
"Perempuan ini siapa? Kok seperti nya tidak asing?" tanya Perempuan itu.
"Ini adalah Serli, dia adalah sekertaris di perusahan pak Dimas."
"Oohhhh, akhirnya kita bisa bertemu lagi, senang bisa bertemu dengan mu lagi," ucap perempuan itu. Serli hanya mengangguk.
Setelah perempuan itu pergi Roi bertanya kepada Serli naik Apa pulang nya.
Namun Serli tidak menjawab nya, dia langsung pergi meninggalkan Roi.
Roi hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap Serli yang sudah dia tau dari dulu.
"Nyebelin! Nyebelin! kalau dia akan membuat ku seperti ini, aku tidak akan menyukai nya, aku benci kamu Roi!"
Serli melampiaskan emosi nya di dalam mobil sambil berteriak sekeras mungkin.
Di apartemen Fahri. Fahri sedang merapikan tempat tidur, tidak beberapa lama Kayla keluar dari kamar mandi.
Fahri melihat pakaian nya lumayan besar kepada Kayla. "Kenapa kamu tertawa?" tanya Kayla.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menertawakan kamu, hanya saja kamu sangat lucu memakai itu."
"Apa aku sangat lucu?" tanya kayla. Fahri mengangguk sambil tersenyum. "Sangat lucu sekali sehingga aku ingin mencubit kamu."
Kayla tersenyum. "Tidur lah," ucap Fahri sambil membuka selimut untuk Kayla.
Kayla mengangguk. Setelah Kayla berbaring dia bertanya mau Kemana Fahri kenapa tidak ikut berbaring dengan nya. Namun ternyata Fahri ada pekerjaan yang harus di selesaikan malam itu juga.
Keesokan paginya...
Bela terbiasa bangun pagi, dia melihat ternyata rumah besar itu Masih sangat sepi dia melihat hanya ada dua pelayan yang baru saja bangun.
"Non Bela," sapa mereka.
"Apa semua orang belum pada bangun Bik?" tanya Bela.
"Belum non, tadi malam ada acara kecil-kecilan membuat mereka bergadang."
Bela melihat rumah sangat berantakan. "Loh non mau ngapain? sudah tidak perlu non, biarkan kami saja."
Tidak beberapa lama nenek bangun.
Dia melihat Bela membantu para pelayan di dapur.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya nenek kepada Bela membuat Bela sangat kaget.
"Humm aku, aku sedang..."
"Tidak perlu melakukan apapun di rumah ini, saya tidak percaya sama kamu."
__ADS_1
Bela terdiam sejenak, dia melihat Tante kedua Dimas datang.
"Selamat pagi nek, ada apa nek?"
"Siapa yang mengijinkan perempuan ini masuk ke dapur dan menyentuh barang-barang di rumah ini? Kenapa tidak mengusir nya?"
"Nek, ini masih pagi sebaiknya Nenek duduk di depan, aku akan membuat teh untuk Nenek."
"Jangan biarkan perempuan itu di rumah ini!"
Tante Dimas membawa orang tua nya ke depan. Tidak beberapa lama dia kembali melihat Bela yang diam.
"Sudah tidak apa-apa, orang tua kami memang seperti itu, maklum lah namanya sudah tua."
Bela melihat dari kemarin hanya Tante kedua Dimas yang bisa menerima nya.
"Kamu tidak perlu ambil hati apa yang di katakan oleh Nenek dan kakek, sekarang kamu lanjut kan saja apa yang mau kamu lakukan."
"Apa aku boleh membuat teh untuk Nenek dan kakek?"
"Boleh, tidak ada yang melarang, lakukan saja."
Bela tersenyum sambil mengangguk. Bela mau mengantar kan ke depan.
Dimas baru saja bangun bersama Vira.
Semua mata tertuju kepada Dimas yang menggendong Vira.
"Ada apa Paman?" tanya Dimas kepada semua orang yang melihat nya.
Vira melihat anak-anak dari Tante nya Dimas.
