Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 44


__ADS_3

"Saya marah ketika saya cemburu."


Bela menggeleng kan kepala nya dia tidak tau apa yang harus dia katakan, dia sangat kaget.


"Sekarang katakan langsung kamu menyukai saya atau tidak."


"Pak.."


Melihat ekspresi Bela, Dimas sudah tau kalau dia akan di tolak.


"Saya tidak ingin mendengar penolakan kamu, mulai malam ini kamu tidur di kamar lain saja." ucap Dimas langsung masuk ke kamar mandi.


Bela terdiam cukup lama di kamar


Namun setelah Dimas keluar dari kamar dia tidak melihat Bela di kamar nya lagi.


Dia juga tidak melihat selimut dan bantal Bela di kamar nya.


Dimas menghela nafas panjang, dia bahkan sangat bingung dengan diri nya sendiri yang sangat mudah marah kalau sedang cemburu.


Pagi hari nya..


"Pak, sarapan dulu." ucap Bela saat Dimas mau pergi keluar.


Dia berhenti sejenak. "Saya akan sarapan di kantor."


Bela menghela nafas panjang dia melihat Dimas pergi begitu saja.


"Kenapa pak Dimas memakai pakaian yang sudah kecil kepada nya?" batin Bela karena pagi ini Bela tidak di ijinkan masuk untuk menyiapkan pakaian Dimas.


"Bela ada apa dengan Tuan?" tanya temen nya.


Bela menggeleng kan kepala nya.


"Aku juga tidak tau."


"Mungkin pak Dimas sedang ada masalah." ucap Bibik.


Sesampainya di kantor seperti biasa Tami si anak magang akan mengantar kan surat-surat untuk di tandatangani Dimas.


"Permisi pak."


"Masuk saja!"


Tami melihat Dimas yang terlihat sangat lesu sekali."


"Apa bapak belum sarapan? Kalau belum saya akan membeli kan sarapan."


"Tidak perlu, suruh saja Serli."


Tami mengangguk dan keluar mencari Serli.


Di siang hari nya Dimas sedang makan siang bersama Fahri dia memerhatikan Fahri.


"Fahri lembut, ramah, baik dan sangat tampan, wajar saja jika Bela menyukai Fahri tidak sama seperti ku."


"Dari tadi Bapak menatap saya, ada apa pak?" tanya Fahri.


Dimas menatap Fahri dengan sangat serius.


"Bagaimana cara kamu mendekati wanita?" tanya Dimas membuat Fahri kaget.


"Kenapa bapak bertanya seperti itu kepada saya? Bapak tau sendiri Kalau saya tidak pernah pacaran."

__ADS_1


"Oh iya." Dimas bingung harus bertanya kepada siapa.


"Fahri hanya bersifat terbuka, ramah dan membantu Bela sudah di sukai, sebaik nya aku juga meniru seperti itu," batin Dimas.


"Tapi... Bela tidak menyukai saya, bagaimana Saya melakukan hal seperti itu?" ucap Dimas bingung.


Fahri kebingungan melihat Dimas yang sangat aneh hari ini.


"Bela kamu kenapa tidur di kamar Bibik? bagaimana kalau Tuan Marah?" tanya Bibik.


"Enggak kok bik, aku sudah ijin, biarkan aku tidur di sini yah bik." ucap Bela.


"Kamu yakin sudah di ijinkan?"


Bela mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu kamu boleh tidur di sini." Bela sangat senang sekali.


Dia naik ke tempat tidur merapikan tempat tidur.


"Ini sudah jam delapan malam, namun Tuan belum pulang, kira-kira tuan Kemana yah?"


"Sudah lah bik biarkan saja bik, kita istirahat saja." ucap Bela.


Bibik sudah sangat lelah dia pun tidur. Bela berusaha untuk tidur namun tidak bisa dia tidak bisa melupakan kata-kata Dimas tadi malam.


Bela keluar dari kamar dan duduk di kursi meja makan. Namun dia baru sadar ternyata Dimas belum pulang.


"Kenapa pintu Belum ada yang ngunci? apa pak Dimas belum pulang?"


Bela melihat ke depan ternyata mobil Dimas juga belum ada di depan rumah.


