu mereka berdua di sana.


Dimas tidak lupa mengundang Rio datang ke sana.


Serli juga di undang oleh Dimas, Serli baru saja kembali dari luar kota yang tidak jauh dari kota mereka. Dia pun langsung menyusul ke sana.

__ADS_1


__ADS_2