Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 112


__ADS_3

"pacar siapa dulu dong?" ucap Fahrii.


"Oh iya, jangan sampai Dimas tau hubungan kita," ucap Kayla. Fahri sudah tau apa alasan nya dia juga tidak ingin bos nya itu tau kalau dia sudah memacari Tante dari bos nya itu.


"Humm sebaiknya aku keluar dulu, aku takut pak Dimas mencari ku."


Kayla menahan Fahri. "Kamu pengawal ku, tidak ada salahnya kamu Di sini bersama ku," ucap Kayla.


Fahri tersenyum, dia mendekati wajah kayla dan mengangkat nya ke kasur.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Kayla.


"Sebaiknya Mbak istirahat, ini sudah malam, aku harus lanjut bekerja," ucap Fahri langsung keluar dari kamar itu.


"Fahri! Fahri!"


Kayla sangat kesal karena di tinggal begitu saja, dia sudah sangat berharga bisa berduaan dengan Fahri namun ternyata Fahri malah meninggalkan dia.


"Awas aja kamu yah Fahri!" ucap Kayla dengan sangat kesal. Bibik melihat Fahri keluar dari kamar Kayla.


Sementara Dimas sangat gerah melihat postingan terbaru kekasih nya.


Postingan foto Bela bersama beberapa teman perempuan dan juga laki-laki. Dan Bela duduk di sebelah Kevin dan mereka cukup dekat sekali sehingga menimbulkan rasa cemburu.


Dimas menghela nafas panjang sambil memegang dagu nya, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan.


Dia menelpon Bela namun tidak di jawab. Malam ini dia tidak bisa tidur dengan tenang.


Keesokan harinya Bela menunggu Dimas di sekolah Vira setelah Vira pulang sekolah, tidak beberapa lama mobil BMW parkir di depan mereka.


"Masuk!" ucap Dimas dengan nada yang sangat dingin membuat Bela bertanya-tanya kebingungan.


"Kita mau kemana? kenapa kakak memaksa ku menunggu di sini?" tanya Bela.


Dimas tidak mengatakan apapun, dia melajukan mobil nya sampai pada akhirnya di hotel.


"Ngapain kita ke sini kak?" tanya Bela. Dimas tetap diam dia menggendong Vira dan naik ke lantai paling atas.


Bela baru tau ternyata di atas sana ada restoran.


Namun heran nya tidak ada orang lain selain mereka di sana.


Bela melihat ke bawah dan pemandangan dari atas sana dari pinggir pembatas.


"Wahh bagus banget," ucap Bela.


Sebelum nya dia sudah memesan makanan.


Dia melihat Dimas yang duduk diam sambil memasang wajah datar.


"Kamu main di sini dulu yah, mbak ngomong sebentar sama om Dimas."

__ADS_1


"Ada apa kak? Apa aku melakukan kesalahan membuat kakak diam seperti ini?" tanya Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Terus kenapa kakak diam seperti ini? Tidak mungkin kakak diam kalau tidak ada yang salah."


"Coba kamu pikirkan saja terlebih dahulu," ucap Dimas.


Bela menghela nafas panjang dia memikirkan apa yang sudah terjadi.


Dia mengingat tadi malam, dia juga melihat panggilan beberapa kali dari Dimas tidak di jawab oleh nya.


"Aku minta maaf soal tadi malam, dia tempat itu sangat berisik sekali aku tidak mendengar nya, di tambah lagi tadi malam kami membahas pelajaran.".


"Membahas pelajaran tapi kenapa kamu harus duduk sangat dekat dengan Kevin?" tanya Dimas.


Bela langsung tau di mana permasalahan nya.


"Oohh soal itu, aku tidak sengaja dan yang di foto tidak seperti kenyataan kok, aslinya kami tidak duduk sedekat itu."


Dimas menghela nafas.


"Baiklah aku salah, tapi aku sudah bilang kalau kami hanya berteman saja," ucap Bela.


"Kebanyakan orang di dunia ini lebih banyak teman dulu baru pacar," ucap Dimas.