"Sudah dua malam ini pak Dimas pulang larut malam, apa karena aku dia tidak mau pulang?"


Bela menghela nafas.


Keesokan paginya Bela kaget karena sofa di kamar tempat dia tidur biasanya di keluarin.


"Loh kok di keluarin?" tanya Bela.


"Ini perintah dari Tuan Dimas mbak."


"Mau di kemanain?"


"Katanya suruh bakar Mbak."


Bela kaget mendengar Sofa baru itu akan di bakar.


"Sekarang pak Dimas di mana? Kenapa dia tidak pulang?" tanya Bela.


"Kami juga tidak tau mbak."


Mereka membawa sofa itu keluar.


"Saya mohon jangan di bakar, saya akan berbicara dengan pak Dimas sebentar."


Mereka tidak mau, mereka segera membawa keluar dan membakar nya.


Bela sangat sedih melihat barang itu di bakar begitu saja.


"Seperti nya pak Dimas benar-benar marah," batin Bela.


Di sore hari nya Dimas baru saja pulang dia melihat Bela yang sudah menunggu nya.

__ADS_1


"Pak kita perlu bicara."


"Tidak ada yang perlu di bicarakan, anggap saja semua nya tidak ada yang terjadi!" ucap Dimas langsung naik ke atas.


Bela mengikuti nya ke kamar.


"Keluar dari kamar saya! Saya tidak ingin melihat kamu."


"Ada apa dengan Bapak? Kenapa setelah Bapak mengakui Bapak menyukai saya, Bapak malah membenci saya seperti ini?" tanya Bela.


Dimas diam saja.


"Apa ini cara bapak menyukai seseorang? apa ini cara bapak memperlakukan wanita yang bapak suka?" tanya Bela.


Dimas menatap Bela.


"Bukan kah kamu membenci saya? Kamu lebih menyukai Fahri dari pada saya, jadi untuk apa lagi saya berharap kepada kamu?"


Bela terdiam dia tidak tau harus apa.


"Jadi bapak menyerah dan tidak ingin tau bagaimana balasan perasaan Bapak?" tanya Bela.


Dimas tidak menjawab nya.


"Baiklah kalau begitu, saya juga minta maaf karena sudah mengganggu Bapak. Anggap saja semua nya tidak terjadi."


Bela mau pergi tiba-tiba Dimas menahan tangan Bela.


Bela berhenti dia menoleh ke arah Dinas.


"Saya tidak tau harus mengatakan apa, tapi saya mohon jangan marah kepada saya," ucap Dimas.


"Saya menyukai kamu, jadi lah kekasih saya," ucap Dimas.


"Kenapa bapak menyukai saya?" tanya Bela.


Dimas menggeleng kan kepala nya.


"Saya tidak tau, namun saya menyadari perasaan saya ketika saya melihat kamu bersama Fahri, saya merasa sangat cemburu."


"Tapi saya hanya..."


"Lupakan tentang itu."


Tiba-tiba Dimas menarik tangan Bela dan mendorong nya ke tempat tidur.


"Kamu harus tanggung jawab kepada saya karena sudah membuat saya menjadi kacau tiga hari ini, saya tidak bisa pulang karena tidak ingin melihat kamu."


"Pak.."


"Saya tidak perduli dengan jawaban kamu, namun kamu adalah milik saya dan tetap milik saya sampai kapan pun," ucap Dimas.


"Pak sadar pak, lepaskan saya."


"Jangan lupa yah walaupun kamu menolak saya, tapi kamu tetap menjadi milik saya."


"Lepas kan saya pak!"


Dimas di dorong oleh Bela.


"Bapak sadar tidak kalau Bapak sangat lah egois, bapak hanya berasumsi sendiri, melakukan sesuatu yang bapak lakukan Tampa memikirkan perasaan orang lain dan tidak membiarkan aku menjelaskan nya terlebih dahulu."


"Sekarang jelas kan apa yang ingin Kam jelaskan!"

__ADS_1


"Kenapa Bapak menyukai wanita seperti saya? Bukan kah di luar saja banyak perempuan yang lebih dari saya?"


"Saya tidak menolak atau membenci Bapak, saya hanya ingin melihat bukti dari kata-kata bapak," ucap Bela.


__ADS_2