Menikah Dengan Pria Yang Kejam

Menikah Dengan Pria Yang Kejam
Episode 72


__ADS_3

"Sekarang kediaman Pak Irfan sudah kita dapat kan, kita butuh memeriksa Cctv sebelum nya untuk mencari bukti yang lebih tinggi agar kasus ini segera selesai."


"Baiklah saya akan menjemput nya ke rumah terlebih dahulu." Rio dan Dimas keluar dari ruangan itu.


"Pak bagaimana dengan ini pak? bagaimana saya harus menanganinya?" tanya Serli.


"Kamu urus saja Serli, saya akan segera kembali."


Dimas dan Rio sudah sampai di rumah, Dimas masuk ke kamar terburu-buru sampai Bibik terkejut.


Dimas membuka laci nya dan mencari Cctv dan barang-barang bukti yang sudah bertahun-tahun dia simpan namun semua nya sudah tidak ada lagi, tidak ada satu pun tersisa di sana."


"Kenapa tidak ada di sini?" Dimas menggeledah semua nya.


Dia mencari di semua Laci yang ada di dalam kamar nya, di lipatan kain atau di ruangan kerjanya namun sama sekali tidak ada dia semakin panik karena tidak menemukan bukti itu.


"Tuan sedang mencari apa?" tanya Bibik yang melihat Dimas dari tadi mondar-mandir. Dimas awalnya tidak menjawab nya karena dia sudah tidak bisa berfikir dengan jernih.


Semua tempat sudah di cari namun tidak menemukan nya sama sekali.


"Tuan mencari apa? Saya bisa membantu barang kali saya melihat nya." ucap Bibik.


"Bik, apa Bibik melihat kotak kecil dari laci di samping tempat tidur saya?" tanya Dimas.


"Kotak kecil? Saya tidak pernah melihat kotak kecil Tuan, di tambah lagi saya tidak pernah berani membuka laci di kamar tuan."


Dimas menghela nafas panjang.


"Bela di mana?" tanya Dimas karena dari tadi dia tidak melihat Bela.


"Loh bukannya dia mengantarkan makan siang untuk Tuan?" tanya Bela.


"Makan siang? saya tidak bertemu sama sekali dengan nya di kantor."


"Mungkin tuan berpapasan di jalan."


Dimas langsung menghubungi Bela, namun nomor Bela sama sekali tidak aktif.


"Kemana dia? Kenapa dia tidak menjawab telpon ku?" Dimas langsung menghubungi ke kantor barang kali Bela kehabisan baterai handphone nya.


Namun ternyata Bela sama sekali tidak ke kantor melainkan hanya supir yang datang mengantar kan makan siang Dimas.

__ADS_1


"Pak, apa sudah dapat?" Rio masuk ke dalam melihat Dimas yang sedang berbicara dengan Bibik.


Dimas menggeleng kan kepala nya. "Saya mungkin lupa meletakkan nya, saya akan mencoba mengingat nya lagi."


Mendengar itu Rio seketika langsung terdiam, bingung harus mengatakan apa namun ada rasa kesal di wajah nya karena dia mempercayai Dimas untuk menjaga bukti itu.


"Kalau seperti ini bagaimana kalau kita mencari kebenaran yang sesungguhnya pak? apa saya harus menghabiskan waktu saya untuk mengurus kasus ini?" tanya Rio.


"Sabar pak, saya akan membantu mencari." ucap Bibik karena dia tau apa yang mereka cari itu adalah bukti pembunuhan orang tua Dimas.


Bibik membantu menggeledah kamar Dimas namun sama sekali tidak ada, semua orang turut ikut untuk membantu nya.


"Bagaimana?" tanya Dimas. Semua nya menggeleng kan kepala nya.


"Apa sebaiknya kita melihat Cctv saja Tuan? Karena tidak mungkin pelayan di sini yang mengambil nya karena tidak penting bagi mereka." ucap Bibik karena Dimas curiga kepada mereka semua.


Dimas dan Rio langsung memeriksa Cctv yang ada di depan pintu kamar.