Bela tidak tau caranya membujuk Dimas, akhirnya dia memilih untuk diam dan lanjut makan. Selesai Makan mereka masih mengikat pemandangan dari atas sana.


"Kenapa Om Dimas diam aja sih?" tanya Vira.


Bela mengajak Dimas foto namun Dimas tidak mau, Bela melakukan seribu cara untuk membujuk Dimas namun percuma Saja.


Karena sudah bosan akhirnya mereka memilih untuk pulang ke apartemen Bela.


Namum sebelum pulang Vira mengajak Dimas membeli mainan baru. Dimas tidak menolak dia membawa Vira masuk ke dalam toko mainan sementara Bela menunggu di dalam mobil.


"Kenapa mereka sangat lama sekali?" tanya Bela karena sudah satu jam menunggu.


"Huff aku rasa mereka memborong banyak mainan lagi," ucap Bela.


Tidak beberapa lama Dimas dan Vira keluar dan benar saja mereka membeli banyak mainan.


"Ya ampun Vira, kenapa kamu membeli begitu banyak mainan? Mainan kamu di rumah sangat banyak."


"Sudah biarkan saja, untuk apa mbak nya memiliki pacar kaya raya kalau hanya mainan murah tidak bisa di beli."


"Bukan seperti itu, apartemen ku sangat kecil, semua nya akan berantakan."


"Kalau begitu saya akan mencari rumah untuk Kalian."


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu," ucap Bela.

__ADS_1


"Saya bukan anak kuliahan yang tidak bisa memberikan apapun yang kamu mau, saya bisa memberikan apapun."


Bela tau siapa yang di maksud oleh Dimas, namun dia sudah tau kalau Dimas orang yang sangat posesif jadi dia memilih untuk diam saja.


"Ini untuk kamu," ucap Dimas memberikan mainan musik kepada Bela.


"Ini untuk apa? aku bukan anak kecil," Ucap Bela.


"Ambil saja," ucap Dimas.


"Kakak tidak kembali bekerja lagi?" tanya Bela.


"Tidak, saya ingin ke apartemen kamu.. Sebagai permintaan maaf mu, kamu harus Memasak makanan kesukaan saya."


"Dimsum kah?" tanya Bela.


Dimas menatap Bela dengan tatapan dingin.


Bela langsung minta maaf. "Maaf, aku tidak bermaksud mengingat kan nya, aku tau kalau masakan ku tidak akan bisa menyaingi masakan Orang tua kakak."


"Sudah lama saya tidak makan dimsum buatan kamu, saya ingin kamu masak yang banyak, saya juga ingin membawa nya pulang untuk Tante Kayla."


"Serius?" tanya Bela.


Dimas mengangguk. Akhirnya mereka langsung pulang.


Bela membuat cemilan dan susu hangat untuk Dimas terlebih dahulu.


Dimas menemani Vira yang sedang sibuk bermain.


Bela juga sibuk di dapur memasak apa yang di mau oleh dimas.


Dari ruang tamu Dimas melihat Bela masak dengan sangat bahagia.


Dia semakin tidak sabar ingin memakan dimsum buatan Bela.


Beberapa jam kemudian akhirnya jadi, Bela meminta Dimas mencicipi nya dan ternyata sangat enak, Dimas sangat suka Bela juga sangat bahagia sekali.


Dimas dan Vira makan di ruang tv sambil menonton, sementara Bela menyiapkan di dalam bekal di bawa pulang oleh Dimas.


"Kalau mbak Kayla tidak suka bagaimana?" tanya Bela kepada Dimas sambil memberikan Bekal itu.


"Tidak mungkin dia tidak suka, ini sangat enak sekali."


"Jadi kakak sudah memaafkan aku?" tanya Bela.


Dimas menatap Bela.


"Saya tidak bisa marah lama-lama sama kamu, tapi saya tetap tidak suka kamu dekat-dekat dengan pria itu."


"Tapi kalau bukan dia yang menemani aku di kampus aku pasti kesepian," ucap Bela.

__ADS_1


__ADS_2