
"Hanya 120 juta Bu."
"Kalau begitu berikan itu semua untuk menjadi mahar nya."
"Ya ampun, Fahri memiliki uang yang sangat banyak seperti itu dari mana? Jangan-jangan itu adalah uang tabungan nya selama bekerja dengan Dimas?" batin Kayla.
Di rumah Bela. Seperti biasa di hari libur Bela akan sibuk bersih-bersih. sementara Dimas dan Vira pergi keluar untuk beli sesuatu untuk di makan sekalian jalan-jalan.
Baru saja selesai bersih-bersih Yana menghubungi Bela.
"Halo Yana?"
"Bela.. apa kamu sedang sibuk? Aku butuh kamu sekarang."
"Aku baru saja selesai bersih-bersih."
"Aku tunggu kamu di tempat biasa kita nongkrong."
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Vira dengan kak Dimas."
"Bela, apa kamu tega membiarkan aku seperti ini sendirian?"
"Baiklah-baiklah aku akan ke sana," ucap Bela.
Telpon pun langsung mati.
Bela langsung siap-siap, tidak beberapa lama akhirnya Dimas dan Vira pulang. "Sayang kamu mau kemana?" tanya Dimas melihat Bela sudah rapi.
Bela ijin kalau dia mau menemui Yana di luar yang sudah menunggu nya. Dia juga menjelaskan kenapa Yana menunggu nya di sana.
Belum di ijinkan namun dia pergi langsung.
"Huhh!! Benar-benar kamu Bela, ini hari minggu seharusnya kita menghabiskan waktu berdua, tapi kenapa kamu malah memilih pergi bersama teman-teman mu?"
"Mbak Yana sedang patah hati Om, sebagai teman mbak Bela harus menemani nya," ucap Vira.
Dimas Menatap Vira. "Kamu setuju tidak kalau kita mengikuti mbak Bela hari ini?"
"Bagaimana kalau mbak Bela tau dan marah?"
"Kita nyamar saja, lagian di rumah kita mau ngapain?" ucap Dimas.
Vira setuju apa saja yang di katakan oleh Dimas, namanya juga sudah jatuh hati dan mau nya ikut dengan Dimas saja.
Akhirnya mereka berangkat ke Cafe yang di katakan oleh Bela sebelumnya.
"Ya Allah Yana... Bagaimana bisa kamu minum alkohol di tempat seperti ini sendirian?" tanya Bela.
"Aku sangat sedih, aku benar-benar kehilangan dia," ucap Yana.
"Hufff sebelum nya kamu bilang kalau kamu hanya main-main saja dengan pria yang lebih tua dari mu, nyata nya sekarang kamu malah gagal move on."
"Dia sangat baik, dia juga tulus banget, tapi aku malah mengecewakan dia, akhirnya dia memilih wanita lain."
"Sudah lah, masih banyak pria di luar sana yang mau sama kamu."
"Aku sudah mencintai dia, aku hanya mau dia saja."
__ADS_1
"Kalau begitu kamu hubungi saja dia dan minta maaf, setelah itu baikan lagi."
"Tidak semudah itu Bela, aku tidak mau menurunkan harga diri ku."
Dimas dan Vira sampai. Mereka memakai kaca mata dan duduk di meja yang cukup jauh dari mereka.
Mereka berfikir Bela tidak menyadari kedatangan mereka berdua, namun Bela berpura-pura tidak tau saja.
"Seperti nya kelakuan mereka sudah hampir sama, bisa-bisa nya malah mengikuti aku ke sini," batin Bela.
"Kenapa kamu diam aja? Apa kamu tidak ada solusi untuk ku?"
"Kamu mau aku melakukan apa?" tanya Bela. "Aku mau kamu menemui nya dan mengatakan aku merindukan dia."
"Jangan gila deh, lagian aku tidak begitu dekat dengan nya."
"Ambil lah ini," ucap Yana memberikan kertas. Bela membuka nya dan melihat ada nomor telepon, alamat.
"Kamu bisa mendatangi dia."
"Jangan bodoh deh Yana, mana mungkin aku menemui dia."
"Aku mohon... aku mohon...." ucap Yana.
Bela tidak bisa mengatakan apapun selain pasrah.