Berusaha memutar kembali Cctv beberapa hari lalu namun tidak ada tanda-tanda orang lain masuk ke kamar nya selain pelayan, Bela dan Dimas.


Namun rekaman kemarin Bela keluar terlihat sangat mencurigakan karena membawa keranjang yang penuh dengan kain namun sambil mengendap-endap dan membawa kain itu keluar.


Melihat itu semua orang sangat kecewa, mereka tidak bisa mengatakan apapun selain menghela nafas panjang.


Dimas memegang kepala nya yang sangat pusing sekali.


"Bagaimana ini Tuan?" tanya Bibik, semua orang sangat pusing dan tidak bisa berkata-kata, mereka mau marah kepada Bela namun Bela adalah kekasih Dimas.


"Saya sudah mengatakan kalau Bela pasti tidak bisa di percaya pak, semua nya sudah terlanjur seperti ini karena kelalaian Bapak."


"Maksud kamu apa? Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Dimas kepada.


"Saya sudah muak dengan semua ini," ucap Rio dan langsung pergi meninggalkan Dimas.


Kayla melihat mereka ribut. Dia kebingungan orang seperti Rio bisa marah dan kesal kepada bos nya sendiri.


"Ada apa?" tanya Kayla.


Semua orang keluar ketika Kayla masuk ke ruangan itu.


Kayla duduk di depan Dimas.

__ADS_1


"Coba jelaskan apa yang terjadi sebenarnya."


Dimas menggelengkan kepala nya, dia seperti tidak bisa menjawab semua nya untuk sekarang.


"Apa kamu awal nya tidak berfikir kalau Bela sedikit berbeda dari biasanya?" tanya Kayla.


"Aku awal nya tidak berfikir seperti ini, aku tidak tau harus apa sekarang." ucap Dimas sambil menahan air mata nya.


"Kamu sungguh bodoh Dimas, hanya karena cinta mata kamu buta sehingga tidak sadar kalau orang yang kamu cintai akan menusuk kamu dari belakang." ucap Kayla.


Dimas terlihat sangat prustasi.


"Sudah berapa kali Tante bilang agar kamu berhenti mencari tau tentang kasus ini, semua nya sekarang berakhir sia-sia." ucap Kayla.


"Dan sekarang Rio sudah sangat marah, bisa jadi saja dia tidak mau membantu kamu lagi, dia juga pasti sudah sangat muak dengan semua ini."


Di tempat lain Rio duduk di dalam mobil nya dia tidak bisa berfikir jernih sekarang, dia sangat emosi.


Sebenarnya dia sangat tidak menerima hubungan bos nya dengan anak yang di duga pembunuh itu, namun dia tidak bisa melarang nya.


"Aku sudah tidak tau harus mengatakan apa lagi untuk sekarang." ucap Rio.


Di tempat lain Bela menunggu di loby hotel yang terlihat sangat sepi sekali.


Dia duduk sendiri menunggu kedatangan ayahnya.


Bela sudah sangat tidak sabar bertemu dengan ayahnya dan juga Adik nya karena dia sangat merindukan mereka.


Namun sudah berjam-jam dia tidak juga melihat ayah nya datang, dia bertanya kepada pengawal yang menjemput nya tadi.


"Pak, Apa Ayah saya masih lama datang nya?" tanya Bela.


"Pak Irfan masih memiliki pekerjaan di luar kota, mungkin bukan beliau yang datang ke sini melainkan asisten nya."


"Asisten? bukan nya Ayah saya yang janji mau datang menjemput saya ke sini?" tanya Bela.


Tidak ada jawaban, namun tiba-tiba asisten yang di bilang pengawal itu sudah datang, wanita cantik dan sangat seksi sekali.


"Apa kamu membawa apa yang di minta oleh pak Irfan?" tanya wanita itu dengan nada yang sedikit tidak enak.


Bela sangat Heran kenapa mereka semua tidak ada yang sopan karena dia adalah anak dari bos mereka.

__ADS_1


__ADS_2