
"Aku benar-benar tulus, dan aku ingin mengenal kamu lebih jauh lagi, dan aku ingin bertemu dengan keluarga kamu, aku juga akan mempertemukan kamu kepada keluarga ku."
"Apa kamu tidak mau menerima perasaan ku? Apa kamu tidak mau memberikan aku kesempatan?"
"Tapi aku takut kamu hanya main-main saja, aku tidak yakin kamu memiliki perasaan kepada aku."
"Kalau begitu kamu terima aku, dan aku akan menunjukkan nya."
Serli menggeleng kan kepala nya. "Kamu harus menunjukkan nya terlebih dahulu, aku akan memikirkan nya."
Roi menghela nafas panjang. "Baik lah kalau begitu. Aku akan akan memenangkan hati kamu."
"Ini sudah jam berapa?" tanya Serli.
"Sudah jam enam sore."
"Aku harus pulang sekarang."
Namun Roi menahan tangan Serli. "Tidak bisa! Kamu harus menemani aku sebentar nongkrong."
"Aku tidak mau!"
"Kalau kamu tidak mau, aku akan melakukan hal yang tidak kamu inginkan," ucap Roi mengancam serli mendorong nya ke kasur dan menindih nya.
"Jangan! baiklah kalau begitu aku ikut, tapi tidak bisa lama-lama."
Roi tersenyum. "Nah gitu dong, jadi anak yang baik tidak ada salahnya," ucap Roi.
Keesokan harinya...
Dimas dan Bela bangun lebih pagi untuk memberangkatkan Vira ke sekolah.
Dimas mengantarkan nya jalan kaki sebelum berangkat ke kantor.
"Kamu sudah Sd sekarang sayang, pokoknya kamu harus rajin belajar, ikut apa kata guru dan juga tidak boleh jahat sama teman-teman."
"Iyah om, kalau begitu aku masuk dulu yah Om," ucap Vira.
Dimas mengangguk. "Wahh ternyata ada Papah muda di sini, senang deh bisa bertemu dengan orang tampan," ucap ibu-ibu yang juga sedang mengantar kan anak-anak nya.
Dimas menyapa mereka semua dengan baik, setelah itu dia berjalan kaki juga pulang ke rumah.
"Bagaimana kak? apa Vira sangat senang? Apa dia ketakutan?" tanya Bela.
"Dia anak yang pintar, mana mungkin dia ketakutan hanya karena sekolah baru, dia pasti sangat mudah meradaptasi.
"Kalau begitu kakak sebaiknya siap-siap ke kantor, aku sudah menyiapkan pakaian kakak, aku juga sudah membuat sarapan."
"Apa hari ini kamu ke kampus?" tanya Dimas. Bela menggeleng kan kepala nya.
"Enggak kak, seperti nya aku lebih nyaman kuliah online."
__ADS_1
"Oohh ya sudah tidak apa-apa, jangan memaksa kan kalau kamu benar-benar belum bisa."
Setelah beberapa lama akhirnya Dimas pergi ke kantor.
Bela memilih untuk belajar di rumah. Setelah beberapa lama akhirnya jam pertama selesai. Tiba-tiba ada yang memencet bel rumah.
"Loh Kevin, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Bela. "Ayo silahkan masuk ke dalam," ucap Bela.
"Aku mau memastikan keadaan kamu baik-baik saja kan?" tanya Kevin.
"Aku baik-baik saja Kevin, kamu sendiri tidak ke kampus?" tanya Bela.
"Hari ini aku tidak masuk, aku ada urusan mendadak di dekat sini."
"Oohhhh begitu," ucap Bela.
"Jadi kapan kamu akan menikah dengan pak Dimas? Apa sudah ada titik terang nya?" tanya Kevin.
"Aku harus jawab apa ini?" batin Bela.
"Masih belum di bicara kan tanggal nya, tapi secepatnya," ucap Bela.
"Oohh, semoga lancar yah, oh iya ini aku bawa makanan untuk kamu dan Vira."
"Terimakasih banyak kevin, kamu jadi repot-repot banget sih."