Bela keluar dari Cafe itu. "Apa yang kalian lakukan? Jangan berfikir aku tidak tau," ucap Bela.
Dimas dan Vira Yuniar yang mengendap-endap akhirnya ketahuan juga.
"Apa kalian berdua sama sekali tidak mengerti dan sabar apa yang aku katakan?"
"Om Dimas yang ngajak mbak."
"Kamu diam! Seharusnya kamu tidak menginyakan apa saja kata om Dimas."
"Jangan memarahi nya, ini salah ku."
"Aku juga marah kepada kakak!"
Dimas menunduk kan kepala nya.
"Kami minta maaf."
Bela memberikan surat kepada Dimas.
"Antar kan aku ke sini, aku harus membujuk Pria ini agar kembali berpacaran dengan Yana."
Dimas langsung menginyakan. "Aku akan mengantar kan kamu."
Bela sangat heran kenapa Dimas sangat bersemangat dan membuka kan pintu mobil untuk Bela.
"Apa yang kamu tunggu?" tanya Dimas sambil memasang kan sabuk pengaman Bela.
"Sudah hampir tiga jam kamu tidak mencium ku, mobil tidak akan jalan kalau tidak ada ciuman."
Bela menghela nafas panjang. Dimas menutup mata Vira dan mencium Bela.
__ADS_1
Setelah itu mobil meninggalkan Cafe.
Hari libur mereka cukup menyenangkan karena rencananya tidak ada keluar namun sekarang mereka keluar menikmati angin dengan mobil mewah Dimas yang bisa di buka atap nya.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Sesampainya di sana pria itu kaget melihat Bela di depan rumah.
Bela mengatakan baik-baik apa maksud nya, namun pria itu Tampak tidak mau berbaikan.
Dimas tiba-tiba muncul. "Pak Dimas."
"kenapa kamu tega membiarkan seorang wanita menangis dan bersedih?" tanya Dimas.
"Maksudnya Pak?"
"Tidak perlu berpura-pura!"
"Bukan saya yang memutuskan hubungan pak, Yana yang ingin putus."
"Lalu? Apa kamu berfikir dia mau minta maaf? Dia adalah perempuan yang tidak pernah mau salah, kalau kamu mau mencintai nya segera bicarakan semua nya baik-baik."
Dia sudah sangat malu orang lain apalagi orang seperti Dimas tau masalah nya. Akhirnya dia menginyakan dan segera menyusul Yana.
"Wahhh Kakak hebat banget, dia langsung menyusul Yana," ucap Bela.
"Kamu kelihatan nya senang banget," ucap Dimas.
"Yana sudah banyak membantu ku, kapan lagi aku bisa membalas kebaikan nya," ucap Bela.
"Humm itu artinya kamu juga akan membalas kebaikan ku," ucap Dimas.
Bela menatap Dimas. "Jadi kamu membantu ku tidak ikhlas? Kalau begitu sebaiknya jangan," ucap Bela.
"Eh bukan gitu sayang."
Bela menghela nafas panjang.
"Katakan apa yang kakak ingin kan, setelah ini aku tidak akan minta tolong lagi."
Dimas memasang wajah lesu. "Katakan apa yang kakak mau!"
"Aku mau hadiah dari kamu."
"Hadiah apa?" tanya Bela. Dia mengingat beberapa hari lagi Dimas ulang tahun.
"Tampa kakak minta aku akan menyiapkan nya, yang lain saja," ucap Bela.
"Aku ingin pelukan," ucap Dimas. "Di sini?" tanya Bela karena di parkiran luar.
Dimas mengangguk. Bela langsung memeluk nya dan Dimas membalas nya sangat tulus.
"Aku sangat takut ketika kita salah paham dan tidak ada orang yang membantu kita dalam permasalahan kita, jadi aku harap ketika ada masalah kita bicarakan baik-baik," ucap Dimas.
Bela mengangguk. "Baiklah kak," Bela tersenyum.
"Yahh malah pelukan, ayo pergi dari sini Mbak," ucap Vira.
Mau promosi sedikit gak apa-apa kan? Mampir dong di karya baru ku yang berjudul "Wanita Malam melahirkan anak seorang Mafia."
__ADS_1