Mereka semua laki-laki. Melihat Vira mereka sangat senang dan langsung mengajak nya bermain.
"Nek, Kakek, ini teh nya."
"Siapa yang menyuruh mu mengantarkan ini?" tanya Kakek marah.
Dimas dan semua orang langsung ke depan karena mendengar suara gelas pecah.
"Ada apa kek?" tanya Dimas.
"Kenapa perempuan ini masih di sin?" tanya Kakek.
"Aku hanya mau membuat kopi untuk Kakek dan nenek."
"Tidak perlu berpura-pura baik-baik seperti itu, kamu pasti mau meracuni saya dengan istri saya dan semua orang yang ada di rumah ini kan?"
"Tidak kek," ucap Bela. Dimas tidak bisa membiarkan terus dia membawa Bela.
__ADS_1
Di kamar Bela menangis sambil melihat ke arah kaki nya yang di obati oleh Dimas.
"Sangat sakit...." ucap Bela. Dimas meniup nya dan berusaha pelan-pelan.
"Kalau kamu tidak tahan, kita bisa langsung pulang, kamu tidak perlu memaksakan diri seperti ini."
Bela menggeleng kan kepala nya. "Tidak apa-apa, aku akan berusaha sedikit lagi agar semua nya selesai."
"Tapi kalau seperti ini, aku tidak tega. Keluarga ku sangat jahat kepada kamu."
Bela menghapus air mata nya, "Setelah kakak yang bilang semua nya baik-baik saja, sekarang kakak yang menyerah."
"Sayang... tidak seharusnya kamu seperti ini," ucap Dimas mengelus tangan Bela.
"Vira di mana kak?" tanya Bela. "Dia sedang bermain dengan anak-anak di bawah.. Mereka sangat menyukai Vira dan Vira juga sangat senang berteman dengan mereka."
"Bagaimana dengan orang tua mereka?"
Dimas menggeleng kan kepala nya.
"Ini semua salah ku, seharusnya aku tidak melanjutkan kasus itu, semua imbas nya kepada kamu," ucap Dimas.
"Enggak kak, ini tidak ada salah kakak, ini semua nya harus di lalui dan aku akan melewati nya."
"Aku akan mencoba beberapa hari, kalau pada akhirnya aku menyerah berarti tidak ada kesempatan untuk kita menikah.
Dimas langsung sangat sedih, dia tidak bisa menutupi rasa sedih nya sehingga dia menyandarkan kepala di paha Bela.
"Nenek... Kakek... Kenapa melakukan hal seperti itu kepada Bela? Dia berniat baik kepada kalian," ucap Tante kedua Dimas.
"Kamu jangan mencoba untuk membela anak pembunuh itu," ucap Nenek.
"Apa kalian tidak bisa melihat Bela anak yang baik, dia tidak ada berniat jahat sama sekali."
"Apa kamu akan tertipu dengan wajah polos nya itu? Kami tidak akan tertipu seperti kamu," ucap Nenek.
"Mah, aku minta maaf sudah ikut campur, hanya saja Dimas sudah memilih Bela, apa Mamah sama Papah tidak mau memberikan kesempatan kepada Bela dan Dimas?"
"Kesempatan apa? kalau di berikan kesempatan, dia membunuh Dimas, apa kamu bisa bertanggung jawab?"
"Tapi aku yakin Bela adalah perempuan yang baik."
"Sudah lah, kamu tidak perlu ikut campur, kamu akan tau rasanya anak kamu di bunuh oleh orang lain, dan cucu mu sendiri menikah dengan anak pembunuh itu rasanya pasti sangat sakit."
"Aku paham mah, aku tau, tapi apakah mamah tau kalau Bela tidak tau tentang itu, dia tidak mengerti, dia tidak ikut campur, itu adalah kesalahan orang tua nya."
"Kalau begitu, mamah tidak mau berbesan dengan pembunuh anak Mamah sendiri."
Dia sudah sangat sulit berbicara kepada orang tua nya, akhirnya dia memilih untuk menyerah dan pergi dari sana.
__ADS_1