"Dari tadi Vira tidak kelihatan, di mana dia?" tanya Kevin.
"Ya ampun, dia sudah besar saja yah, apa boleh aku datang ke sekolah nya menjemput dia?"
"Boleh-boleh aja sih, Tapi aku tidak mau merepotkan kamu."
"Sama sekali tidak merasa di repotkan kok," ucap Kevin.
"Yakin gak apa-apa?" tanya Bela. Kevin mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu, kamu bisa menjemput dia, mungkin beberapa menit lagi sudah keluar."
Kevin dengan sangat senang hati mau menjemput Vira.
Sudah jam waktu Vira pulang, Dimas menghubungi Bela.
"Halo sayang, apa kamu sudah menjemput Vira, kasian dia kalau menunggu lama."
"Humm sudah ada Kevin yang menjemput dia," ucap Bela.
"Kevin datang ke rumah kamu?" tanya Dimas.
"Jangan salah paham kak, dia datang ke sini mau menanyakan keadaan ku dan juga mau bertemu dengan Vira."
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus segera pulang kalau seperti ini."
__ADS_1
"Aku sudah bilang tidak ada urusan lain selain itu kak."
Dimas menghela nafas panjang. "Itu anak seperti nya tidak mau menjauhi kamu walaupun dia sudah tau kamu mau menikah dengan ku," ucap Dimas.
"Tidak seperti itu kak, dia hanya perduli kepada ku karena aku adalah teman nya."
"Aku yakin dia hanya mau mengejar kamu saja, dia masih menyukai kamu, dan berharap kalau kamu menyukai dia dan kalian bersama," ucap Dimas.
"Terserah kakak saja deh mau ngomong apa, aku juga tidak bisa menghentikan Kevin."
"Ya sudah kalau begitu, aku mau menjawab tapi dari Tante Kayla, seperti nya penting sehingga dia tidak berhenti menelpon ku data tadi."
"Iyah kak, semangat kerja nya," ucap Bela. Dimas tersenyum.
"Halo Tante?"
"Dimas kamu di mana sekarang?" tanya kayla.
"Di kantor seperti biasa, ada apa? Kenapa kedengarannya Tante panik?"
"Sekarang kita harus kembali ke rumah, jangan sampai Nenek sama kakek tau kita tidak tidur di rumah."
"Kakek dan nenek?"
"Iyah Dimas, mereka sudah dalam perjalanan ke rumah kamu sekarang."
"Loh emang nya Tante di mana sekarang?"
"Kamu tidak perlu tau, sekarang kamu harus pulang," ucap Kayla.
"Aku tidak bisa pulang Tante, aku lagi di kantor."
Kayla menghela nafas panjang. "Ya sudah kalau begitu, sebaik nya kamu mengusahakan segera pulang, aku akan pulang ke rumah terlebih dahulu.
Dimas terdiam sejenak. "Nenek dan kakek ngapain ke sini? Kenapa mereka tidak bilang mau ke sini?" tanya Dimas.
Dimas menghubungi Tante kedua nya, mereka juga tidak tau alasan orang tua mereka memaksa kan diri datang ke rumah Dimas.
Kayla merapikan semua barang-barang nya dari rumah Fahri dan segera pulang ke rumah Keponakan nya itu.
"Semua yang! Jangan ada yang bilang kalau saya dengan Dimas jarang pulang dan tidur di rumah ini kepada nenek dan Kakek," ucap Kayla kepada para pelayan.
"Baik non," ucap mereka dengan sangat kompak.
"Ada apa yah mamah sama papah ke sini? Tidak biasanya, aku sangat penasaran dan aku tidak berhenti memikirkan ini."
"Apa ada sangkut pautnya dengan bela dan Dimas, tapi bukan kah mereka sangat membenci bela, tidak mungkin datang ke sini hanya karena itu."
"Ah sudahlah, sebaiknya aku membantu menyiapkan penyambutan untuk mereka."
Dimas meninggal kan kantor setelah pekerjaan penting nya selesai.
__ADS_1
Dia menemui Bela, dia ingin membawa Bela menyambut Nenek dan Kakek nya.